Tampilkan postingan dengan label Kesenian Adat Sunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian Adat Sunda. Tampilkan semua postingan

Seni Laes Atau Lais Dari Kasepuhan Sinar Resmi

Sumber gambar dedisuhendra.com
Seni Laes Atau Lais Dari Kasepuhan Sinar Resmi - Kesenian Lais Diambil Dari Nama Seseorang Yang Sangat Terampil Dalam Memanjat Pohon Kelapa Yang Bernama ‘Laisan” yang sehari – hari dipanggil Pak Lais. Atraksi yng ditontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman, sambil diiringi tetabuhan seperti dog-dog, gendang, kempul dan terompet. Kesenian ini sudah ada sejak Jaman Penjajahan Belanda.

Kesenian ini merupakan sebuah kesenian pertunjukan akrobatik dalam seutas tali sepanjang 6 meter yang dibentangkan dan dikaitkan diantara dua buah bamboo dengan ketinggian 12 sampai 13 meter.


Kesenian Lais di ambil dari nama seseorang yang sangat terampil memanjat pohon kelapa yang bernama ”Laisan” yang sehari-hari di panggil Pak Lais. Lais ini sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda, tempatnya di Kampung Nangka Pait, Kec. Sukawening. Atraksi yang di tontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman dengan diiringi musik reog, kendang penca, dog-dog dan terompet.


Lais/Laes

Lais merupakan suatu jenis pertunjukan rakyat di Jawa Barat yang mirip akrobat  Tetapi, karena kegiatan apa pun dalam masyarakat Sunda tradisional ini selalu tidak lepas dari kepercayaan penduduknya, maka keterampilan akrobatik yang dilakukan oleh pemain-pemain lais itu pun dipercaya mendapat bantuan gaib. Selain itu, tentu saja lais juga diberi nafas seni dengan dimasukkannya tetabuhan dan dilantunkannya lagu-lagu selama pertunjukan.
Pertunjukan lais terutama mempertontonkan keterampilan satu atau dua orang pemain lais yang berjalan atau duduk di atas tali tambang yang direntangkan di antara dua ujung bambu. Tali tambang tersebut selalu bergoyang dan bambunya pun bergerak-gerak selagi menyangga beban dan gerakan pemain lais tersebut.

Lais terdapat di Kabupaten Sukabumi, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cirebon dan Bandung. Lais dapat disaksikan pada acara-acara kenegaraan, hajatan, pernikahan ataupun khitanan.

Cara penyajian pertunjukan lais dilakukan dengan terlebih dahulu memancangkan dua leunjeur (batang) awi gombong (bambu berbumbung besar) di tanah serta merentangkan tali tambang pada kedua ujung bambu tersebut. Tali tambang  kemudian diikatkan pada kedua ujung bambu yang dipancangkan tersebut lalu tetabuhan pun dibunyikan sebagai pembukaan juga sebagai pemberitahuan bahwa permainan akan segera dimulai. Hal ini dilakukan untuk mengundang penonton dan sebagai pemanasan suasana.

Ketika permainan dimulai, sang dukun (pawang) lais pun siap dengan perlengkapan upacaranya, yaitu sesajen (sesajian) dan pedupaan (kukusan). Bersamaan dengan bunyi tetabuhan, dibakarlah kemenyan dalampedupaan tadi serta mantera-mantera pun dibacakan. Upacara ini dimaksudkan agar si pemain lais  diberi kekuatan, kelincahan, keterampilan serta keselamatan di dalam permainannya.

Busana yang dikenakan oleh pemain lais yaitu busana yang biasa dipakai oleh wanita seperti kain dan kebaya, terutama pemain lais di Priangan. Dengan langkah gemulai, pemain lais yang menurut kepercayaan mulai kemasukan roh gaib  itu menari-nari mendekati salah satu tiang bambu. Ia menyelipkan sebuah payung di pinggangnya. Pada  saat itu terjadilah percakapan antara pemain lais dan pawang. Percakapannya yaitu sebagai berikut:

Pawang: “Rek ka mana, Nu Geulis?”(Mau ke mana, Cantik?)
Si Lais  : “Apan rek ulin.” (Kan mau main.)
Pawang: “Nyandak naon?” (Membawa apa?)
Si Lais : “Ieu payung bisi panas jeung duwegan bisi halabhab.” (Ini payung kalau-kalau kepanasan dan kelapa muda kalau-kalau kehausan.)
Pawang: “Pek atuh geura amengan.” (Silakan kalau mau main.)

Sambil menari lagi, Si Lais terus mendekati tiang bambu lalu dengan cekatan  memanjat tiang bambu tersebut seperti seekor kera. Cara memanjatnya yaitu dengan tidak merapatkan tubuh ke ke batang bambu, melainkan dengan menggunakan tangan dan kakinya.

