Tampilkan postingan dengan label Kasepuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasepuhan. Tampilkan semua postingan

Wisata Kampung Adat Atau Kasepuhan Adat CIptagelar


Bulan Mei sampai dengan akhir Agustus merupakan bulan yang sangat pas untuk melakukan kegiatan Traveling, Hiking atau Backpaking. Pas dalam hal waktu dan pas pula dalam keuangannya. Saya sendiri memilih ketiganya traveling, hiking dan backpaking jadi satu paket, tetapi persoalannya adakah tempat  yang pas dari paket tersebut untuk bisa di kunjungi? Jawabanya tentu saja banyak, mau tempat murah atau mahal, mau jauh atau dekat tergantung kemampuan kita melakukan riset dan menggesek ATM betul!!!. Tetapi bagi saya cukup berkunjung ke Kampung Adat Ciptagelar saja sudah jadi satu paket traveling, hiking dan backpaking murah meriah walaupun aslinya kesana berkendara naik motor. Saya meyakini jika banyak orang-orang sudah tahu keberadaan Kampung Adat Ciptagelar ini, tetapi kalo ditanya sudah pernah kesana atau belum pernah itu sudah lain soal. Saya pribadi sangat merekomendasikan ini tempat sebagai salah satu destinasi wisata budaya dan adat paforit (baca : Favorit), apalagi bila kalian ngaku orang USA ( Urang Sunda Asli ) yang belum tahu tempat ini malu pisan euy (sambil tunjuk hidung), karena orang USA aslinya mah sudah sering berkunjung ke Kampung adat Ciptagelar.
Bagi kalian Travelunter yang berniat akan mendatangi Kampung Adat Ciptagelar, supaya kalian tidak bingung mengenai hal apa saja yang perlu di persiapkan atau yang bertanya apakah ada syarat tertentu untuk bisa datang ke Kampung Ciptagelar tersebut, nah saya dengan baik hati dan tidak sombong hihihi.. berbagi tips serta membahas sekilas mengenai Kampung Adat Ciptagelar ini.

Seren Taun, Ritual Ratusan Tahun Silam




Seren Taun, Ritual Ratusan Tahun Silam - Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memanggul padi saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.




WARGA Kasepuhan Ciptagelar Kesatuan Adat Banten Kidul tengah bersolek menyambut hajatan besar ucapan syukur hasil panen padi. Aura hajatan mulai terasa begitu masuk ke pelataran alun-alun. Alun-alun kasepuhan mulai ramai oleh warga dan tamu dari berbagai daerah sehari sebelum puncak acara Seren Taun, ritual yang sudah dilakukan sejak 646 tahun silam.


Di pelataran alun-alun Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, panggung pertunjukan wayang golek berada tepat di depan Imah Gede, rumah silaturahmi warga. Pameran hasil kerajinan warga disuguhkan di sisi timur alun-alun berdampingan dengan panggung hiburan.

Kemeriahan perayaan Seren Taun semakin lengkap saat lantunan lagu dangdut penyanyi pongdut (jaipong dangdut) hampir tak putus semalam suntuk menemani warga yang berkerumun berjoget mengusir dingin.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mempersiapkan upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Hari masih cukup pagi saat sekitar 11 orang warga memotong dua ekor kerbau yang akan digunakan sebagai lauk pauk selama upacara. Sementara itu, ibu-ibu sibuk mempersiapkan hidangan untuk disajikan di Imah Gede. Maklum saja, sepanjang upacara adat Seren Taun semua tamu yang datang di Kasepuhan Ciptagelar tidak akan dibiarkan kelaparan. Mereka dijamu dan bebas untuk menikmati hidangan di Imah Gede.

Hebatnya, seluruh keperluan upacara disiapkan secara swadaya dari hasil mengumpulkan iuran kolektif dari warga. Bunyi rentetan petasan terdengar bersahutan dari alun-alun tanda dimulainya perayaan Seren Taun, Minggu (24/8/2014).

