Pembuatan Film "Rumah Diatas Awan" Kasepuhan Sinar Resmi

Rumah Diatas Awan

Kunjungan Kasepuhan Sinar Resmi ke Purwakarta

Kunjungan Kasepuhan Sinar Resmi ke Purwakarta

Kunjungan Kasepuhan Sinar Resmi ke Purwakarta

Kunjungan Kasepuhan Sinar Resmi ke Purwakarta

Kunjungan Kasepuhan Sinar Resmi ke Purwakarta

Seren Taun, Ritual Ratusan Tahun Silam




Seren Taun, Ritual Ratusan Tahun Silam - Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memanggul padi saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.




WARGA Kasepuhan Ciptagelar Kesatuan Adat Banten Kidul tengah bersolek menyambut hajatan besar ucapan syukur hasil panen padi. Aura hajatan mulai terasa begitu masuk ke pelataran alun-alun. Alun-alun kasepuhan mulai ramai oleh warga dan tamu dari berbagai daerah sehari sebelum puncak acara Seren Taun, ritual yang sudah dilakukan sejak 646 tahun silam.


Di pelataran alun-alun Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, panggung pertunjukan wayang golek berada tepat di depan Imah Gede, rumah silaturahmi warga. Pameran hasil kerajinan warga disuguhkan di sisi timur alun-alun berdampingan dengan panggung hiburan.

Kemeriahan perayaan Seren Taun semakin lengkap saat lantunan lagu dangdut penyanyi pongdut (jaipong dangdut) hampir tak putus semalam suntuk menemani warga yang berkerumun berjoget mengusir dingin.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mempersiapkan upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Hari masih cukup pagi saat sekitar 11 orang warga memotong dua ekor kerbau yang akan digunakan sebagai lauk pauk selama upacara. Sementara itu, ibu-ibu sibuk mempersiapkan hidangan untuk disajikan di Imah Gede. Maklum saja, sepanjang upacara adat Seren Taun semua tamu yang datang di Kasepuhan Ciptagelar tidak akan dibiarkan kelaparan. Mereka dijamu dan bebas untuk menikmati hidangan di Imah Gede.

Hebatnya, seluruh keperluan upacara disiapkan secara swadaya dari hasil mengumpulkan iuran kolektif dari warga. Bunyi rentetan petasan terdengar bersahutan dari alun-alun tanda dimulainya perayaan Seren Taun, Minggu (24/8/2014).

Di tengah alun-alun sepuluh orang wanita berkebaya hitam terlihat memukul-mukul lesung dengan alu menciptakan bunyi-bunyian berirama. Ribuan warga dan tamu memadati pinggir alun-alun, seolah tak sabar ingin menyaksikan kemeriahan upacara Seren Taun.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat memasukkan padi ke dalam lumbung (leuit) komunal saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Sementara itu rombongan debus, baris kolot, dayang-dayang, dan perkusi dogdog lonjor mengiringi barisan rengkong yang memikul padi berjalan menyusuri pesawahan menuju lumbung padi negara (Leuit Si Jimat) di alun-alun.

Bagi tamu yang datang dari jauh, rasa lelah setelah melewati jalan berbatu terjal serta tanjakan dan turunan curam sejauh 20 kilometer dari Kampung Cikadu sirna, larut dalam kemeriahan Seren Taun. "Nggak nyesel datang jauh-jauh dari Jakarta ke sini, biar harus repot lewat jalan batu dan naik turun gunung sampai mobil selip di tanjakan," ujar Mutiara yang sengaja datang bersama anak dan suaminya.

Seren sendiri berarti seserahan atau menyerahkan, taun berarti tahun. Seren Taun dimaknai warga sebagai upacara penyerahan sedekah (tatali)hasil panen padi selama setahun serta memohon berkah pada Tuhan agar hasil panen tahun mendatang lebih meningkat. Sebagai masyarakat agraris, kehidupan masyarakat adat kasepuhan bergantung dari budidaya padi. Secara turun-temurun mereka menanam padi menggunakan sistem lahan kering atau huma maupun lahan basah atau persawahan.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mempersiapkan upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Dalam setahun warga hanya sekali menanam padi, setelah panen lahan akan diistirahatkan. Mereka percaya alam perlu keseimbangan, dengan diistirahatkan maka akan memulihkan lahan agar kembali subur. Sebagai peghormatan terhadap padi yang menjadi sumber utama kehidupan mereka, masyarakat adat kasepuhan melakukan berbagai ritual dari padi ditanam hingga padi dipanen.

