Tampilkan postingan dengan label Kasepuhan Ciptarasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasepuhan Ciptarasa. Tampilkan semua postingan

Kesenian Dog Dog Lojor Kasepuhan Sinar Resmi

Kesenian Sunda, Kasepuhan
Sumber gambar: dedisuhendra.com

Pengertian

Dogdog Lojor merupakan untaian dua kata, yaitu dogdog dan lojor. Dogdog merupakan alat musik tabuh yang terbuat dari batang kayu yang berongga dengan bulatan berdiameter 15 cm dan ujungnya mengecil berdiameter antara 12-13 cm, sedangkan panjangnya lebih kurang 90 cm hingga 100 cm. Pada ujung bulatan yang berdiameter 15 m itu ditutup dengan kulit kambing yang telah dikeringkan, kemudian diikat dengan tali bambu dan dipaseuk / baji untuk mengencangkan kulit tersebut, sehingga kalau dipukul Akan mengeluarkan suara dog.. dog.. dog. Akhirnya disebutlah alat musik itu dogdog. Sedangkan lojor (bahasa Sunda dialek Banten) berarti `panjang'. Biasanya dogdog yang ;mum panjangnya berukuran antara 30 — 40 cm. Dogdog lojor mempunyai panjang 90 — 100 cm. Jadi, dogdog lojor adalah dogdog yang panjang.

Fungsi
Upacara Seren Taun, Upacara Sedekah, Upacara Ruwatan, syukuran 40 hari bayi lahir, dan Upacara Ngabaladah `pembukaan' ladang baru dan upacara perkawinan, adalah upacara yang selalu diiringi demean seni dogdog lojor ini.

Masyarakat Banten khususnya masyarakat Baduy mempunyai upacara-upacara yang dianggap sakral dan magis, seperti upacara di atas. Di sini dogdog lojor sangat berperan karena seni ini dianggap seni yang buhun dan mengandung nilai-nilai magis.

Seni dogdog lojor dapat dijadikan sarana ungkapan rasa syukur, ungkapan penolak bala, dan ungkapan persembahan, atau bahkan ungkapan rasa kegembiraan. Semua dapat dilihat dalam upacara yang laksanakannya. Namun dalam perkembangan dewasa ini seni dogdog lojor memudar, dari seni yang dianggap sakral dan magis menjadi seni hiburan yang kapan dan di mana saja dapat dipertunjukkan.

Pemain dan Waditra
Pemain yang diperlukan dalam seni ini berjumlah minimal 12 orang yang terdiri atas 4 orang pemain dogdog dan 8 orang pemain angklung; yang dibagi menjadi dua kelompok demean jumlah orang yang sama. Para pemain tidak dimonopoli oleh kaum pria saja, kini demean perkembangan jaman maka perempuan pun bisa memainkan seni ini. Waditra yang dipergunakan dalam permainan ini adalah dogdog dan angklung.

Jalannya Permainan
Diawali pukulan dogdog sebagai aba-aba bagi pemain angklung, maka permainan ± 1 mulai pada pukulan dogdog pakpak pong, pak……………. Pak……. pong, serempak pemain angklung membunyikan angklungnya dengan membawakan lagu "Kacang Buncis" atau "Tongeret".


Kacang Buncis

Cis kacang buncis nyengcle
Ti anggolati kuda
Nu geulis tembong pingping
Keun bae jang kaula
Cis kacang buncis nyengcle
Kembang cengek nu mencenges
Nu geulis keur ngalewe
Dasar awewe jerenges

Tongeret

Tongeret tong
Tongeret tong kerrmiiiii
Tamiang dibeulahan dibeulahan
Awewe wantererrrrrrrrrrrr Awewe wantereriiiiiiirrrr Ngajak kawin kaduaan kaduaan

Biasanya instrumen "Tongeret" adalah irama dasar yang terus-menerus mengiringi permainan seni dogdog lojor ini.

Permainan dogdog lojor ini terdiri atas :

Ucing-ucingan

Oray-orayan
Ngadu bedug / dogdog
Ngadu domba
Ngadu jalan

Berbagai permainan waditra di atas, menimbulkan berbagai macam gerak para mainnya sehingga terlihat sangat dinamis demean teriakan hoyah para pemainnya. :gitu pula demean lincah mereka memainkan angklung dan dogdog dalam berbagai rakan tadi.

