Komunitas Kasepuhan Cipta Mulya

Leuit, lumbung padi tradisional khas Kasepuhan disirna rasa, Kabupaten Sukabumi

Komunitas Kasepuhan Cipta Mulya

Oleh Jhon Toni Tarihoran

KASEPUHAN Cipta Mulya berada di Cibongbong, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kasepuhan Cipta Mulya adalah komunitas adat suku Sunda yang masih memelihara kebiasaan-kebiasaan atau tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Kebiasaan-kebiasaan tersebut masih sangat kental dalam kehidupan masyarakat Kasepuhan tersebut. Mereka masih tetap mempertahankan sistem nilai, dan norma yang diwariskan para leluhurnya.

Dalam kehidupan sehari-hari komunitas Cipta Mulya sangat berpegang kepada prinsip-prinsip yang juga diwariskan para leluhur mereka. Baik dalam hal pertanian untuk memenuhi kebutuha hidup mereka ataupun dalam hubungan atau interaksi sosial antara yang satu dengan yang lainnya, atau antara keluarga yang satu dengan keluarga lainnya. Demikian juga mereka mempunyai prinsip atau filosofi tentang hubungan mereka dengan alam ataupun tanah. Komunitas Kasepuhan Cipta Mulya memiliki kebiasaan mengadakan upacara-upacara ritual yang secara rutin serta turun temurun dilakukan.

Interaksi Sosial

Komunitas Kasepuhan Cipta Mulya adalah masyarakat yang tergolong lembut dan santun. Dalam kehidupannya bermasyarakat masih tetap mempertahankan sikap saling tolong menolong. Hal ini ditunjukkan dalam hal membantu orang-orang yang kurang mampu khususnya dalam mendirikan rumah. Masyarakat biasanya berkumpul untuk membantu mendirikan rumah panggung bagi masyarakat yang kurang mampu tanpa harus diberikan upah. Mereka juga bersedia memberikan makanan bagi orang yang sangat membutuhkan yaitu berupa beras. Bagi masyarakat pendatang, komunitas Kasepuhan Cipta Mulya memperlakukannya sama dengan masyarakat setempat. Mereka menganggap masyarakat pendatang yang tinggal di daerahnya sebagai bagian daripada masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya sepanjang masyarakat pendatang tersebut mengikuti kebiasaan-kebiasaan mereka.


Mata Pencaharian

Mata pencaharian masayarakat Kasepuhan Cipta Mulya adalah rata-rata bekerja sebagai petani di sawah dan ladang. Dari pertanian mereka yang paling utama adalah  padi, yang mereka sebut sebagai Dewi Sri. Selain menanam padi, mereka juga menanam tanaman sayuran, cabai, tomat, pisang, dan tanaman lainnya. Mereka memandang padi sebagai suatu hal yang sangat berharga sehingga disebut Dewi Sri. Oleh karena padi merupakan tanaman yang sangat diagungkan maka dalam proses penanaman sampai tiba saatnya untuk panen, mereka melaksanakan suatu acara khusus atau ritual untuk menghargainya. Ada beberapa ritual yang dilakukan sebagai bentuk penghargaan kepada padi yang telah memberikan hidup bagi warganya. Bahkan ada aturan khusus yang tidak memperbolehkan menjual padi, beras ataupun nasi kecuali dalam keadaan terdesak ataupun terpaksa serta kalau hasil panennya sangat melimpah. Jika aturan tersebut dilanggar maka dipercaya akan mendatangkan suatu masalah bagi yang melanggar atau disebut masyarakat kualat. Untuk tempat menyimpan padi hasil panen, masyarakat mendirikan lumbung atau yang mereka namakan leuit, hal ini dilakukan sebagai antisipasi gagal panen. Sehingga ada banyak lumbung yang ditempatkan di sekitar rumah ataupun ladang. Lumbung ini juga menjadi suatu pemandangan yang menarik karena bentuknya yang unik dan dibuat rapi dan teratur, terbuat dari kayu, untuk dingding terbuat dari bambu, sedangkan atapnya terbuat dari daun kiray dan ijuk. Lumbung atau leuit merupakan lambang kesejahteraan dan kehidupan masyarakat.

