Tampilkan postingan dengan label Kasepuhan Adat Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasepuhan Adat Banten. Tampilkan semua postingan

Wisata Kampung Adat Atau Kasepuhan Adat CIptagelar


Bulan Mei sampai dengan akhir Agustus merupakan bulan yang sangat pas untuk melakukan kegiatan Traveling, Hiking atau Backpaking. Pas dalam hal waktu dan pas pula dalam keuangannya. Saya sendiri memilih ketiganya traveling, hiking dan backpaking jadi satu paket, tetapi persoalannya adakah tempat  yang pas dari paket tersebut untuk bisa di kunjungi? Jawabanya tentu saja banyak, mau tempat murah atau mahal, mau jauh atau dekat tergantung kemampuan kita melakukan riset dan menggesek ATM betul!!!. Tetapi bagi saya cukup berkunjung ke Kampung Adat Ciptagelar saja sudah jadi satu paket traveling, hiking dan backpaking murah meriah walaupun aslinya kesana berkendara naik motor. Saya meyakini jika banyak orang-orang sudah tahu keberadaan Kampung Adat Ciptagelar ini, tetapi kalo ditanya sudah pernah kesana atau belum pernah itu sudah lain soal. Saya pribadi sangat merekomendasikan ini tempat sebagai salah satu destinasi wisata budaya dan adat paforit (baca : Favorit), apalagi bila kalian ngaku orang USA ( Urang Sunda Asli ) yang belum tahu tempat ini malu pisan euy (sambil tunjuk hidung), karena orang USA aslinya mah sudah sering berkunjung ke Kampung adat Ciptagelar.
Bagi kalian Travelunter yang berniat akan mendatangi Kampung Adat Ciptagelar, supaya kalian tidak bingung mengenai hal apa saja yang perlu di persiapkan atau yang bertanya apakah ada syarat tertentu untuk bisa datang ke Kampung Ciptagelar tersebut, nah saya dengan baik hati dan tidak sombong hihihi.. berbagi tips serta membahas sekilas mengenai Kampung Adat Ciptagelar ini.

Seni Debus Dari Kasepuhan Sinar Resmi

Sumber gambar dedisuhendra.com

Seni Debus Dari Kasepuhan Sinar Resmi - Debus merupakan kesenian bela diri dari Banten yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa. Misalnya kebal senjata tajam, kebal air keras dan lain- lain.
Kesenian ini berawal pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570). Pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa (1651—1692) Debus menjadi sebuah alat untuk memompa semangat juang rakyat banten melawan penjajah Belanda pada masa itu. Kesenian Debus saat ini merupakan kombinasi antara seni tari dan suara.
Kesenian Debus yang sering dipertontonkan di antaranya:

  • Menusuk perut dengan tombak atau senjata tajam lainnya tanpa terluka.
  • Mengiris bagian anggota tubuh dengan pisau atau golok.
  • Memakan api.
  • Menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya hingga tebus tanpa mengeluarkan darah.
  • Menyiram tubuh dengan air keras hingga pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulit tetap utuh.
  • Menggoreng telur di atas kepala.
  • Membakar tubuh dengan api.
  • Menaiki atau menduduki susunan golok tajam.
  • Bergulingan di atas serpihan kaca atau beling.

Debus dalam bahasa Arab berarti tongkat besi dengan ujung runcing berhulu bundar. Bagi sebagian masyarakat awam kesenian Debus memang terbilang sangat ekstrim. Pada masa sekarang Debus sebagai seni beladiri yang banyak dipertontonkan untuk acara kebudayaan ataupun upacara adat.

Sejarah
Debus lebih dikenal sebagai kesenian asli masyarakat Banten, yang mungkin berkembang sejak abad ke-18. Menurut sebagian banyak sumber sejarah, kesenian debus Banten bermula pada abad 16 masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570) Debus mulai dikenal pada masyarakat Banten sebagai salah satu cara penyebaran agama Islam. Namun ada juga yang menyebutkan Debus berasal dari daerah Timur Tengah bernama Al-Madad yang diperkenalkan ke daerah Banten ini sebagai salah satu cara penyebaran Islam pada waktu itu. Yang lainnya menyebutkan bahwa debus berasal dari tarekat Rifa’iyah Nuruddin al-Raniri yang masuk ke Banten oleh para pengawal Cut Nyak Dien (1848—1908).

Sumber: id.wikipedia

Komunitas Kasepuhan Cipta Mulya

Leuit, lumbung padi tradisional khas Kasepuhan disirna rasa, Kabupaten Sukabumi

Komunitas Kasepuhan Cipta Mulya

Oleh Jhon Toni Tarihoran

KASEPUHAN Cipta Mulya berada di Cibongbong, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kasepuhan Cipta Mulya adalah komunitas adat suku Sunda yang masih memelihara kebiasaan-kebiasaan atau tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Kebiasaan-kebiasaan tersebut masih sangat kental dalam kehidupan masyarakat Kasepuhan tersebut. Mereka masih tetap mempertahankan sistem nilai, dan norma yang diwariskan para leluhurnya.