Ketika Si Lais memanjat batang bambu, tabuhan pengiring dibunyikan semakin keras sampai Si Lais tersebut mencapai puncak batang bambu. Setelah sampai pada tali tambang yang direntangkan, kemudian Si Lais pun duduk di ujung bambu dengan santai dan berleha-leha, lalu ia menyanyi namun hanya suara gumamnya saja tanpa kata-kata. Pawang yang berada di bawah bertanya lagi sambil menengadahkan kepalanya.

Pawang : “Hey, Geulis, keur naon?” (Hey, Cantik,  sedang apa?)
Si Lais   : “Apan ieu keur senang-senang!” (Kan ini lagi bersenang-senang.)
Pawang : “Cing, Geulis, ngojay kawas bangkong.” (Cobalah, Cantik, kamu berenang seperi katak.)
Si Lais   : “Mangga,” sambil tersenyum
Kemudian Si Lais pun menelungkup pada ujung bambu dan menekankan perutnya serta membuat gerakan seperti sedang berenang.
Si Lais : “Aduh capejeung hanaang.” (Aduh ,saya capek dan haus).

Si Lais kemudian duduk lagi pada ujung bambu, lalu membelah kelapa muda yang dibawanya dengan golok. Selain gerak-gerik Si Lais yang terampil itu, kelakuannya pun membuat hati penonton berdebar terutama para penonton wanita. Ketika Si Lais membelah kelapa muda, yang digunakan sebagai tahanan adalah lututnya dan air kelapa itu pun diminum sambil lalagedayan(berleha-leha atau berbaring dengan santai sambil bergoyang kaki). Setelah meminum habis air kelapa muda itu, Si Lais pun turun dengan cara menyusuri bambu dengan meluncur.

Setelah sampai di bawah, Si Lais menari-nari dan golok yang dibawanya diletakkan di dekat para penabuh, kemudian ia naik kembali sampai ke puncak tiang bambu dan berdiri di sana. Ia mengambil payung yang diselipkan di pinggangnya. Dengan menggunakan payung itu, ia meniti (berjalan) di atas tali tambang yang direntangkan tadi.

Di tengah-tengah tambang tersebut ia menari, menyanyi dan mengayun-ayunkan badannya. Atraksi tersebut merupakan puncak dari permainan lais. Banyak diantara penonton yang menahan nafas dan ada pula yang berteriak karena merasa khawatir Si Lais jatuh terutama para penonton wanita. Si Lais berpura-pura memperlihatkan gerakan kalau ia terpelesest, sehingga membuat penonton menjadi histeris. Dalam kepura-puraannya itu ia  berceloteh. “Aduuh …… Wah …… Awas,” dan … “La la la,” ia bernyanyi tak henti-hentinya.  Setelah puas mempermainkan penonton, ia pun berjalan menuju ujung yang lain, kemudian sambil berdiri di ujung tersebut ia pun menari mengikuti irama tetabuhan dari bawah.

Setelah selesai, Si Lais pun turun dengan cara meluncur. Tetabuhan dari bawah terus dibunyikan dan peniup terompet pun meniup tarompetnya dengan lagu-lagu yang riang. Hal ini dilakukan untuk memberikan waktu kepada pemain lais untuk beristirahat.

Setelah selesai beristirahat, Si Lais pun kembali memanjat bambu tersebut. Ia memperlihatkan permainannya yaitu dengan berayun-ayun di tengah tambang dengan kaki tergantung. Sambil berjalan di atas tambang, ia membuka pakaian wanita yang dipakainya dengan ngorondang (merangkak).

Setelah menyelesaikan pertunjukannya, ia pun turun kembali menyusuri tambang dan ini merupakan akhir dari pertunjukan lais Si Lais kemudian dibawa ke dalam rumah oleh pawang. Ketika keluar, Si Lais tersebut bersikap seperti biasa dan pakaiannya sudah diganti dengan pakaian biasa.

Pertunjukan lais memakan waktu setengah hari atau bahkan sehari penuh, tergantung kepada yang mengundangnya. Waditra yang digunakan untuk mengiringi pertunjukkan lais sama dengan waditra yang digunakan dalamkendang penca, tetapi ditambah dengan dogdog dan angklung. Para pemain lais terdiri dari laki-laki yang sudah dewasa sebanyak 6 orang, yaitu satu orang pemain lais, satu orang pawang yang kadang-kadang merangkap menjadi pimpinan lais dan yang lainnya adalah para penabuh.

Permainan lais biasanya diadakan di arena terbuka seperti di lapangan atau alun-alun yang tempatnya dianggap luas untuk menancapkan tiang bambu dengan jarak 10-15 meter antara tiang bambu yang satu dengan tiang bambu yang lainnya. Pertunjukan lais bukan merupakan bagian dari suatu upacara. Oleh karena itu, dapat dipanggil setiap saat. Permainan lais ini diturunkan oleh keluarga ke setiap generasi penerusnya.