Beberapa istilah permainan ini yang sama permainan dogdog lojor yang ada di Jawa Barat :

Angklung Buncis daerah Priangan
Angklung Gubrag daerah Bogor
Bedug Lojor daerah Banten Selatan dan Utara
Angklung Bungko daerah Cirebon
Badeng Badud daerah Priangan sebelah utara

Wilayah penyebaran dogdog lojor ini berada di Banten selatan, yaitu Bayah, carucuk, Ciherang, Cisungsang, Cisitu,Citokek, Cinangka, dan Kanekes Baduy, juga di Sukabumi khususnya di Sirnaresmi dan Ciptarasa Cisolok.

Tokoh yang berjasa dalam pengembangan seni dogdog lojor adalah :

Di Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak :
  • Bapak Oco
  • Bapak Mansyur
  • Bapak Okri



Pasir Nangka Kabupaten Lebak :
  • Panji Wulung
  • UPEC pimpinan bapak Uhen Cikotok.



Sumber : Masduki Aam dkk. 2005 Kesenian Tradisional Provinsi Banten Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung
Sumber gambar: dedisuhendra.com

Seren Taun, Ritual Ratusan Tahun Silam




Seren Taun, Ritual Ratusan Tahun Silam - Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memanggul padi saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.




WARGA Kasepuhan Ciptagelar Kesatuan Adat Banten Kidul tengah bersolek menyambut hajatan besar ucapan syukur hasil panen padi. Aura hajatan mulai terasa begitu masuk ke pelataran alun-alun. Alun-alun kasepuhan mulai ramai oleh warga dan tamu dari berbagai daerah sehari sebelum puncak acara Seren Taun, ritual yang sudah dilakukan sejak 646 tahun silam.


Di pelataran alun-alun Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, panggung pertunjukan wayang golek berada tepat di depan Imah Gede, rumah silaturahmi warga. Pameran hasil kerajinan warga disuguhkan di sisi timur alun-alun berdampingan dengan panggung hiburan.

Kemeriahan perayaan Seren Taun semakin lengkap saat lantunan lagu dangdut penyanyi pongdut (jaipong dangdut) hampir tak putus semalam suntuk menemani warga yang berkerumun berjoget mengusir dingin.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mempersiapkan upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Hari masih cukup pagi saat sekitar 11 orang warga memotong dua ekor kerbau yang akan digunakan sebagai lauk pauk selama upacara. Sementara itu, ibu-ibu sibuk mempersiapkan hidangan untuk disajikan di Imah Gede. Maklum saja, sepanjang upacara adat Seren Taun semua tamu yang datang di Kasepuhan Ciptagelar tidak akan dibiarkan kelaparan. Mereka dijamu dan bebas untuk menikmati hidangan di Imah Gede.

Hebatnya, seluruh keperluan upacara disiapkan secara swadaya dari hasil mengumpulkan iuran kolektif dari warga. Bunyi rentetan petasan terdengar bersahutan dari alun-alun tanda dimulainya perayaan Seren Taun, Minggu (24/8/2014).

Di tengah alun-alun sepuluh orang wanita berkebaya hitam terlihat memukul-mukul lesung dengan alu menciptakan bunyi-bunyian berirama. Ribuan warga dan tamu memadati pinggir alun-alun, seolah tak sabar ingin menyaksikan kemeriahan upacara Seren Taun.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat memasukkan padi ke dalam lumbung (leuit) komunal saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Sementara itu rombongan debus, baris kolot, dayang-dayang, dan perkusi dogdog lonjor mengiringi barisan rengkong yang memikul padi berjalan menyusuri pesawahan menuju lumbung padi negara (Leuit Si Jimat) di alun-alun.

Bagi tamu yang datang dari jauh, rasa lelah setelah melewati jalan berbatu terjal serta tanjakan dan turunan curam sejauh 20 kilometer dari Kampung Cikadu sirna, larut dalam kemeriahan Seren Taun. "Nggak nyesel datang jauh-jauh dari Jakarta ke sini, biar harus repot lewat jalan batu dan naik turun gunung sampai mobil selip di tanjakan," ujar Mutiara yang sengaja datang bersama anak dan suaminya.