Dalam kehidupan sehari-hari komunitas Cipta Mulya sangat berpegang kepada prinsip-prinsip yang juga diwariskan para leluhur mereka. Baik dalam hal pertanian untuk memenuhi kebutuha hidup mereka ataupun dalam hubungan atau interaksi sosial antara yang satu dengan yang lainnya, atau antara keluarga yang satu dengan keluarga lainnya. Demikian juga mereka mempunyai prinsip atau filosofi tentang hubungan mereka dengan alam ataupun tanah. Komunitas Kasepuhan Cipta Mulya memiliki kebiasaan mengadakan upacara-upacara ritual yang secara rutin serta turun temurun dilakukan.

Interaksi Sosial

Komunitas Kasepuhan Cipta Mulya adalah masyarakat yang tergolong lembut dan santun. Dalam kehidupannya bermasyarakat masih tetap mempertahankan sikap saling tolong menolong. Hal ini ditunjukkan dalam hal membantu orang-orang yang kurang mampu khususnya dalam mendirikan rumah. Masyarakat biasanya berkumpul untuk membantu mendirikan rumah panggung bagi masyarakat yang kurang mampu tanpa harus diberikan upah. Mereka juga bersedia memberikan makanan bagi orang yang sangat membutuhkan yaitu berupa beras. Bagi masyarakat pendatang, komunitas Kasepuhan Cipta Mulya memperlakukannya sama dengan masyarakat setempat. Mereka menganggap masyarakat pendatang yang tinggal di daerahnya sebagai bagian daripada masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya sepanjang masyarakat pendatang tersebut mengikuti kebiasaan-kebiasaan mereka.


Mata Pencaharian

Mata pencaharian masayarakat Kasepuhan Cipta Mulya adalah rata-rata bekerja sebagai petani di sawah dan ladang. Dari pertanian mereka yang paling utama adalah  padi, yang mereka sebut sebagai Dewi Sri. Selain menanam padi, mereka juga menanam tanaman sayuran, cabai, tomat, pisang, dan tanaman lainnya. Mereka memandang padi sebagai suatu hal yang sangat berharga sehingga disebut Dewi Sri. Oleh karena padi merupakan tanaman yang sangat diagungkan maka dalam proses penanaman sampai tiba saatnya untuk panen, mereka melaksanakan suatu acara khusus atau ritual untuk menghargainya. Ada beberapa ritual yang dilakukan sebagai bentuk penghargaan kepada padi yang telah memberikan hidup bagi warganya. Bahkan ada aturan khusus yang tidak memperbolehkan menjual padi, beras ataupun nasi kecuali dalam keadaan terdesak ataupun terpaksa serta kalau hasil panennya sangat melimpah. Jika aturan tersebut dilanggar maka dipercaya akan mendatangkan suatu masalah bagi yang melanggar atau disebut masyarakat kualat. Untuk tempat menyimpan padi hasil panen, masyarakat mendirikan lumbung atau yang mereka namakan leuit, hal ini dilakukan sebagai antisipasi gagal panen. Sehingga ada banyak lumbung yang ditempatkan di sekitar rumah ataupun ladang. Lumbung ini juga menjadi suatu pemandangan yang menarik karena bentuknya yang unik dan dibuat rapi dan teratur, terbuat dari kayu, untuk dingding terbuat dari bambu, sedangkan atapnya terbuat dari daun kiray dan ijuk. Lumbung atau leuit merupakan lambang kesejahteraan dan kehidupan masyarakat.

Upacara/Ritual

Dalam proses menanam padi, masyarakat melaksanaan ritual di antaranya adalah ritual Seren taun. Upacara ini dilakukan untuk menyampaikan syukur kepada yang Kuasa  yang telah memberkati pekerjaan masyarakat dengan memberikan hasil khususnya dalam hal menanam padi. Secara turun temurun masyarakat kasepuhan Cipta Mulya telah menjungjung tinggi nilai-nilai adat dalam setiap awal dan akhir proses menanam padi. Oleh karenanya masyarakat selalu melakukan upacara-upacara yan bertujuan untuk mengucap syukur dan untuk mengevaluasi hal-hal yang sudah dan yang akan dilakukan ke depan. Untuk memulai menanam padi maka ada beberapa hal yang harus dilakukan mulai dari mempersiapkan lahan yang akan diolah sampai akhirnya panen. Demikian juga setiap kegiatan harus disertai dengan upacara-upacara, yaitu :

Mempersiapkan lahan tanaman

Upacara mempersiapkan lahan untuk penanaman padi yang dilakukan biasanya menebang pohon dalam lahan, membakar serta membersihkan lahan yang akan dijadikan ladang. Sama halnya dengan ladang, sebelum menanam padi di sawah, yang dilakukan adalah membersihkan dan meratakan sawah dengan mencangkul, demikian juga sampai mempersiapkan bibit yang akan ditanam.

Menanam Padi

Penanaman padi tidak boleh dilakukan sendiri-sendiri tetapi akan dilakukan setelah adanya petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh pemangku adat atau imam tani. Saat yang tepat untuk menanam pada yaitu pada saat kerti sudah muncul, dan ini hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu saja secara turun temurun. Apabila kerti sudah muncul artinya musim tanam sudah tiba. Musim tanam pertama dilakukan oleh imam tani kemudian diikuti oleh masyarakat kasepuhan Cipta Mulya secara keseluruhan. Ritual tanam padi dinamakan cari tangesek, pada kesempatan ini mereka berkumpul bersama, untuk memanjatkan doa dan makan bersama.