Refferensi: http://amochiqal89.wordpress.com/2008/04/16/kesenian-lais




KASEPUHAN SINAR RESMI


KASEPUHAN SINAR RESMI

Kesepuhan Sinar Resmi terletak di Desa Sirna Resmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi yang terletak diantara perbatasan Provinsi Jawa Barat dan Banten. Dengan begitu termasuk kategori daerah Adat yang di kenal dengan sebutan “Kesatuan Adat Banten Kidul Kasepuhan Sinar Resmi“. 

Komunitas Adat ini meliputi tiga Kabupaten yaitu : 

  1. Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa barat) 
  2. Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa barat) 
  3. Kabupaten Lebak (Provinsi Banten) 

Seiring dengan perkembangan zaman dan laju pertumbuhan di segala bidang dan menyikapi hal tersebut, maka salah satu program prioritas di lingkungan Kesatuan Adat Banten Kidul mengadakan Acara Ritual Adat Seren Taun yang merupakan sikap responsif terhadap aspirasi masyarkat adat disekitar Kasepuhan Sinar Resmi, sebagai bukti peran aktif dalam rangka upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menghormati warisan leluhur yaitu dengan cara Mempertahankan dan melestarikan ciri Adat Kebudayaannya. 

Landasan dasar Adat tidak lepas dari dukungan program premarital daerah atau pusat yang patut di kembangkan di bidang :
  •  Mempererat Tali Persaudaraan ·
  •  Kesadaran Pendidikan Keagamaan · 
  •  Pendidikan Budi Pekerti · 
  •  Mempertahankan Adat dan Budayanya 
Dengan upaya maksimal Kasepuhan Sinar Resmi bersama para donatur dari berbagai kalangan masyarakat, berharap mudah-mudahan program Acara Ritual Adat Seren Taun ini dapat terselengara sesuai dengan sebagaimana mestinya. 


LATAR BELAKANG KASEPUHAN SINAR RESMI 

Negara Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam suku yang tersebar di seluruh Idonesia. Masing-masing suku memiliki kebudayaan yang berbeda dari sabang sampai merauke. oleh karena itu, negara ini memiliki keragaman budaya yang tinggi. Melalui keragaman budaya inilah yang menjadikan suatu i9dentitas bangsa yang harus dipertahanakan dan di lestarikan. Dari waktu, dan terjangan pada era globalisasi semakin meningkat, ini menyebabkan banyaknya pengaruh asing yang masuk yang sulit terbendung dan pengaruh globalisasi yang begitu kuat dapay mengakibatkan lunturnya kebudayaan yang dimiliki oleh suatu daerah yang ada di Indonesia. Namun dengan adanya keyakinan untuk mempertahankan suatu kebudayaan maka kebudayaan tersebut tetap terpelihara dan terlestarikan. keyakinan inilah yang dimiliki leh suatu komunitas yang berupaya mempertahankan dan melestarikan serta memelihara kebudayaan yang disebut dengan komunitas adat. 

Komunitas adat adalah komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul leluhur di atas wilayah adat yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakat. Salah satu komunitas adat yang ada di Indonesia dan sampai saat ini masih tetap memegang teguh aturan-aturan adat yang menyertainya yaitu komunitas adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok,Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi adalah suatu komunitas dengan segala kearifan lokalnya yang dalam kesehariannya, menjalankan sosial budaya tradisional yang mengacu pada karakteristik budaya Sunda pada abad ke-18. Kasepuhan Sinar Resmi merupakan satu dari sebelas kasepuhan yang berada di wilayah Banten Selatan. Komunitas ini hidup secara turun temurun dari generasi ke generasi, jati diri inilah yang masih dipelihara dan diperkuat sebagai perwujudan rasa syukur dan penghormatan kepada para leluhur yang lahir dari sebuah proses sejarah yang tidak terputus dalam perjalanan masa untuk terus menegakan martabat beserta hak asal-usul sebagai identitas budaya dan warisan budaya nasional. Dengan sistem yang diwariskan para leluhur, masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi menata seluruh kehidupannya baik sebagai individu maupun sebagai kelompok sosial dan religius yang khas, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sistem-sistem inilah yang dipertahankan dan diperjuangkan sebagai sumber semangat hidup yang tekandung dalam sistem adat yang masih dibudayakan dan dilestarikan.