Mereka juga memercayai bahwa padi merupakan wujud seorang dewi yaitu Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Jika mereka merawat padi dengan baik dari ditabur hingga dipanen, maka Nyi Pohaci Sanghyang akan memberi kesuburan atas hasil panen yang melimpah. Begitu pentingnya padi dalam konsep hidup masyarakat adat Kasepuhan, mereka pantangan membuang dan memperjualbelikan padi.

"Semua hasil panen padi dimanfaatkan untuk kebutuhan warga kasepuhan, tidak ada yang dijual. Meskipun hanya menanam padi sekali dalam setahun, alhamdulillah warga tidak pernah kekurangan beras. Di sini warga juga pantang membuang nasi. Akan sakit fisik jika membuang nasi," ujar Upar Suparman, warga Kasepuhan Ciptagelar.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memanggul padi saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Sebagai ritual terakhir dari prosesi Seren Taun adalah upacara Ngadiukeun, atau memasukkan pocong padi ke Leuit Si Jimat oleh Pimpinan Adat Kasepuhan Ciptagelar yaitu Abah Ugi Sugriana Rakasiwi. Kidung puji-pujian kepada Nyi Pohaci Sanghyang Asri dan iringan suara kecapi menambah sakral suasana di pelataran Leuit Si Jimat.

Usai pocong padi pertama dimasukkan ke Leuit Si Jimat, warga mengikuti memasukkan padi ke leuit karuhun atau lumbung komunal milik Kasepuhan. "Mulanya Leuit Si Jimat digunakan untuk cadangan warga jika seandainya terjadi musim paceklik. Tapi saat ini warga tidak pernah mengambil dari Leuit Si Jimat, karena di setiap kampung di Kasepuhan terdapat lumbung komunal yang jumlahnya ratusan dan bisa dimanfaatkan warga," ujar Humas Kasepuhan, Yoyoyogasmana.

Dari hasil sensus dalam tiga hari yang biasa disebut Ponggokan saat ini terdapat 8.305 lumbung padi di seluruh Kasepuhan. Rata-rata tiap lumbung mampu menampung 500 hingga 1.000 pocong (ikat) padi.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat melewati lantayan (jemuran padi) saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Menurut Yoyoyogasmana, tahun ini hasil panen padi sedikitnya mencapai 850.106 pocong padi di seluruh Kasepuhan. "Dari data terakhir yang masuk, hasil panen dari Abah sendiri 8.095 pocong padi, sedangkan dari warga 842.011 pocong padi. Itu belum semuanya terdata. Jadi bisa lebih," ujarnya.

Yoyoyogasmana menambahkan bahwa panen tahun ini lain dari biasanya. Abah Ugi Sugriana Rakasiwi yang biasanya hanya membuat tiga hingga empat lumbung padi baru tiap tahun, kali ini membuat 11 lumbung baru untuk menampung panen padi. Upacara puncak Seren Tahun pun selesai setelah pocong padi masuk ke dalam Leuit Si Jimat.

Pengelolaan lahan dan hasil panen padi masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar menjadi bukti kearifan lokal untuk kemandirian dan ketahanan pangan.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2014/08/27/130600527/Seren.Taun.Ritual.Ratusan.Tahun.Silam

Peta Lokasi Kasepuhan Di Sukabumi

Peta Lokasi Kasepuhan Di Sukabumi
Peta Lokasi Kasepuhan Di Sukabumi

Budaya Atau Masyarakat Adat Kasepuhan Adat Banten

Source Image: www.halimunsalak.org

Budaya Atau Masyarakat Adat Kasepuhan Adat Banten - Wilayah kerja TNGHS terletak dalam 28 kecamatan, dimana 9 kecamatan di Kabupaten Bogor, 8 kecamatan di Kabupaten Sukabumi dan 11 kecamatan di Kabupaten Lebak. Secara keseluruhan terdapat 123 desa yang sebagian/seluruh wilayahnya berada di dalam dan/atau berbatasan langsung dengan kawasan TNGHS.

Komposisi jumlah penduduk dari ke-123 desa tersebut terdiri dari: 155.345 jiwa di Kabupaten Sukabumi (Tahun 2006), 296.138 jiwa di Kabupaten Bogor (Tahun 2005) dan 154.892 jiwa di Kabupaten Lebak (Tahun 2005). Berdasarkan survey kampung yang dilakukan oleh GHSNP MP-JICA pada tahun 2005 dan 2007, tercatat ada 348 kampung yang berada di dalam kawasan TNGHS.