Seren Taun

Upacara Seren taun selalu dilakukan oleh Kasepuhan Cipta Mulya, bukan hanya sekedar acara seremonial saja. Tetapi ritual ini dilakukan dengan arti yang sangat khusus. Seren taun dilakukan sebagai wujud syukur atas hasil panen yang sudah didapat selama satu tahun. Seren taun juga disebut sebagai tutup tahun atau akhir tahun atau pesta panen.  Perayaan upacara Seren taun  juga dilakukan guna untuk mengevaluasi yang sudah dilakukan selama satu tahun serta menerawang pada masa yang akan datang tentang apa yang harus dilakukan. Pada upacara Seren taun masyarakat menyimpan padi hasil panen di leuit atau lumbung yang sudah disediakan. Upacara ini disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh masyarakat kasepuhan. Ibu-ibu mempersiapkan berbagai jenis makanan untuk acara tersebut yang dilakukan secara bersama atau beramai-ramai.

Upacara bulan Purnama

Masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya setiap tanggal 14 melaksanakan upacara atau ritual yang mereka sebut upacara bulan Purnama. Mereka berkumpul dan memanjatkan doa untuk meminta berkat dari leluhur.  Pada setiap pelaksanaan acara Bulan Purnama mereka juga mengisi acara tersebut dengan acara-acara hiburan.

Hubungan Manusia dengan Alam

Kasepuhan Cipta Mulya memiliki prinsip yang diwariskan secara turun temurun dalam memperlakukan alam ataupun tanah yaitu Lamping awian, legok balongan, lebak sawahan, datar imahan, yang berarti tebing harus ditanami bambu, lembah dijadikan kolam, tanah datar dijadikan sawah, dan di tanah yang datar didirikan rumah.

Dengan prinsip tersebut komunitas Kasepuhan Cipta Mulya sangat memperhatikan keadaan tanah untuk dijadikan tempat berdirinya rumah ataupun untuk lahan pertanian. Sehingga dapat menjaga keselarasan antara alam ataupun tanah dengan cara mereka mempertahankan hidup melalui pengelolaannya terhadap lingkungan. Dalam menjaga kelestarian lingkungan Kasepuhan Cipta Mulya juga mewarisi prinsip lewang garapan, titipan, tutupan. Dimana melalui prinsip ini masyarakat harus memperhatikan  hutan yang diperbolehkan untuk digarap sebagai lahan pertanian, dan juga hutan ataupun tempat titipan yang yang tidak boleh digarap serta diganggu melainkan harus dipelihara. Karena dipercaya apabila dilanggar akan mendatangkan bencara.

Penerapan Hukum Adat

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya mematuhi hukum adat yang sudah diwariskan secara turun temurun kepada mereka. Dan terkadang mereka lebih mementingkan peraturan adat daripada peraturan lainnya. Hukum adat atau peraturan tersebut di antaranya: adanya waktu khusus untuk menggiling padi. Jika aturan ini dilanggar maka kualat atau adanya suatu musibah bagi yang melanggarnya. Bagi masyarakat kasepuhan tidak terlalu sering melanggar hukum adat mereka. Kalaupun ada pelanggaran biasanya juga dinasehati dan apabila terulang kembali maka pelakunya kemungkinan disumpahi.

KASEPUHAN SINAR RESMI


KASEPUHAN SINAR RESMI

Kesepuhan Sinar Resmi terletak di Desa Sirna Resmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi yang terletak diantara perbatasan Provinsi Jawa Barat dan Banten. Dengan begitu termasuk kategori daerah Adat yang di kenal dengan sebutan “Kesatuan Adat Banten Kidul Kasepuhan Sinar Resmi“. 

Komunitas Adat ini meliputi tiga Kabupaten yaitu : 

  1. Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa barat) 
  2. Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa barat) 
  3. Kabupaten Lebak (Provinsi Banten) 

Seiring dengan perkembangan zaman dan laju pertumbuhan di segala bidang dan menyikapi hal tersebut, maka salah satu program prioritas di lingkungan Kesatuan Adat Banten Kidul mengadakan Acara Ritual Adat Seren Taun yang merupakan sikap responsif terhadap aspirasi masyarkat adat disekitar Kasepuhan Sinar Resmi, sebagai bukti peran aktif dalam rangka upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menghormati warisan leluhur yaitu dengan cara Mempertahankan dan melestarikan ciri Adat Kebudayaannya. 

Landasan dasar Adat tidak lepas dari dukungan program premarital daerah atau pusat yang patut di kembangkan di bidang :
  •  Mempererat Tali Persaudaraan ·
  •  Kesadaran Pendidikan Keagamaan · 
  •  Pendidikan Budi Pekerti · 
  •  Mempertahankan Adat dan Budayanya 
Dengan upaya maksimal Kasepuhan Sinar Resmi bersama para donatur dari berbagai kalangan masyarakat, berharap mudah-mudahan program Acara Ritual Adat Seren Taun ini dapat terselengara sesuai dengan sebagaimana mestinya. 