DASAR PEMIKIRAN

Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi tidak pernah terlepas dari filosofi-filosofi hidup yang sudah menjadi satu jiwa pada diri masyarakat adat kasepuhan sendiri.Filosofi inilah yang menjadi pedoman hidup masyarakat. dalam kehidupan bermasyarakat, basis dari hukum adat kasepuhan adalah filosofi hidup, “tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh”, yang secara harfiah artinya ‘tiga se wajah, dua se rupa, satu yang itu juga”.Tata nilai ini mengandung pengertian bahwa hidup hanya dapat berlangsung dengan baik dan tenteram bila dipenuhi tiga syarat, yaitu :

  1. (tekad, ucap dan lampah, (niat atau pemikiran, ucapan dan tindakan) harus selaras dan dapat dipertanggung jawabkan kepada incu-putu (keturunan warga kasepuhan) dan sesepuh (para orang tua dan nenek moyang)
  2. jiwa, raga dan perilaku, harus selaras dan berahlak
  3. kepercayaan adat sara, nagara, dan mokaha harus selaras, harmonis dan tidak bertentangan satu dengan lainnya. Selain pedoman dalam bersosialisasi antar masyarakat, masyarakat kasepuhan memiliki interaksi dengan alam. Melalui filosofi “Ibu bumi, bapak langit, tanah ratu” yang intinya dalam kehidupannya, masyarakat harus menjaga keutuhan bumi beserta segala isinya sehingga keseimbangan alam pun tetap terjaga. Berdasarkan filosofii-filosofi inilah masyarakat kasepuhan memiliki keyakinan untuk terus menjaga apa yang sudah diwariskan oleh para leluhurnya, baik menjaga hubungan dengan manusia lain dan menjaga hubungan dengan alam. Salah satu warisan leluhur yang masih diterapkan dalam kehidupan masyarakat kasepuhan adalah sistem pertanian ladang/huma (rurukan) dan sawah yang dilakukan satu kali dalam satu tahun. Sistem pertanian ini tidak sekedar sebuah kegiatan pertanian yang secara umum menuju pada produktivitas, namun sistem pertanian di masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi lebih berorientasi pada suatu interaksi yang kuat antar masyarakat dengan Tuhan, masyarakat dengan masyarakat serta masyarakat dengan alam. Dalam pengelolaan sistem pertanian, mulai dari mempersiapkan lahan sampai pada mengistirahatkan lahan kembali selalu diikuti dengan rangkaian upacara atau ritual adat yang menyertainya yang sudah diwariskan oleh para leluhur. 

 TUJUAN 
  1. Mempertahankan dan memelihara adat istiadat warisan dari para leluhur. 
  2. Mempererat persatuan dan kesatuan antar masyarakat adat, masyarakat non adat, dan pemerintah. 
  3. Melestarikan salah satu budaya dari keberagaman budaya Indonesia 

HARAPAN 

Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi sebagai suatu komunitas yang tidak lepas dari tradisi adat yang menyertainya dalam hal ini secara tidak langsung memiliki peran yang cukup berpengaruh dalam menjaga keutuhan budaya Indonesia yakni melalui sistem pertanian tradisional dan kegiatan-kegiatan adat lainnya. Oleh karena itu, diperlukan perhatian penuh dari pemerintah sebagai salah satu aktor yang ikut berpartisipasi dalam mendukung keberlanjutan dan pemeliharaan adat yang sudah ada sejak dulu sampai sekarang.

DESKRIPSI KEGIATAN 

Ritual-ritual adat yang dilakukan di Kasepuhan Sinar Resmi dilakukan secara rutin dan berulang, dalam jangka bulanan dan tahunan. Ritual bulanan yang dilakukan adalah opatbelasna, yang dilakukan setiap bulan. Ritual tahunan terkait dengan sistem pertanian, prosesi pertanian sawah dan ladang, Sedekah Ruwah dan Mulud, Prah-prahan, Nyimur, Beberes Bengkong, serta upacara Seren Taun yang dilakukan setahun sekali.

Selayang Pandang Kasepuhan Sinar resmi


Selayang Pandang Kasepuhan Sinarresmi

Kesepuhan Sinar Resmi terletak di Desa Sirna Resmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi yang terletak diantara perbatasan Provinsi Jawa Barat dan Banten.
Dengan begitu termasuk kategori daerah adat yang di kenal dengan sebutan “Kesatuan Adat Banten kidul Kasepuhan Sinar Resmi“.

Komunitas Adat ini meliputi tiga Kabupaten yaitu :

  1. Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa barat)
  2. Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa barat)
  3. Kabupaten Lebak (Provinsi Banten)

Seiring perkembangan zaman dan laju pertumbuhan di segala bidang menyikapi hal tersebut, maka salah satu program prioritas di lingkungan Kesatuan Adat Banten Kidul mengadakan Acara Ritual Adat Seren Taun yang merupakan sikap responsif terhadap aspirasi masyarkat disekitar Kasepuhan Sinar Resmi, sebagai bukti peran aktif dalam rangka upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menghormati warisan leluhur yaitu dengan cara Mempertahankan ciri adat kebudayaannya.