Seren sendiri berarti seserahan atau menyerahkan, taun berarti tahun. Seren Taun dimaknai warga sebagai upacara penyerahan sedekah (tatali)hasil panen padi selama setahun serta memohon berkah pada Tuhan agar hasil panen tahun mendatang lebih meningkat. Sebagai masyarakat agraris, kehidupan masyarakat adat kasepuhan bergantung dari budidaya padi. Secara turun-temurun mereka menanam padi menggunakan sistem lahan kering atau huma maupun lahan basah atau persawahan.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mempersiapkan upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Dalam setahun warga hanya sekali menanam padi, setelah panen lahan akan diistirahatkan. Mereka percaya alam perlu keseimbangan, dengan diistirahatkan maka akan memulihkan lahan agar kembali subur. Sebagai peghormatan terhadap padi yang menjadi sumber utama kehidupan mereka, masyarakat adat kasepuhan melakukan berbagai ritual dari padi ditanam hingga padi dipanen.

Mereka juga memercayai bahwa padi merupakan wujud seorang dewi yaitu Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Jika mereka merawat padi dengan baik dari ditabur hingga dipanen, maka Nyi Pohaci Sanghyang akan memberi kesuburan atas hasil panen yang melimpah. Begitu pentingnya padi dalam konsep hidup masyarakat adat Kasepuhan, mereka pantangan membuang dan memperjualbelikan padi.

"Semua hasil panen padi dimanfaatkan untuk kebutuhan warga kasepuhan, tidak ada yang dijual. Meskipun hanya menanam padi sekali dalam setahun, alhamdulillah warga tidak pernah kekurangan beras. Di sini warga juga pantang membuang nasi. Akan sakit fisik jika membuang nasi," ujar Upar Suparman, warga Kasepuhan Ciptagelar.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memanggul padi saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Sebagai ritual terakhir dari prosesi Seren Taun adalah upacara Ngadiukeun, atau memasukkan pocong padi ke Leuit Si Jimat oleh Pimpinan Adat Kasepuhan Ciptagelar yaitu Abah Ugi Sugriana Rakasiwi. Kidung puji-pujian kepada Nyi Pohaci Sanghyang Asri dan iringan suara kecapi menambah sakral suasana di pelataran Leuit Si Jimat.

Usai pocong padi pertama dimasukkan ke Leuit Si Jimat, warga mengikuti memasukkan padi ke leuit karuhun atau lumbung komunal milik Kasepuhan. "Mulanya Leuit Si Jimat digunakan untuk cadangan warga jika seandainya terjadi musim paceklik. Tapi saat ini warga tidak pernah mengambil dari Leuit Si Jimat, karena di setiap kampung di Kasepuhan terdapat lumbung komunal yang jumlahnya ratusan dan bisa dimanfaatkan warga," ujar Humas Kasepuhan, Yoyoyogasmana.

Dari hasil sensus dalam tiga hari yang biasa disebut Ponggokan saat ini terdapat 8.305 lumbung padi di seluruh Kasepuhan. Rata-rata tiap lumbung mampu menampung 500 hingga 1.000 pocong (ikat) padi.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat melewati lantayan (jemuran padi) saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Menurut Yoyoyogasmana, tahun ini hasil panen padi sedikitnya mencapai 850.106 pocong padi di seluruh Kasepuhan. "Dari data terakhir yang masuk, hasil panen dari Abah sendiri 8.095 pocong padi, sedangkan dari warga 842.011 pocong padi. Itu belum semuanya terdata. Jadi bisa lebih," ujarnya.

Yoyoyogasmana menambahkan bahwa panen tahun ini lain dari biasanya. Abah Ugi Sugriana Rakasiwi yang biasanya hanya membuat tiga hingga empat lumbung padi baru tiap tahun, kali ini membuat 11 lumbung baru untuk menampung panen padi. Upacara puncak Seren Tahun pun selesai setelah pocong padi masuk ke dalam Leuit Si Jimat.