Upacara/Ritual

Dalam proses menanam padi, masyarakat melaksanaan ritual di antaranya adalah ritual Seren taun. Upacara ini dilakukan untuk menyampaikan syukur kepada yang Kuasa  yang telah memberkati pekerjaan masyarakat dengan memberikan hasil khususnya dalam hal menanam padi. Secara turun temurun masyarakat kasepuhan Cipta Mulya telah menjungjung tinggi nilai-nilai adat dalam setiap awal dan akhir proses menanam padi. Oleh karenanya masyarakat selalu melakukan upacara-upacara yan bertujuan untuk mengucap syukur dan untuk mengevaluasi hal-hal yang sudah dan yang akan dilakukan ke depan. Untuk memulai menanam padi maka ada beberapa hal yang harus dilakukan mulai dari mempersiapkan lahan yang akan diolah sampai akhirnya panen. Demikian juga setiap kegiatan harus disertai dengan upacara-upacara, yaitu :

Mempersiapkan lahan tanaman

Upacara mempersiapkan lahan untuk penanaman padi yang dilakukan biasanya menebang pohon dalam lahan, membakar serta membersihkan lahan yang akan dijadikan ladang. Sama halnya dengan ladang, sebelum menanam padi di sawah, yang dilakukan adalah membersihkan dan meratakan sawah dengan mencangkul, demikian juga sampai mempersiapkan bibit yang akan ditanam.

Menanam Padi

Penanaman padi tidak boleh dilakukan sendiri-sendiri tetapi akan dilakukan setelah adanya petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh pemangku adat atau imam tani. Saat yang tepat untuk menanam pada yaitu pada saat kerti sudah muncul, dan ini hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu saja secara turun temurun. Apabila kerti sudah muncul artinya musim tanam sudah tiba. Musim tanam pertama dilakukan oleh imam tani kemudian diikuti oleh masyarakat kasepuhan Cipta Mulya secara keseluruhan. Ritual tanam padi dinamakan cari tangesek, pada kesempatan ini mereka berkumpul bersama, untuk memanjatkan doa dan makan bersama.

Seren Taun

Upacara Seren taun selalu dilakukan oleh Kasepuhan Cipta Mulya, bukan hanya sekedar acara seremonial saja. Tetapi ritual ini dilakukan dengan arti yang sangat khusus. Seren taun dilakukan sebagai wujud syukur atas hasil panen yang sudah didapat selama satu tahun. Seren taun juga disebut sebagai tutup tahun atau akhir tahun atau pesta panen.  Perayaan upacara Seren taun  juga dilakukan guna untuk mengevaluasi yang sudah dilakukan selama satu tahun serta menerawang pada masa yang akan datang tentang apa yang harus dilakukan. Pada upacara Seren taun masyarakat menyimpan padi hasil panen di leuit atau lumbung yang sudah disediakan. Upacara ini disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh masyarakat kasepuhan. Ibu-ibu mempersiapkan berbagai jenis makanan untuk acara tersebut yang dilakukan secara bersama atau beramai-ramai.

Upacara bulan Purnama

Masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya setiap tanggal 14 melaksanakan upacara atau ritual yang mereka sebut upacara bulan Purnama. Mereka berkumpul dan memanjatkan doa untuk meminta berkat dari leluhur.  Pada setiap pelaksanaan acara Bulan Purnama mereka juga mengisi acara tersebut dengan acara-acara hiburan.

Hubungan Manusia dengan Alam

Kasepuhan Cipta Mulya memiliki prinsip yang diwariskan secara turun temurun dalam memperlakukan alam ataupun tanah yaitu Lamping awian, legok balongan, lebak sawahan, datar imahan, yang berarti tebing harus ditanami bambu, lembah dijadikan kolam, tanah datar dijadikan sawah, dan di tanah yang datar didirikan rumah.

Dengan prinsip tersebut komunitas Kasepuhan Cipta Mulya sangat memperhatikan keadaan tanah untuk dijadikan tempat berdirinya rumah ataupun untuk lahan pertanian. Sehingga dapat menjaga keselarasan antara alam ataupun tanah dengan cara mereka mempertahankan hidup melalui pengelolaannya terhadap lingkungan. Dalam menjaga kelestarian lingkungan Kasepuhan Cipta Mulya juga mewarisi prinsip lewang garapan, titipan, tutupan. Dimana melalui prinsip ini masyarakat harus memperhatikan  hutan yang diperbolehkan untuk digarap sebagai lahan pertanian, dan juga hutan ataupun tempat titipan yang yang tidak boleh digarap serta diganggu melainkan harus dipelihara. Karena dipercaya apabila dilanggar akan mendatangkan bencara.

Penerapan Hukum Adat

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya mematuhi hukum adat yang sudah diwariskan secara turun temurun kepada mereka. Dan terkadang mereka lebih mementingkan peraturan adat daripada peraturan lainnya. Hukum adat atau peraturan tersebut di antaranya: adanya waktu khusus untuk menggiling padi. Jika aturan ini dilanggar maka kualat atau adanya suatu musibah bagi yang melanggarnya. Bagi masyarakat kasepuhan tidak terlalu sering melanggar hukum adat mereka. Kalaupun ada pelanggaran biasanya juga dinasehati dan apabila terulang kembali maka pelakunya kemungkinan disumpahi.