Landasan  dasar Adat tidak lepas dari dukungan program premarital daerah atau pusat yang patut di kembangkan di bidang :

  • Pendidikan Budi Pekerti
  • Kesadaran Pendidikan Keagamaan
  • Mempererat Tali Persaudaraan
  • Mempertahankan Adat dan Budayanya
Negara Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam suku yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Masing-masing suku memiliki kebudayaan yang berbeda dari Sabang sampai Merauke. Oleh karena itu, negara ini memiliki keragaman budaya yang tinggi. Melalui keragaman budaya inilah, yang menjadikan suatu identitas bangsa yang harus dipertahankan dan dipelihara. Dari waktu ke waktu, terjangan pada era globalisasi semakin meningkat, ini menyebabkan banyaknya pengaruh asing yang masuk yang sulit terbendung. Pengaruh globalisasi yang begitu kuat dapat mengakibatkan lunturnya kebudayaan yang dimiliki oleh suatu daerah di Indonesia. Namun, dengan adanya keyakinan untuk mempertahankan suatu kebudayaan maka kebudayaan tersebut akan tetap terpelihara. Keyakinan inilah yang dimiliki oleh suatu komunitas yang berupaya untuk mempertahankan dan memelihara kebudayaannya yang disebut dengan komunitas adat.

Komunitas adat adalah komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul leluhur di atas wilayah adat yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakat. Salah satu komunitas adat yang ada di Indonesia dan sampai saat ini masih tetap memegang teguh aturan-aturan adat yang menyertainya yaitu komunitas adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi adalah suatu komunitas dengan segala kearifan lokalnya  yang dalam kesehariannya, menjalankan sosio budaya tradisional yang mengacu pada karakteristik budaya Sunda pada abad ke-18. Kasepuhan Sinar Resmi merupakan satu dari sebelas kasepuhan yang berada di wilayah Banten Selatan. Komunitas ini hidup secara turun temurun dari generasi ke generasi, jati diri inilah yang masih dipelihara dan diperkuat sebagai perwujudan rasa syukur dan penghormatan kepada para leluhur yang lahir dari sebuah proses sejarah yang tidak terputus dalam perjalanan masa untuk terus menegakan martabat beserta hak asal-usul sebagai identitas budaya dan warisan budaya nasional. Dengan sistem yang diwariskan para leluhur, masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi menata seluruh kehidupannya baik sebagai individu maupun sebagai kelompok sosial  dan religius yang khas, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sistem-sistem inilah yang dipertahankan dan diperjuangkan sebagai sumber semangat hidup yang tekandung dalam sistem adat yang masih dibudayakan dan dilestarikan.


Dasar Pemikiran
Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi tidak pernah terlepas dari filosofi-filosofi hidup yang sudah menjadi satu jiwa pada diri masyarakat kasepuhan sendiri. Filosofi inilah yang menjadi pedoman hidup masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, basis dari hukum adat kasepuhan adalah filosofi hidup, “tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh”, yang secara harfiah artinya ‘tiga se wajah, dua se rupa, satu yang itu juga”.  Tata  nilai  ini  mengandung  pengertian  bahwa  hidup  hanya  dapat  berlangsung dengan baik dan tenteram bila dipenuhi tiga syarat,  yaitu (1)  tekad, ucap dan lampah, (niat  atau  pemikiran,  ucapan  dan  tindakan)  harus  selaras  dan  dapat  dipertanggung jawabkan kepada  incu-putu (keturunan warga kasepuhan) dan  sesepuh (para orang tua dan  nenek  moyang);  (2)  jiwa,  raga  dan  perilaku,  harus  selaras  dan  berahlak;  (3) kepercayaan adat sara, nagara, dan mokaha harus selaras, harmonis dan tidak bertentangan satu dengan lainnya. Selain pedoman dalam bersosialisasi antar masyarakat, masyarakat kasepuhan memiliki interaksi dengan alam. Melalui filosofi “Ibu bumi, bapak langit, tanah ratu” yang intinya dalam kehidupannya, masyarakat harus menjaga keutuhan bumi beserta segala isinya sehingga keseimbangan alam pun tetap terjaga.