Pengelolaan lahan dan hasil panen padi masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar menjadi bukti kearifan lokal untuk kemandirian dan ketahanan pangan.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2014/08/27/130600527/Seren.Taun.Ritual.Ratusan.Tahun.Silam

Peta Lokasi Kasepuhan Di Sukabumi

Peta Lokasi Kasepuhan Di Sukabumi
Peta Lokasi Kasepuhan Di Sukabumi

Budaya Atau Masyarakat Adat Kasepuhan Adat Banten

Source Image: www.halimunsalak.org

Budaya Atau Masyarakat Adat Kasepuhan Adat Banten - Wilayah kerja TNGHS terletak dalam 28 kecamatan, dimana 9 kecamatan di Kabupaten Bogor, 8 kecamatan di Kabupaten Sukabumi dan 11 kecamatan di Kabupaten Lebak. Secara keseluruhan terdapat 123 desa yang sebagian/seluruh wilayahnya berada di dalam dan/atau berbatasan langsung dengan kawasan TNGHS.

Komposisi jumlah penduduk dari ke-123 desa tersebut terdiri dari: 155.345 jiwa di Kabupaten Sukabumi (Tahun 2006), 296.138 jiwa di Kabupaten Bogor (Tahun 2005) dan 154.892 jiwa di Kabupaten Lebak (Tahun 2005). Berdasarkan survey kampung yang dilakukan oleh GHSNP MP-JICA pada tahun 2005 dan 2007, tercatat ada 348 kampung yang berada di dalam kawasan TNGHS.

Masyarakat lokal yang ada umumnya adalah suku Sunda, yang terbagi ke dalam kelompok masyarakat kasepuhan dan bukan kasepuhan. Untuk masyarakat kasepuhan, secara historis penyebarannya terpusat di Kampung Urug, Citorek, Bayah, Ciptamulya, Cicarucub, Cisungsang, Sirnaresmi, Ciptagelar dan Cisitu. Masyarakat kasepuhan masih memiliki susunan organisasi secara adat yang terpisah dari struktur organisasi pemerintahan formal (desa).

Berdasarkan wilayah hidupnya, masyarakat Kasepuhan Banten Kidul tersebar di Banten, Sukabumi dan Bogor. Di daerah Banten Selatan (Banten Kidul) warga Kasepuhan (incu putu) bermukim di sekitar Kecamatan Bayah yang antara lain terkonsentrasi di kampung Tegal Lumbu, Cicarucub, Cisungsang, Cicemet, Sirnagalih dan banyak lagi perkampungan tersebar di sekitar Desa Mekarsari, Sirnagalih, Sukamulya, Neglasari, Hergamanah, Warung Banten, Cihambali, Cikuda dan Citorek. Di Kecamatan Jasinga antara lain tersebar di sekitar kampung Gajrug, Sajira, Guradog dan berbagai kampung lain di sekitar wilayah tersebut. Di daerah Bogor Selatan, mereka bermukim di sekitar Kecamatan Cigudeg tepatnya di kampung Urug, Pabuaran dan Cipatat Kolot di wilayah Desa Kiara Pandak. Di daerah Sukabumi Selatan mereka tersebar di sekitar wilayah pedalaman Kecamatan Cisolok dan sepanjang sungai Cibareno Girang (Adimihardja, 1992). Selebihnya adalah daerah-daerah yang ditempati oleh urang sunda asli bukan Kasepuhan dan Baduy (masyarakat lokal).

Berdasarkan fungsi yang harus dijalankan dari tatali piranti karuhun, sebaran Masyarakat Kasepuhan tersebut, Kasepuhan Sinaresmi, Ciptagelar, Cisungsang, Cisitu, Cicarucup, Citorek dan Bayah merupakan kelompok Kasepuhan utama. Salah satu indikasi yang menunjukan tentang ”keutamaan” kelompok Kasepuhan tersebut adalah banyaknya perwalian. Sebagai contoh Kasepuhan Ciptagelar – dulu dikenal sebagai Kasepuhan Ciptarasa – membawahi 560 perwalian Kasepuhan dari tiap-tiap desa di tiga kabupaten (Lebak, Sukabumi dan Bogor). Selain dari Bogor, Sukabumi dan Lebak, pengikut kasepuhan juga berasal dari beberapa daerah lain. Banyak tidaknya pengikut dalam suatu kelompok Kasepuhan sangat mungkin juga dipengaruhi oleh kebiasaan berpindahnya kampung gede Kasepuhan (sebagai pusat orientasi sosio-kultural dan politik Masyarakat Kasepuhan) tersebut.