Masyarakat lokal yang ada umumnya adalah suku Sunda, yang terbagi ke dalam kelompok masyarakat kasepuhan dan bukan kasepuhan. Untuk masyarakat kasepuhan, secara historis penyebarannya terpusat di Kampung Urug, Citorek, Bayah, Ciptamulya, Cicarucub, Cisungsang, Sirnaresmi, Ciptagelar dan Cisitu. Masyarakat kasepuhan masih memiliki susunan organisasi secara adat yang terpisah dari struktur organisasi pemerintahan formal (desa).

Berdasarkan wilayah hidupnya, masyarakat Kasepuhan Banten Kidul tersebar di Banten, Sukabumi dan Bogor. Di daerah Banten Selatan (Banten Kidul) warga Kasepuhan (incu putu) bermukim di sekitar Kecamatan Bayah yang antara lain terkonsentrasi di kampung Tegal Lumbu, Cicarucub, Cisungsang, Cicemet, Sirnagalih dan banyak lagi perkampungan tersebar di sekitar Desa Mekarsari, Sirnagalih, Sukamulya, Neglasari, Hergamanah, Warung Banten, Cihambali, Cikuda dan Citorek. Di Kecamatan Jasinga antara lain tersebar di sekitar kampung Gajrug, Sajira, Guradog dan berbagai kampung lain di sekitar wilayah tersebut. Di daerah Bogor Selatan, mereka bermukim di sekitar Kecamatan Cigudeg tepatnya di kampung Urug, Pabuaran dan Cipatat Kolot di wilayah Desa Kiara Pandak. Di daerah Sukabumi Selatan mereka tersebar di sekitar wilayah pedalaman Kecamatan Cisolok dan sepanjang sungai Cibareno Girang (Adimihardja, 1992). Selebihnya adalah daerah-daerah yang ditempati oleh urang sunda asli bukan Kasepuhan dan Baduy (masyarakat lokal).

Berdasarkan fungsi yang harus dijalankan dari tatali piranti karuhun, sebaran Masyarakat Kasepuhan tersebut, Kasepuhan Sinaresmi, Ciptagelar, Cisungsang, Cisitu, Cicarucup, Citorek dan Bayah merupakan kelompok Kasepuhan utama. Salah satu indikasi yang menunjukan tentang ”keutamaan” kelompok Kasepuhan tersebut adalah banyaknya perwalian. Sebagai contoh Kasepuhan Ciptagelar – dulu dikenal sebagai Kasepuhan Ciptarasa – membawahi 560 perwalian Kasepuhan dari tiap-tiap desa di tiga kabupaten (Lebak, Sukabumi dan Bogor). Selain dari Bogor, Sukabumi dan Lebak, pengikut kasepuhan juga berasal dari beberapa daerah lain. Banyak tidaknya pengikut dalam suatu kelompok Kasepuhan sangat mungkin juga dipengaruhi oleh kebiasaan berpindahnya kampung gede Kasepuhan (sebagai pusat orientasi sosio-kultural dan politik Masyarakat Kasepuhan) tersebut.

Bahasa yang umum digunakan oleh masyarakat lokal adalah bahasa Sunda dan mayoritas penduduknya beragama Islam walau masih terdapat yang menganut kepercayaan lama (sunda wiwitan). Masyarakat kasepuhan di TNGHS merupakan bagian dari warisan budaya nasional. Mereka masih memegang teguh adat kebudayaan nenek moyangnya terlihat dalam keseragaman kehidupan sehari-hari, arsitektur rumah, sistem pertanian dan interaksi dengan hutan.

Masyarakat setempat memanfaatkan hutan dan lahan sekitarnya dalam berbagai cara, yaitu seperti huma/ladang (swidden cultivation), sawah (rice growing), kebun (garden), kebuntalun (mixed garden) dan talon (mixed forest).  Masyarakat memiliki kearifan tradisional yang sifatnya tutun temurun dalam pemanfaatan dan konservasi hutan, melalui pembagian wilayah berhutan berdasarkan intensitas pemanfaatan dan tingkat perlindungannya yaitu adanya ‘leuweung titipan’ (protected forest), ‘leuweung tutupan’ (conservation forest), atau ‘leuweung sampalan’ (opened forest). Mereka masih memiliki interaksi yang kuat dengan hutan sekitarnya. Masyarakat juga memiliki pengetahuan etnobotani dan menggunakan tanaman atau tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka berdasarkan pengetahuan tersebut, serta mempertahankan pola pertanian yang mampu melestarikan sumberdaya genetik padi (Oryza sativa) lokal. Pada saat ini sebagian anggota Masyarakat Kasepuhan mulai meninggalkan kearifan tradisional yang mereka miliki akibat dinamika proses sosial yang terjadi.

Source: www.halimunsalak.org