Berdasarkan filosofii-filosofi inilah masyarakat kasepuhan memiliki keyakinan untuk terus menjaga apa yang sudah diwariskan oleh para leluhurnya, baik menjaga hubungan dengan manusia lain dan menjaga hubungan dengan alam. Salah satu warisan leluhur yang masih diterapkan dalam kehidupan masyarakat kasepuhan adalah sistem pertanian ladang/huma (rurukan) dan sawah yang dilakukan satu kali dalam satu tahun. Sistem pertanian ini tidak sekedar sebuah kegiatan pertanian yang secara umum menuju pada produktivitas, namun sistem pertanian di masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi lebih berorientasi pada suatu interaksi yang kuat antar masyarakat dengan Tuhan, masyarakat dengan masyarakat serta masyarakat dengan alam.  Dalam pengelolaan sistem pertanian, mulai dari mempersiapkan lahan sampai pada mengistirahatkan lahan kembali selalu diikuti dengan rangkaian upacara atau ritual adat yang menyertainya yang sudah diwariskan oleh para leluhur.


Tujuan

  1. Mempertahankan dan memelihara adat istiadat warisan dari para leluhur.
  2. Mempererat persatuan dan kesatuan antar masyarakat adat, masyarakat non adat, dan  pemerintah.
  3. Melestarikan salah satu budaya dari keberagaman budaya Indonesia
Harapan
Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi sebagai suatu komunitas yang tidak lepas dari tradisi adat yang menyertainya dalam hal ini secara tidak langsung memiliki peran yang cukup berpengaruh dalam menjaga keutuhan budaya Indonesia yakni melalui sistem pertanian tradisional dan kegiatan-kegiatan adat lainnya. Oleh karena itu, diperlukan perhatian penuh dari pemerintah sebagai salah satu aktor yang ikut berpartisipasi dalam mendukung keberlanjutan dan pemeliharaan  adat yang sudah ada sejak dulu sampai sekarang.

Keluaran
Keluaran yang diharapkan dari terlaksananya ritual-ritual adat ini adalah kebudayaan lokal yang tetap utuh dan terjaga. Selain itu, pihak Kasepuhan Sinar Resmi dapat melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, baik masyarakat adat lainnya, masyarakat non-adat, akademisi dan pemerintah dalam melestarikan dan memelihara kebudayaan lokal.

DESKRIPSI KEGIATAN
Ritual-ritual adat yang dilakukan di Kasepuhan Sinar Resmi dilakukan secara rutin dan berulang, dalam jangka bulanan dan tahunan. Ritual bulanan yang dilakukan adalah opatbelasna, yang dilakukan setiap bulan. Ritual tahunan terkait dengan sistem pertanian, prosesi pertanian sawah dan ladang, Sedekah Ruwah dan Mulud, Prah-prahan, Nyimur, Beberes Bengkong,  serta upacara Seren Taun yang dilakukan setahun sekali.

Ritual Opatbelasna
Ritual ini dilakukan setiap tanggal 13 malam 14 dalam kalender Islam/Bulan Saka atau saat bulan purnama muncul. Ritual ini dilakukan untuk selamatan bulanan. Ritual ini dihadiri oleh Panghulu yang memimpin doa dan disaksikan oleh para kolot lembur. Dalam acara ini juga berbagai macam hidangan antara lain kue-kue seperti papais, awug, dan pasung yang dibuat oleh ibu-ibu. Pada malam harinya sebelum selamatan dimulai pada pukul 12 malam, ibu-ibu membuat rurujakan sembilan rupa diantaranya cau emas, anggur, jeruk, nanas, tomat, kelapa, pepaya, buah asam dan curing.

Prosesi untuk Pertanian Ladang (Huma) dan Sawah
Sistem pertanian di Kasepuhan Sinar Resmi terbagi dalam pertanian ladang (huma) dan sawah. Keduanya memiliki perbedaan dalam prosesi pelaksanaannya mulai dari mempersiapkan lahan untuk digarap hingga mengistirahatkan lahan yang telah digunakan.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pertanian ladang
Kegiatan
Bulan
(Sistem Kalender Islam)
Pelaksana *)
Narawas
(menandai lokasi yang akan dijadikan lahan huma)
Jumadil awal
Lk
Nyacar
(membersihkan lahan, biasanya selama 1 minggu setelah itu di keringkan selama 15 hari – 1 bulan)
Jumadil awal
Lk, Pr, P
Ngahuru
(membakar semak kering untuk dijadikan pupuk)
Jumadil akhir
Lk
Ngerukan
(mengumpulkan sisa-sisa yang belum terbakar )
Jumadil akhir
Lk, Pr, P
Ngaduruk
(membakar sisa-sisanya)
Jumadil akhir
Lk, Pr
Nyara
(meremahkan tanah)
Jumadil akhir
Lk, Pr, P
Ngaseuk
(penanaman bibit padi dengan menggunakan tongkat atau aseuk)
Rajab
Lk, Pr, P
Ngored
(menyiangi rumput)
Ruwah
Lk, Pr, P
Mipit/ Dibuat
(memotong padi/ panen)
Haji
Lk, Pr
Ngadamel lantayan
(membuat tempat menjemur padi)
Haji
Lk
Ngalantaykeun
(proses menjemur padi pada lantayan)
Haji
Lk, Pr
Mocong
(mengikat padi yang kering)
Muharam
Lk, Pr, P
Ngunjal
(diangkut ke lumbung padi)
Muharam
Lk
Ngaleuitkeun
(memasukkan ke lumbung)
Muharam
Lk, Pr
Ngeuleupkeun
(dirapikan)
Muharam
Lk
Ngadieukeun indung pare
(menyimpan padi di dalam leuit)
Muharam
Lk
Selametan
(ampih pare)
Muharam
Lk, Pr, P