LATAR BELAKANG KASEPUHAN SINAR RESMI 

Negara Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam suku yang tersebar di seluruh Idonesia. Masing-masing suku memiliki kebudayaan yang berbeda dari sabang sampai merauke. oleh karena itu, negara ini memiliki keragaman budaya yang tinggi. Melalui keragaman budaya inilah yang menjadikan suatu i9dentitas bangsa yang harus dipertahanakan dan di lestarikan. Dari waktu, dan terjangan pada era globalisasi semakin meningkat, ini menyebabkan banyaknya pengaruh asing yang masuk yang sulit terbendung dan pengaruh globalisasi yang begitu kuat dapay mengakibatkan lunturnya kebudayaan yang dimiliki oleh suatu daerah yang ada di Indonesia. Namun dengan adanya keyakinan untuk mempertahankan suatu kebudayaan maka kebudayaan tersebut tetap terpelihara dan terlestarikan. keyakinan inilah yang dimiliki leh suatu komunitas yang berupaya mempertahankan dan melestarikan serta memelihara kebudayaan yang disebut dengan komunitas adat. 

Komunitas adat adalah komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul leluhur di atas wilayah adat yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakat. Salah satu komunitas adat yang ada di Indonesia dan sampai saat ini masih tetap memegang teguh aturan-aturan adat yang menyertainya yaitu komunitas adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok,Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi adalah suatu komunitas dengan segala kearifan lokalnya yang dalam kesehariannya, menjalankan sosial budaya tradisional yang mengacu pada karakteristik budaya Sunda pada abad ke-18. Kasepuhan Sinar Resmi merupakan satu dari sebelas kasepuhan yang berada di wilayah Banten Selatan. Komunitas ini hidup secara turun temurun dari generasi ke generasi, jati diri inilah yang masih dipelihara dan diperkuat sebagai perwujudan rasa syukur dan penghormatan kepada para leluhur yang lahir dari sebuah proses sejarah yang tidak terputus dalam perjalanan masa untuk terus menegakan martabat beserta hak asal-usul sebagai identitas budaya dan warisan budaya nasional. Dengan sistem yang diwariskan para leluhur, masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi menata seluruh kehidupannya baik sebagai individu maupun sebagai kelompok sosial dan religius yang khas, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sistem-sistem inilah yang dipertahankan dan diperjuangkan sebagai sumber semangat hidup yang tekandung dalam sistem adat yang masih dibudayakan dan dilestarikan.


DASAR PEMIKIRAN

Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi tidak pernah terlepas dari filosofi-filosofi hidup yang sudah menjadi satu jiwa pada diri masyarakat adat kasepuhan sendiri.Filosofi inilah yang menjadi pedoman hidup masyarakat. dalam kehidupan bermasyarakat, basis dari hukum adat kasepuhan adalah filosofi hidup, “tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh”, yang secara harfiah artinya ‘tiga se wajah, dua se rupa, satu yang itu juga”.Tata nilai ini mengandung pengertian bahwa hidup hanya dapat berlangsung dengan baik dan tenteram bila dipenuhi tiga syarat, yaitu :

  1. (tekad, ucap dan lampah, (niat atau pemikiran, ucapan dan tindakan) harus selaras dan dapat dipertanggung jawabkan kepada incu-putu (keturunan warga kasepuhan) dan sesepuh (para orang tua dan nenek moyang)
  2. jiwa, raga dan perilaku, harus selaras dan berahlak
  3. kepercayaan adat sara, nagara, dan mokaha harus selaras, harmonis dan tidak bertentangan satu dengan lainnya. Selain pedoman dalam bersosialisasi antar masyarakat, masyarakat kasepuhan memiliki interaksi dengan alam. Melalui filosofi “Ibu bumi, bapak langit, tanah ratu” yang intinya dalam kehidupannya, masyarakat harus menjaga keutuhan bumi beserta segala isinya sehingga keseimbangan alam pun tetap terjaga. Berdasarkan filosofii-filosofi inilah masyarakat kasepuhan memiliki keyakinan untuk terus menjaga apa yang sudah diwariskan oleh para leluhurnya, baik menjaga hubungan dengan manusia lain dan menjaga hubungan dengan alam. Salah satu warisan leluhur yang masih diterapkan dalam kehidupan masyarakat kasepuhan adalah sistem pertanian ladang/huma (rurukan) dan sawah yang dilakukan satu kali dalam satu tahun. Sistem pertanian ini tidak sekedar sebuah kegiatan pertanian yang secara umum menuju pada produktivitas, namun sistem pertanian di masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi lebih berorientasi pada suatu interaksi yang kuat antar masyarakat dengan Tuhan, masyarakat dengan masyarakat serta masyarakat dengan alam. Dalam pengelolaan sistem pertanian, mulai dari mempersiapkan lahan sampai pada mengistirahatkan lahan kembali selalu diikuti dengan rangkaian upacara atau ritual adat yang menyertainya yang sudah diwariskan oleh para leluhur. 