Bahasa yang umum digunakan oleh masyarakat lokal adalah bahasa Sunda dan mayoritas penduduknya beragama Islam walau masih terdapat yang menganut kepercayaan lama (sunda wiwitan). Masyarakat kasepuhan di TNGHS merupakan bagian dari warisan budaya nasional. Mereka masih memegang teguh adat kebudayaan nenek moyangnya terlihat dalam keseragaman kehidupan sehari-hari, arsitektur rumah, sistem pertanian dan interaksi dengan hutan.

Masyarakat setempat memanfaatkan hutan dan lahan sekitarnya dalam berbagai cara, yaitu seperti huma/ladang (swidden cultivation), sawah (rice growing), kebun (garden), kebuntalun (mixed garden) dan talon (mixed forest).  Masyarakat memiliki kearifan tradisional yang sifatnya tutun temurun dalam pemanfaatan dan konservasi hutan, melalui pembagian wilayah berhutan berdasarkan intensitas pemanfaatan dan tingkat perlindungannya yaitu adanya ‘leuweung titipan’ (protected forest), ‘leuweung tutupan’ (conservation forest), atau ‘leuweung sampalan’ (opened forest). Mereka masih memiliki interaksi yang kuat dengan hutan sekitarnya. Masyarakat juga memiliki pengetahuan etnobotani dan menggunakan tanaman atau tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka berdasarkan pengetahuan tersebut, serta mempertahankan pola pertanian yang mampu melestarikan sumberdaya genetik padi (Oryza sativa) lokal. Pada saat ini sebagian anggota Masyarakat Kasepuhan mulai meninggalkan kearifan tradisional yang mereka miliki akibat dinamika proses sosial yang terjadi.

Source: www.halimunsalak.org

Sejarah Kasepuhan Adat Banten Kidul


Sejarah Kasepuhan Adat Banten kidul - Kasepuhan Banten Kidul adalah kelompok masyarakat adat Sunda yang tinggal di sekitar Gunung Halimun, terutama di wilayah Kabupaten Sukabumi sebelah barat hingga ke Kabupaten Lebak, dan ke utara hingga ke Kabupaten Bogor. Kasepuhan (Sd. sepuh, tua) menunjuk pada adat istiadat lama yang masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul sekarang melingkup beberapa desa tradisional dan setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat. Terdapat beberapa Kasepuhan di antaranya adalah Kasepuhan Sinar Resmi, Kasepuhan Ciptagelar, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, serta Kasepuhan Cibedug, Kasepuhan Cipta Mulya.

Salah satu ritual adat tahunan Kasepuhan yang selalu menarik minat masyarakat adalah upacara Seren Taun; yang sesungguhnya adalah pernyataan syukur warga Kasepuhan atas keberhasilan panen padi.

Sejarah Kasepuhan Kesatuan Adat Banten Kidul
Sejarah adanya Masyarakat Adat berdiri pada Tahun 611 M bertempat di Sajra Banten, terus pindah ke Limbang Kuning. Di Limbang Kuning sampai Tahun 1.400 M disitu belum dibentuk kasepuhan adat baten kidul. pada tahun 1974 kesatuan adat banten kidul di bentuk diantara pencetus adanya kesatuan adat banten kidul adalah kasepuhan Cikaret, kasepuhan Cisungsang, kasepuhan Cicarucup, kasepuhan Citorek, kasepuhan Bayah.

Diakhir Tahun 1.400 m barulah ada keturunan Pertama bernama AKI BUYUT BAO ROSA, dan istrinya bernama AMBU SAMPIH. Selama 150 Tahun dia bertempat di Cipatat Bogor. Dari Cipatat berpindah lagi ke Maja. Setelah beliau wapat, Kasepuhan diteruskan oleh anaknya yang bernama AKI BUYUT WARNING dan istrinya bernama NINI BUYUT SAMSIAH. Beliau menjadi Kasepuhan selama 202 Tahun di Maja lalu pindah ke Lebak Larang.