Dari 17 prosesi di atas, lima kegiatan utama yang harus dilakukan antara lain :

  • Ngaseuk : dimulainya kegiatan menanam padi dengan memasukkan benih ke dalam lubang aseuk.
  • Beberes Mager: ritual untuk menjaga padi dari serangan h`              ama. Kegiatan ini dilakukan oleh pemburu di ladang Abah (ladang milik kasepuhan) dengan membaca doa. Kegiatan ini dilaksanakan sekitar bulan Muharam.
  • Ngarawunan : ritual untuk meminta isi padi agar tumbuh dengan subur, sempurna dan tidak ada gangguan. Kegiatan ini dilakukan oleh semua incu putu untuk meminta doa kepada abah melalui bagian pamakayaan. Ngasrawunan dilakukan setelah padi berumur tiga bulan sampai empat bulan.
  • Mipit: kegiatan memanen padi yang dilakukan lebih dulu oleh Abah sebagai pertanda masuknya musim panen.
  • Nutu: kegiatan menumbuk padi pertama hasil panen.
  • Nganyaran: memasak nasi menggunakan padi hasil panen pertama, dua bulan setelah masa panen.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pertanian sawah
Kegiatan
Bulan
(Sistem Kalender Islam)
Pelaksana*)
Numpang galeng
(membuat pematang)
Muharam
Lk, P
Ngabaladah
(menyiangi lahan)
Silih mulud
Lk, P
Ngambangkeun
(mengisi lahan dengan air / merendam)
Jumadil awal
Lk, P
Ngangler
(membersihkan permukaan lahan dari gulma yang tumbuh sebagai persiapan untuk tebar)
Ruwah
Lk, Pr, P
Tebar/ ngipuk
(membuat persemaian padi dengan cara menebar untaian padi)
Jumadil akhir
Lk, Pr
Tandur
(menanam padi)
Ruwah
Lk,, Pr, P
Ngarambet
(membersihkan gulma yang ada di sawah)
Puasa
Pr
Babad galeng
(membersihkan rumput di pematang sawah)
Syawal
Lk, Pr,P
Dibuat ku etem/ neugel
(panen padi dengan alat etem / ani-ani)
Haji
Lk, Pr, P
Ngadamel lantayan
(membuat tempat jemuran padi)
Haji
Lk
Ngalantay
(menjemur padi di lantayan)
Haji
Lk
Mocong pare
(mengikat padi menjadi pocong)
Sapar
Lk, Pr, P
Diangkut ka leuit/ ngunjal
(mengangkut padi ke leuit/ lumbung)
Sapar
Lk
Ngaleuitkeun
(memasukkan ke leuit/ lumbung)
Sapar
Lk
Dieulep di leuit
(merapikan padi di dalam leuit/ lumbung)
Sapar
Lk, Pr
Ngadiukkeun indung
(memasukan padi induk ke dalam leuit)
Sapar
Lk, Pr
Disalametan nganyaran
(selamatan sebagai tanda syukur dengan memasak padi pertama kali)
Silih mulud
Pr

Keterangan *):
Lk        : laki-laki
Pr         : perempuan
P          : Pemuda/pemudi

Setelah semua kegiatan pertanian selesai, diadakan kegiatan Tutup Nyambut yang menandakan selesainya semua aktivitas pertanian di sawah ditandai dengan acara selametan. Salah satu rangkaian kegiatan pertanian penting mengenai sistem pertanian sawah yang utama setelah upacara Seren Taun adalah Turun Nyambut. Kegiatan Turun Nyambut  merupakan pertanda dimulainya masa untuk membajak sawah dan mempersiapkan lahan untuk ditanami padi kembali.