 TUJUAN 
  1. Mempertahankan dan memelihara adat istiadat warisan dari para leluhur. 
  2. Mempererat persatuan dan kesatuan antar masyarakat adat, masyarakat non adat, dan pemerintah. 
  3. Melestarikan salah satu budaya dari keberagaman budaya Indonesia 

HARAPAN 

Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi sebagai suatu komunitas yang tidak lepas dari tradisi adat yang menyertainya dalam hal ini secara tidak langsung memiliki peran yang cukup berpengaruh dalam menjaga keutuhan budaya Indonesia yakni melalui sistem pertanian tradisional dan kegiatan-kegiatan adat lainnya. Oleh karena itu, diperlukan perhatian penuh dari pemerintah sebagai salah satu aktor yang ikut berpartisipasi dalam mendukung keberlanjutan dan pemeliharaan adat yang sudah ada sejak dulu sampai sekarang.

DESKRIPSI KEGIATAN 

Ritual-ritual adat yang dilakukan di Kasepuhan Sinar Resmi dilakukan secara rutin dan berulang, dalam jangka bulanan dan tahunan. Ritual bulanan yang dilakukan adalah opatbelasna, yang dilakukan setiap bulan. Ritual tahunan terkait dengan sistem pertanian, prosesi pertanian sawah dan ladang, Sedekah Ruwah dan Mulud, Prah-prahan, Nyimur, Beberes Bengkong, serta upacara Seren Taun yang dilakukan setahun sekali.

Selayang Pandang Kasepuhan Sinar resmi


Selayang Pandang Kasepuhan Sinarresmi

Kesepuhan Sinar Resmi terletak di Desa Sirna Resmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi yang terletak diantara perbatasan Provinsi Jawa Barat dan Banten.
Dengan begitu termasuk kategori daerah adat yang di kenal dengan sebutan “Kesatuan Adat Banten kidul Kasepuhan Sinar Resmi“.

Komunitas Adat ini meliputi tiga Kabupaten yaitu :

  1. Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa barat)
  2. Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa barat)
  3. Kabupaten Lebak (Provinsi Banten)

Seiring perkembangan zaman dan laju pertumbuhan di segala bidang menyikapi hal tersebut, maka salah satu program prioritas di lingkungan Kesatuan Adat Banten Kidul mengadakan Acara Ritual Adat Seren Taun yang merupakan sikap responsif terhadap aspirasi masyarkat disekitar Kasepuhan Sinar Resmi, sebagai bukti peran aktif dalam rangka upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menghormati warisan leluhur yaitu dengan cara Mempertahankan ciri adat kebudayaannya.

Landasan  dasar Adat tidak lepas dari dukungan program premarital daerah atau pusat yang patut di kembangkan di bidang :

  • Pendidikan Budi Pekerti
  • Kesadaran Pendidikan Keagamaan
  • Mempererat Tali Persaudaraan
  • Mempertahankan Adat dan Budayanya
Negara Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam suku yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Masing-masing suku memiliki kebudayaan yang berbeda dari Sabang sampai Merauke. Oleh karena itu, negara ini memiliki keragaman budaya yang tinggi. Melalui keragaman budaya inilah, yang menjadikan suatu identitas bangsa yang harus dipertahankan dan dipelihara. Dari waktu ke waktu, terjangan pada era globalisasi semakin meningkat, ini menyebabkan banyaknya pengaruh asing yang masuk yang sulit terbendung. Pengaruh globalisasi yang begitu kuat dapat mengakibatkan lunturnya kebudayaan yang dimiliki oleh suatu daerah di Indonesia. Namun, dengan adanya keyakinan untuk mempertahankan suatu kebudayaan maka kebudayaan tersebut akan tetap terpelihara. Keyakinan inilah yang dimiliki oleh suatu komunitas yang berupaya untuk mempertahankan dan memelihara kebudayaannya yang disebut dengan komunitas adat.

Komunitas adat adalah komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul leluhur di atas wilayah adat yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakat. Salah satu komunitas adat yang ada di Indonesia dan sampai saat ini masih tetap memegang teguh aturan-aturan adat yang menyertainya yaitu komunitas adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi adalah suatu komunitas dengan segala kearifan lokalnya  yang dalam kesehariannya, menjalankan sosio budaya tradisional yang mengacu pada karakteristik budaya Sunda pada abad ke-18. Kasepuhan Sinar Resmi merupakan satu dari sebelas kasepuhan yang berada di wilayah Banten Selatan. Komunitas ini hidup secara turun temurun dari generasi ke generasi, jati diri inilah yang masih dipelihara dan diperkuat sebagai perwujudan rasa syukur dan penghormatan kepada para leluhur yang lahir dari sebuah proses sejarah yang tidak terputus dalam perjalanan masa untuk terus menegakan martabat beserta hak asal-usul sebagai identitas budaya dan warisan budaya nasional. Dengan sistem yang diwariskan para leluhur, masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi menata seluruh kehidupannya baik sebagai individu maupun sebagai kelompok sosial  dan religius yang khas, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sistem-sistem inilah yang dipertahankan dan diperjuangkan sebagai sumber semangat hidup yang tekandung dalam sistem adat yang masih dibudayakan dan dilestarikan.