Tiga Tahun diLebak Larang, beliau meninggal. Kasepuhan diteruskan oleh AKI BUYUT KAYON Tempat pun berpindah ke Lebak Binong selama 27 tahun. Diakhir hayat AKI BUYUT KAYON, generasi penerusnya saat itu belum dewasa yang bernama AKI BUYUT ARIKIN, sehingga kepemimpinan Kasepuhan diwarnen* oleh AKI BUYUT SANTAYAN di Pasir Talaga. Selama 23 Tahun AKI BUYUT SANTAYAN memimpin. *Warnen adalah orang yang diserahi menjadi Pemangku adat karena penerusnya belum dewasa.

Dimasa AKI BUYUT ARIKIN dewasa barulah beliau menjadi pemimpin Kasepuhan. Beliau bertempat di Tegal Lumbu selama 32 Tahun, dan diteruskan oleh UYUT JASIUN lalu pindah ke Cijangkorang. Disitu tidak lama hanya 7 Tahun beliau pindah ke Bojong CISONO selama 17 Tahun.

Setelah UYUT JASIUN wafat, pemimpin kasepuhan diteruskan oleh penerusnya yaitu UYUT RUSDI. Pada Tahun 1940 UYUT RUSDI pindah ke Cicemet. Di Cicemet, UYUT RUSDI membuka hutan menjadi pemukiman. 19 Tahun kemudian, beliau berpindah lagi ke Cikaret tahun 1959, dan pada tahun 1960 beliau wafat. Kasepuhan diterukan Oleh ABAH ARJO. Selang waktu 18 tahun ABAH ARJO pun pindah ke Ciganas dan hanya 6 Tahun di Ciganas kemudian beliau wapat pada tanggal 29 Agustus 1982. Pada waktu wafat nya ABAH ARJO yang menyaksikan / yang ada ialah Anak yang paling Dewasa adalah ABAH UDJAT SUDJATI, ABAH UUM Anak yang paling Tua Kebetulan Lagi Menengok Ibu nya di Pandeglang bersama Ema TITIN (UMI NYAI ). Pada Waktu itu ABAH UDJAT SDJATI Masih menjabat sebagai Kepala Desa Sirna Resmi dan  selanjutnya ABAH UDJAT SUDJATI menunjuk ABAH ENCUP SUCIPTA (ABAH ANOM ) / Adik ABAH UDJAT SUDJATI  yang baru berumur 16 Tahun Untuk meneruskan ABAH ARJO yang seharusnya di teruskan oleh ABAH UDJAT SUDJATI. Pada Tahun 1985 terus ABAH UDJAT SUDJATI habis masa jabatan kepala Desa Sirna Resmi terus ABAH ENCUP SUCIPTA ( ABAH ANOM ) mengadakan Musyawarah dengan ABAH UDJAT SUDJATI tentang masalah kepengurusan Kasepuhan kedepan nya. dan hasil keputusan musyawarah antara ABAH UDJAT SUDJATI dengan ABAH ENCUP SUCIPTA (ABAH ANOM ) adalah ABAH ENCUP ( ABAH ANOM ) meneruskan kasepuhan di daerah Cipta rasa  yang sekarang menjadi kasepuhan cipta gelar yang di teruskan oleh anak nya ABAH UGI SUGRIANA RAKASIWI dan ABAH UDJAT SUDJATI Melaksanakan Amanat / wangsit dari para leluluhur yang selama menjabat kepala Desa Sinar Resmi dijalankan oleh ABAH ENCUP SUCIPTA ( ABAH ANOM ) dan meneruskan kegiatan di daerah Sirna Resmi dengan nama Kasepuhan Sirna Resmi. ABAH UDJAT SUDJATI meninggal pada tanggal 2 Pebruari 2002 dan di teruskan oleh ABAH ASEP NUGRAHA sebagai pemangku adat di Kasepuhan Sinar Resmi.

Kasepuhan Sinaresmi, Ciptagelar dan Ciptamulya adalah perkampungan adat yang terletak di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok ,Kabupaten Sukabumi. Orang-orang dari kota atau dari luar tidak pernah ada yang menyebut Kaolotan atau bisa jadi mereka juga tidak tahu apa itu Kaolotan. Perkampungan Komunitas masyarakat adat ini merupakan salah satu masyarakat adat yang melakukan kehidupan sehari-harinya berdasarkan aturan adat. Kebiasaan kehidupan mereka sehari-hari, selalu bercermin kepada hukum adat atau aturan adat. Karena setiap kehidupan mereka sehari-hari telah diatur dalam hukum adat atau aturan adat. Tetapi apabila mereka tidak mentaati atau melanggar aturan adat, maka mereka akan kualat (Kabendon).

Ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan oleh masyarakat adat Kasepuhan yaitu bertani. Bertani merupakan mata pencaharian mereka sehari-hari, mulai dari bertani disawah, ladang dan kebun. Untuk Pertanian yang menjadi prioritas mereka yaitu untuk pesawahan.

Alam adalah salah satu kebutuhan warga Adat. Warga adat Kasepuhan tidak bisa hidup tanpa adanya alam. Alam sangat berguna bagi warga adat Kasepuhan, contohnya hutan. Hutan, selain menghasilkan air, juga sebagai sumber obat-obatan tradisional dan sebagai mata pencaharian bagi warga masyarakat adat kasepuhan. Air juga digunakan untuk mengairi pesawahan yang ada di sekitar warga adat Kasepuhan. Mata pencaharian utama warga adat kasepuhan yaitu bertani terutama untuk pesawahan dan berladang merupakan pekerjaan  sampingan. Warga adat Kasepuhan pekerjaan utamanya bertani di pesawahan dan itu memerlukan air. Oleh karena itu masyarakat adat sangat menjaga kelestarian hutan yang merupakan sumber penghidupan bagi mereka. Dalam kelembagaan adat, telah diatur tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh warga adat kasepuhan. Ngajaga leuweng adalah merupakan salah satu bentuk kepedulian warga adat Kasepuhan dalam menjaga dan melestarikan hutan.

Hutan merupakan kebutuhan yang paling utama bagi masyarakat adat Kasepuhan. Hutan fungsinya sangat banyak sekali  meramahkan lingkungan, memberikan air dan mencerminkan  keindahan satu daerah dimana Kasepuhan berada di daerah perbukitan yang suhu udaranya dingin sesuai dengan kodrat alam yang diberikan kepada daerah Kasepuhan. Kebersamaan warga Kasepuhan (incu putu) dalam melestarikan alam pada perinsipnya sama dengan pemerintah melalui Taman Nasional Gunung Halimun Salak TNGHS  karena Kasepuhan berada dikaki gunung TNGHS, Dimana Alam/hutan  dengan manusia saling membutuhkan. Oleh karena itu, ekosistim melestarikan Alam/hutan dilingkungan warga Adat adalah tetap menjadi kebiasaan.

Menjaga flora dan fauna, mengutuhkan sumber mata air menanam pohon di tempat hutan yang gundul  dengan tanaman hortikultura (budidaya buah, sayuran, bunga, obat-obatan dan lain-lain). Penjaga leuweung (hutan) dipimpin oleh satu orang pimpinan, dan dibantu oleh masyarakat adat yang lain. Bertugas memastikan hutan agar tetap hijau dan juga memastikan apakah ada penebang liar yang masuk atau tidak. Warga adat Kasepuhan sangat peduli dalam menjaga hutan. Itu terbukti dengan adanya pembagian ruang kelola hutan, meraka membagi hutan kedalam tiga bagian yaitu : Hutan Tutupan, Hutan Titipan dan Hutan Garapan.

Hutan Titipan yaitu hutan yang tidak boleh dimasuki atau hutan larangan . Hutan ini tidak boleh disentuh atau tidak boleh dimasuki oleh warga masyarakat adat Kasepuhan. Apabila hutan tersebut dimasuki oleh masyarakat maka sesuatu akan terjadi kepada sipelanggar itu baik berupa penyakit atau yang lainnya. Ada juga yang melanggar yaitu memasuki hutan larangan dan mereka tidak bisa pulang kerumah lagi karena tidak menemukan jalan pulang dari hutan titipan tersebut. Hutan ini fungsinya sangat besar bagi masyarakat adat Kasepuhan yaitu menyimpan air. Sawah-sawah yang ada disekitar Masyarakat kaolotan diairi dari Hutan Titipan ini. Selain untuk pesawahan, air ini juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat Kasepuhan. Mulai dari kebutuhan untuk minum, untuk mandi dan lain-lain.