Seren Taun
Upacara ini dilakukan untuk mensyukuri hasil panen pada tahun tersebut dan sebagai hiburan untuk masyarakat yang telah bekerja selama satu tahun dalam pertanian. Rangkaian acara dimulai dengan musyawarah terlebih dahulu dengan melibatkan seluruh incu putu untuk menentukan besarnya anggaran yang dibutuhkan. Setelah  musyawarah selesai, dilakukan serah ponggokan. Para kolot lembur (kepala kampung/dusun)  dan kepala ranggeyan berkumpul untuk mendiskusikan besarnya biaya yang ditanggung per orang untuk biaya seren taun untuk diserahkan kepada Abah. Setelah serah ponggokan Abah melakukan ziarah ke karamat (astana) leluhurnya mulai dari Abah Udjat, makam Abah Ardjo, Uyut Rusdi, Uyut Jasiun, makam yang di Tegal Lumbu, makam yang di Pasir Talaga, Makam yang di Lebak Binong, Makam yang di Lebak Larang,  hingga makam leluhurnya di Cipatat, Bogor.

Rangkaian kegiatan upacara seren taun


  1. Mempersiapkan peralatan upacara yang terdiri dari: padi, orang yang membawa padi di bakul, orang yang membawa bunga tujuh macam bunga, orang yang membawa bokor (seupaheun), putri tujuh (orang yang mengiringi orang yang membawa padi), dan diiringi oleh para sesepuh kampung, dan kesenian diantaranya : rengkong, dogdog lojor, jipeng, debus, tari tani, gondang buhun dan kidung buhun.
  2. Untuk perjalanan ampih pare ka leuit, seluruh kegiatan diatur oleh Lengser.
  3. Ketika sampai di leuit, pemimpin doa mulai membaca doa, setelah doa selesai padi dimasukkan ke dalam leuit yang didahului oleh Abah dan Ambu sebagai pimpinan adat.
  4. Setelah dari leuit, seluruh tamu undangan dan para sesepuh mengadakan Nyoreang Alam ka Tukang Nyawang anu Bakal Datang (melaporkan hasil dan kegiatan-kegiatan yang sudah dikerjakan dan merencanakan kegiatan-kegiatan ke depan).
  5. Acara hiburan, mulai dari kesenian gondang gogonjakan, kesenian debus, jaipongan, dan wayang golek.
Sedekah Ruwah dan Sedekah Mulud
Sedekah Mulud merupakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kegiatan yang dilakukan adalah pembacaan doa untuk selametan dan membagikan makanan kepada warga. Sebelum memasak makanan, para ibu harus membersihkan rambut dan badan (diangir mandi) menggunakan beuleum sapu pare, serta alat-alat yang digunakan untuk memasak seperti dulang, kukusan, hihid, pangarih, dandang/ seeng, kuluwung, dan aseupan, harus dicuci bersih sebelum digunakan. Kemudian, para ibu mulai memasak nasi untuk dibawa ke rumah panghulu untuk selametan dan dibagikan kepada warga. Sedekah Mulud dilakukan pada hari Rabu.

Sedekah Ruwah merupakan peringatan hari wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kegiatan sedekah Ruwah, sama dengan kegiatan Sedekah Mulud. Namun, sedekah Ruwah dilaksanakan pada hari Jumat.

Prah-prahan
Prah-prahan merupakan kegiatan menjaga dan menghindarkan segala penyakit (tolak bala) yang dilakukan pada pada Bulan Safar dalam kalender Islam. Semua warga dan incu putu ditandai oleh ketupat dan tangtang angin baik di rumah maupun di kandang ternak.

Nyimur
Nyimur merupakan ritual dimana seluruh balita (usia 0-5 tahun) dikumpulkan untuk diteteskan (peureuh) air kembang ke dalam mata. Acara ini dilaksanakan  di rumah dukun pada Bulan Silih Mulud.

Beberes Bengkong  Kegiatan sesudah mengkhitankan semua incu putu baik laki-laki maupun perempuan.

Untuk perempuan sekitar usia 2 atau 3 tahun sedangkan untuk laki-laki sekitar usia 5 sampai 7 tahun. Setelah selesai khitan, yang mempunyai hajat memberikan beras dan uang ke bengkong sebagai parawanten. Kemudian bengkong (orang yang mengkhitankan laki-laki) dan ema’ berang (orang yang mengkhitankan perempuan) membuat nasi tumpeng yang akan diserahkan ke rumah Abah.

PELAKSANA DAN PESERTA KEGIATAN
Kegiatan ritual adat dilaksanakan oleh seluruh masyarakat adat kasepuhan. Kegiatan dibuka oleh abah sebagai pimpinan adat dan dipimpin oleh Panghulu yang membacakan doa-doa. Khusus untuk kegiatan Seren Taun, kegiatan ini dihadiri tidak hanya oleh masyarakat adat kasepuhan Sinar Resmi, melainkan oleh tamu undangan mulai dari pemerintah sampai masyarakat di luar masyarakat adat yang biasanya berasal dari Jakarta, Bandung, Bogor, Sukabumi, dan sekitarnya. Peserta kegiatan Seren Taun  bisa mencapai 3000 orang tiap tahunnya.