Dasar Pemikiran
Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi tidak pernah terlepas dari filosofi-filosofi hidup yang sudah menjadi satu jiwa pada diri masyarakat kasepuhan sendiri. Filosofi inilah yang menjadi pedoman hidup masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, basis dari hukum adat kasepuhan adalah filosofi hidup, “tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh”, yang secara harfiah artinya ‘tiga se wajah, dua se rupa, satu yang itu juga”.  Tata  nilai  ini  mengandung  pengertian  bahwa  hidup  hanya  dapat  berlangsung dengan baik dan tenteram bila dipenuhi tiga syarat,  yaitu (1)  tekad, ucap dan lampah, (niat  atau  pemikiran,  ucapan  dan  tindakan)  harus  selaras  dan  dapat  dipertanggung jawabkan kepada  incu-putu (keturunan warga kasepuhan) dan  sesepuh (para orang tua dan  nenek  moyang);  (2)  jiwa,  raga  dan  perilaku,  harus  selaras  dan  berahlak;  (3) kepercayaan adat sara, nagara, dan mokaha harus selaras, harmonis dan tidak bertentangan satu dengan lainnya. Selain pedoman dalam bersosialisasi antar masyarakat, masyarakat kasepuhan memiliki interaksi dengan alam. Melalui filosofi “Ibu bumi, bapak langit, tanah ratu” yang intinya dalam kehidupannya, masyarakat harus menjaga keutuhan bumi beserta segala isinya sehingga keseimbangan alam pun tetap terjaga.

Berdasarkan filosofii-filosofi inilah masyarakat kasepuhan memiliki keyakinan untuk terus menjaga apa yang sudah diwariskan oleh para leluhurnya, baik menjaga hubungan dengan manusia lain dan menjaga hubungan dengan alam. Salah satu warisan leluhur yang masih diterapkan dalam kehidupan masyarakat kasepuhan adalah sistem pertanian ladang/huma (rurukan) dan sawah yang dilakukan satu kali dalam satu tahun. Sistem pertanian ini tidak sekedar sebuah kegiatan pertanian yang secara umum menuju pada produktivitas, namun sistem pertanian di masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi lebih berorientasi pada suatu interaksi yang kuat antar masyarakat dengan Tuhan, masyarakat dengan masyarakat serta masyarakat dengan alam.  Dalam pengelolaan sistem pertanian, mulai dari mempersiapkan lahan sampai pada mengistirahatkan lahan kembali selalu diikuti dengan rangkaian upacara atau ritual adat yang menyertainya yang sudah diwariskan oleh para leluhur.


Tujuan

  1. Mempertahankan dan memelihara adat istiadat warisan dari para leluhur.
  2. Mempererat persatuan dan kesatuan antar masyarakat adat, masyarakat non adat, dan  pemerintah.
  3. Melestarikan salah satu budaya dari keberagaman budaya Indonesia
Harapan
Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi sebagai suatu komunitas yang tidak lepas dari tradisi adat yang menyertainya dalam hal ini secara tidak langsung memiliki peran yang cukup berpengaruh dalam menjaga keutuhan budaya Indonesia yakni melalui sistem pertanian tradisional dan kegiatan-kegiatan adat lainnya. Oleh karena itu, diperlukan perhatian penuh dari pemerintah sebagai salah satu aktor yang ikut berpartisipasi dalam mendukung keberlanjutan dan pemeliharaan  adat yang sudah ada sejak dulu sampai sekarang.

Keluaran
Keluaran yang diharapkan dari terlaksananya ritual-ritual adat ini adalah kebudayaan lokal yang tetap utuh dan terjaga. Selain itu, pihak Kasepuhan Sinar Resmi dapat melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, baik masyarakat adat lainnya, masyarakat non-adat, akademisi dan pemerintah dalam melestarikan dan memelihara kebudayaan lokal.

DESKRIPSI KEGIATAN
Ritual-ritual adat yang dilakukan di Kasepuhan Sinar Resmi dilakukan secara rutin dan berulang, dalam jangka bulanan dan tahunan. Ritual bulanan yang dilakukan adalah opatbelasna, yang dilakukan setiap bulan. Ritual tahunan terkait dengan sistem pertanian, prosesi pertanian sawah dan ladang, Sedekah Ruwah dan Mulud, Prah-prahan, Nyimur, Beberes Bengkong,  serta upacara Seren Taun yang dilakukan setahun sekali.

Ritual Opatbelasna
Ritual ini dilakukan setiap tanggal 13 malam 14 dalam kalender Islam/Bulan Saka atau saat bulan purnama muncul. Ritual ini dilakukan untuk selamatan bulanan. Ritual ini dihadiri oleh Panghulu yang memimpin doa dan disaksikan oleh para kolot lembur. Dalam acara ini juga berbagai macam hidangan antara lain kue-kue seperti papais, awug, dan pasung yang dibuat oleh ibu-ibu. Pada malam harinya sebelum selamatan dimulai pada pukul 12 malam, ibu-ibu membuat rurujakan sembilan rupa diantaranya cau emas, anggur, jeruk, nanas, tomat, kelapa, pepaya, buah asam dan curing.