Hutan Tutupan  yaitu hutan yang boleh di garap tapi harus ada izin dari pemangku adat dulu.  Hutan ini hanya dimanfaatkan untuk keperluan membangun rumah. Hutan ini biasanya lokasinya tidak terlalu jauh dari pemukiman masyarakat. Hutan ini tidak boleh dibuka apabila di hutan garapan masih tersedia  bahan-bahan untuk keperluan/membuat rumah.

Hutan Garapan yaitu hutan yang menjadi mata pencaharian mereka sehari-hari yaitu berupa pesawahan, ladang dan kebun. Hutan Garapan ini siapa saja boleh menggarapnya asalkan ada kemauan. Baik itu Masyarakat adat atau bukan, mereka tetap dibolehkan menggarap lahan tersebut. Namun, ada satu hal yang tidak boleh yaitu mereka tidak boleh memiliki tanah tersebut secara individu dan mereka hanya diperbolehkan menggarapnya. Tidak ada batasan tertentu seberapa luas mereka harus menggarap. Dalam hal menggarap hutan garapan itu sesuai kemampuan kita. Sementara untuk pesawahan biasa nya sawah tersebut sudah merupan tanah milik atau surat pemberian hak menggrap. Sawah-sawah tersebut sifatnya sudah tanah milik dan orang lain tidak boleh menggarapnya. Ada juga aturan yang membolehkan orang lain menggarapnya yaitu sistem bagi hasil.

Meskipun warga Kasepuhan tinggal di Kawasan TNGHS (Taman Nasional Gunung Halimun Salak), ekosistem hutan masih terjaga dengan baik, kaya dengan berbagai jenis flora dan fauna.

Acara Ritual Seren Taun Kasepuhan Sinar Resmi ( Abah Asep Nugraha )



Seren Taun ke 434 kasepuhan Sinar Resmi 24-25 Agustus 2013

Seren Taun adalah upacara Ritual / mengucapkan rasa syukur atas hasil panen tahun sekarang, begitulah cara rasa bersyukur masyarakat adat Kasepuhan Sirna Resmi ini yang di pimpin oleh Pemangku Adat yaitu Abah Asep Nugraha. Seren Taun adalah kegiatan dimana Ritual yang sangat sakral dan di laksanakan setiap satu tahun sekali dimana masyarakat adat kasepuhan mengucapkan rasa syukur dengan hasil panen yang berlimpah dan keberhasilan dalam bertani meskipun bercocok tanam satu kali dalam setahun dan bisa mencukupi kebutuhan beras dalam kurun waktu satu satahun. setiap  hasil panen padi, baik padi dari sawah atau hasil padi dari ladang ( huma ) masyarakat adat Kasepuhan Sirna Resmi menyimpan hasil panen nya ke dalam leuit ( tempat penyimpanan padi ) dan seren taun dilaksanakan setiap habis panen padi (panen pare ). 

Seren Taun untuk tahun sekarang akan di laksanakan Mulai tanggal 20-25 Agustus 2013 dan acara ritual puncak nya pada tanggal 24-25 Agustus 2013, setiap kegiatan Seren Taun di ikuti oleh berbagai lapisan masyarakat, baik masyarakat adat kasepuhan, masyarakat luar dan institusi Pemerintahan. selain acara ritual Seren Taun dengan memasukan padi kedalam leuit ( ampih pare ka leuit ) selama kegiatan seren taun ada berbagai macam hiburan kesenian daerah yang di suguhkan untuk menghibur masyarakat adat Sinar Resmi maupun para tamu undangan yang datang menghadiri acara ritual seren taun tersebut. setiap acara Seren Taun berlangsung di ikuti oleh berbagai masyarakat baik masyarakat adat maupun dari luar masyarakat adat jumlah yang hadir mencapai ribuan orang.

bagi para teman-teman pecinta seni dan budaya bisa langsung datang untuk menghadiri acara ritual seren taun tersebut, Kasepuhan Sirna Resmi bertempat di kp. Sirna Resmi Desa Sirna Resmi Kecamatan Cisolok Kabupaten SukabumiPpropinsi Jawa Barat kalau dari arah Palabuhanratu sekitar 25 Km.

untuk informasi lebih jelas bisa menghubungi :
 contact person
+6287720664666 ( Abah Asep nugaraha )