Prosesi untuk Pertanian Ladang (Huma) dan Sawah
Sistem pertanian di Kasepuhan Sinar Resmi terbagi dalam pertanian ladang (huma) dan sawah. Keduanya memiliki perbedaan dalam prosesi pelaksanaannya mulai dari mempersiapkan lahan untuk digarap hingga mengistirahatkan lahan yang telah digunakan.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pertanian ladang
Kegiatan
Bulan
(Sistem Kalender Islam)
Pelaksana *)
Narawas
(menandai lokasi yang akan dijadikan lahan huma)
Jumadil awal
Lk
Nyacar
(membersihkan lahan, biasanya selama 1 minggu setelah itu di keringkan selama 15 hari – 1 bulan)
Jumadil awal
Lk, Pr, P
Ngahuru
(membakar semak kering untuk dijadikan pupuk)
Jumadil akhir
Lk
Ngerukan
(mengumpulkan sisa-sisa yang belum terbakar )
Jumadil akhir
Lk, Pr, P
Ngaduruk
(membakar sisa-sisanya)
Jumadil akhir
Lk, Pr
Nyara
(meremahkan tanah)
Jumadil akhir
Lk, Pr, P
Ngaseuk
(penanaman bibit padi dengan menggunakan tongkat atau aseuk)
Rajab
Lk, Pr, P
Ngored
(menyiangi rumput)
Ruwah
Lk, Pr, P
Mipit/ Dibuat
(memotong padi/ panen)
Haji
Lk, Pr
Ngadamel lantayan
(membuat tempat menjemur padi)
Haji
Lk
Ngalantaykeun
(proses menjemur padi pada lantayan)
Haji
Lk, Pr
Mocong
(mengikat padi yang kering)
Muharam
Lk, Pr, P
Ngunjal
(diangkut ke lumbung padi)
Muharam
Lk
Ngaleuitkeun
(memasukkan ke lumbung)
Muharam
Lk, Pr
Ngeuleupkeun
(dirapikan)
Muharam
Lk
Ngadieukeun indung pare
(menyimpan padi di dalam leuit)
Muharam
Lk
Selametan
(ampih pare)
Muharam
Lk, Pr, P



Dari 17 prosesi di atas, lima kegiatan utama yang harus dilakukan antara lain :

  • Ngaseuk : dimulainya kegiatan menanam padi dengan memasukkan benih ke dalam lubang aseuk.
  • Beberes Mager: ritual untuk menjaga padi dari serangan h`              ama. Kegiatan ini dilakukan oleh pemburu di ladang Abah (ladang milik kasepuhan) dengan membaca doa. Kegiatan ini dilaksanakan sekitar bulan Muharam.
  • Ngarawunan : ritual untuk meminta isi padi agar tumbuh dengan subur, sempurna dan tidak ada gangguan. Kegiatan ini dilakukan oleh semua incu putu untuk meminta doa kepada abah melalui bagian pamakayaan. Ngasrawunan dilakukan setelah padi berumur tiga bulan sampai empat bulan.
  • Mipit: kegiatan memanen padi yang dilakukan lebih dulu oleh Abah sebagai pertanda masuknya musim panen.
  • Nutu: kegiatan menumbuk padi pertama hasil panen.
  • Nganyaran: memasak nasi menggunakan padi hasil panen pertama, dua bulan setelah masa panen.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pertanian sawah
Kegiatan
Bulan
(Sistem Kalender Islam)
Pelaksana*)
Numpang galeng
(membuat pematang)
Muharam
Lk, P
Ngabaladah
(menyiangi lahan)
Silih mulud
Lk, P
Ngambangkeun
(mengisi lahan dengan air / merendam)
Jumadil awal
Lk, P
Ngangler
(membersihkan permukaan lahan dari gulma yang tumbuh sebagai persiapan untuk tebar)
Ruwah
Lk, Pr, P
Tebar/ ngipuk
(membuat persemaian padi dengan cara menebar untaian padi)
Jumadil akhir
Lk, Pr
Tandur
(menanam padi)
Ruwah
Lk,, Pr, P
Ngarambet
(membersihkan gulma yang ada di sawah)
Puasa
Pr
Babad galeng
(membersihkan rumput di pematang sawah)
Syawal
Lk, Pr,P
Dibuat ku etem/ neugel
(panen padi dengan alat etem / ani-ani)
Haji
Lk, Pr, P
Ngadamel lantayan
(membuat tempat jemuran padi)
Haji
Lk
Ngalantay
(menjemur padi di lantayan)
Haji
Lk
Mocong pare
(mengikat padi menjadi pocong)
Sapar
Lk, Pr, P
Diangkut ka leuit/ ngunjal
(mengangkut padi ke leuit/ lumbung)
Sapar
Lk
Ngaleuitkeun
(memasukkan ke leuit/ lumbung)
Sapar
Lk
Dieulep di leuit
(merapikan padi di dalam leuit/ lumbung)
Sapar
Lk, Pr
Ngadiukkeun indung
(memasukan padi induk ke dalam leuit)
Sapar
Lk, Pr
Disalametan nganyaran
(selamatan sebagai tanda syukur dengan memasak padi pertama kali)
Silih mulud
Pr

Keterangan *):
Lk        : laki-laki
Pr         : perempuan
P          : Pemuda/pemudi

Setelah semua kegiatan pertanian selesai, diadakan kegiatan Tutup Nyambut yang menandakan selesainya semua aktivitas pertanian di sawah ditandai dengan acara selametan. Salah satu rangkaian kegiatan pertanian penting mengenai sistem pertanian sawah yang utama setelah upacara Seren Taun adalah Turun Nyambut. Kegiatan Turun Nyambut  merupakan pertanda dimulainya masa untuk membajak sawah dan mempersiapkan lahan untuk ditanami padi kembali.

Seren Taun
Upacara ini dilakukan untuk mensyukuri hasil panen pada tahun tersebut dan sebagai hiburan untuk masyarakat yang telah bekerja selama satu tahun dalam pertanian. Rangkaian acara dimulai dengan musyawarah terlebih dahulu dengan melibatkan seluruh incu putu untuk menentukan besarnya anggaran yang dibutuhkan. Setelah  musyawarah selesai, dilakukan serah ponggokan. Para kolot lembur (kepala kampung/dusun)  dan kepala ranggeyan berkumpul untuk mendiskusikan besarnya biaya yang ditanggung per orang untuk biaya seren taun untuk diserahkan kepada Abah. Setelah serah ponggokan Abah melakukan ziarah ke karamat (astana) leluhurnya mulai dari Abah Udjat, makam Abah Ardjo, Uyut Rusdi, Uyut Jasiun, makam yang di Tegal Lumbu, makam yang di Pasir Talaga, Makam yang di Lebak Binong, Makam yang di Lebak Larang,  hingga makam leluhurnya di Cipatat, Bogor.

Rangkaian kegiatan upacara seren taun


  1. Mempersiapkan peralatan upacara yang terdiri dari: padi, orang yang membawa padi di bakul, orang yang membawa bunga tujuh macam bunga, orang yang membawa bokor (seupaheun), putri tujuh (orang yang mengiringi orang yang membawa padi), dan diiringi oleh para sesepuh kampung, dan kesenian diantaranya : rengkong, dogdog lojor, jipeng, debus, tari tani, gondang buhun dan kidung buhun.
  2. Untuk perjalanan ampih pare ka leuit, seluruh kegiatan diatur oleh Lengser.
  3. Ketika sampai di leuit, pemimpin doa mulai membaca doa, setelah doa selesai padi dimasukkan ke dalam leuit yang didahului oleh Abah dan Ambu sebagai pimpinan adat.
  4. Setelah dari leuit, seluruh tamu undangan dan para sesepuh mengadakan Nyoreang Alam ka Tukang Nyawang anu Bakal Datang (melaporkan hasil dan kegiatan-kegiatan yang sudah dikerjakan dan merencanakan kegiatan-kegiatan ke depan).
  5. Acara hiburan, mulai dari kesenian gondang gogonjakan, kesenian debus, jaipongan, dan wayang golek.
Sedekah Ruwah dan Sedekah Mulud
Sedekah Mulud merupakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kegiatan yang dilakukan adalah pembacaan doa untuk selametan dan membagikan makanan kepada warga. Sebelum memasak makanan, para ibu harus membersihkan rambut dan badan (diangir mandi) menggunakan beuleum sapu pare, serta alat-alat yang digunakan untuk memasak seperti dulang, kukusan, hihid, pangarih, dandang/ seeng, kuluwung, dan aseupan, harus dicuci bersih sebelum digunakan. Kemudian, para ibu mulai memasak nasi untuk dibawa ke rumah panghulu untuk selametan dan dibagikan kepada warga. Sedekah Mulud dilakukan pada hari Rabu.

Sedekah Ruwah merupakan peringatan hari wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kegiatan sedekah Ruwah, sama dengan kegiatan Sedekah Mulud. Namun, sedekah Ruwah dilaksanakan pada hari Jumat.

Prah-prahan
Prah-prahan merupakan kegiatan menjaga dan menghindarkan segala penyakit (tolak bala) yang dilakukan pada pada Bulan Safar dalam kalender Islam. Semua warga dan incu putu ditandai oleh ketupat dan tangtang angin baik di rumah maupun di kandang ternak.

Nyimur
Nyimur merupakan ritual dimana seluruh balita (usia 0-5 tahun) dikumpulkan untuk diteteskan (peureuh) air kembang ke dalam mata. Acara ini dilaksanakan  di rumah dukun pada Bulan Silih Mulud.

Beberes Bengkong  Kegiatan sesudah mengkhitankan semua incu putu baik laki-laki maupun perempuan.

Untuk perempuan sekitar usia 2 atau 3 tahun sedangkan untuk laki-laki sekitar usia 5 sampai 7 tahun. Setelah selesai khitan, yang mempunyai hajat memberikan beras dan uang ke bengkong sebagai parawanten. Kemudian bengkong (orang yang mengkhitankan laki-laki) dan ema’ berang (orang yang mengkhitankan perempuan) membuat nasi tumpeng yang akan diserahkan ke rumah Abah.

PELAKSANA DAN PESERTA KEGIATAN
Kegiatan ritual adat dilaksanakan oleh seluruh masyarakat adat kasepuhan. Kegiatan dibuka oleh abah sebagai pimpinan adat dan dipimpin oleh Panghulu yang membacakan doa-doa. Khusus untuk kegiatan Seren Taun, kegiatan ini dihadiri tidak hanya oleh masyarakat adat kasepuhan Sinar Resmi, melainkan oleh tamu undangan mulai dari pemerintah sampai masyarakat di luar masyarakat adat yang biasanya berasal dari Jakarta, Bandung, Bogor, Sukabumi, dan sekitarnya. Peserta kegiatan Seren Taun  bisa mencapai 3000 orang tiap tahunnya.