Di tengah alun-alun sepuluh orang wanita berkebaya hitam terlihat memukul-mukul lesung dengan alu menciptakan bunyi-bunyian berirama. Ribuan warga dan tamu memadati pinggir alun-alun, seolah tak sabar ingin menyaksikan kemeriahan upacara Seren Taun.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat memasukkan padi ke dalam lumbung (leuit) komunal saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Sementara itu rombongan debus, baris kolot, dayang-dayang, dan perkusi dogdog lonjor mengiringi barisan rengkong yang memikul padi berjalan menyusuri pesawahan menuju lumbung padi negara (Leuit Si Jimat) di alun-alun.

Bagi tamu yang datang dari jauh, rasa lelah setelah melewati jalan berbatu terjal serta tanjakan dan turunan curam sejauh 20 kilometer dari Kampung Cikadu sirna, larut dalam kemeriahan Seren Taun. "Nggak nyesel datang jauh-jauh dari Jakarta ke sini, biar harus repot lewat jalan batu dan naik turun gunung sampai mobil selip di tanjakan," ujar Mutiara yang sengaja datang bersama anak dan suaminya.

Seren sendiri berarti seserahan atau menyerahkan, taun berarti tahun. Seren Taun dimaknai warga sebagai upacara penyerahan sedekah (tatali)hasil panen padi selama setahun serta memohon berkah pada Tuhan agar hasil panen tahun mendatang lebih meningkat. Sebagai masyarakat agraris, kehidupan masyarakat adat kasepuhan bergantung dari budidaya padi. Secara turun-temurun mereka menanam padi menggunakan sistem lahan kering atau huma maupun lahan basah atau persawahan.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mempersiapkan upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Dalam setahun warga hanya sekali menanam padi, setelah panen lahan akan diistirahatkan. Mereka percaya alam perlu keseimbangan, dengan diistirahatkan maka akan memulihkan lahan agar kembali subur. Sebagai peghormatan terhadap padi yang menjadi sumber utama kehidupan mereka, masyarakat adat kasepuhan melakukan berbagai ritual dari padi ditanam hingga padi dipanen.

Mereka juga memercayai bahwa padi merupakan wujud seorang dewi yaitu Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Jika mereka merawat padi dengan baik dari ditabur hingga dipanen, maka Nyi Pohaci Sanghyang akan memberi kesuburan atas hasil panen yang melimpah. Begitu pentingnya padi dalam konsep hidup masyarakat adat Kasepuhan, mereka pantangan membuang dan memperjualbelikan padi.

"Semua hasil panen padi dimanfaatkan untuk kebutuhan warga kasepuhan, tidak ada yang dijual. Meskipun hanya menanam padi sekali dalam setahun, alhamdulillah warga tidak pernah kekurangan beras. Di sini warga juga pantang membuang nasi. Akan sakit fisik jika membuang nasi," ujar Upar Suparman, warga Kasepuhan Ciptagelar.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memanggul padi saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Sebagai ritual terakhir dari prosesi Seren Taun adalah upacara Ngadiukeun, atau memasukkan pocong padi ke Leuit Si Jimat oleh Pimpinan Adat Kasepuhan Ciptagelar yaitu Abah Ugi Sugriana Rakasiwi. Kidung puji-pujian kepada Nyi Pohaci Sanghyang Asri dan iringan suara kecapi menambah sakral suasana di pelataran Leuit Si Jimat.

Usai pocong padi pertama dimasukkan ke Leuit Si Jimat, warga mengikuti memasukkan padi ke leuit karuhun atau lumbung komunal milik Kasepuhan. "Mulanya Leuit Si Jimat digunakan untuk cadangan warga jika seandainya terjadi musim paceklik. Tapi saat ini warga tidak pernah mengambil dari Leuit Si Jimat, karena di setiap kampung di Kasepuhan terdapat lumbung komunal yang jumlahnya ratusan dan bisa dimanfaatkan warga," ujar Humas Kasepuhan, Yoyoyogasmana.

Dari hasil sensus dalam tiga hari yang biasa disebut Ponggokan saat ini terdapat 8.305 lumbung padi di seluruh Kasepuhan. Rata-rata tiap lumbung mampu menampung 500 hingga 1.000 pocong (ikat) padi.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat melewati lantayan (jemuran padi) saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Menurut Yoyoyogasmana, tahun ini hasil panen padi sedikitnya mencapai 850.106 pocong padi di seluruh Kasepuhan. "Dari data terakhir yang masuk, hasil panen dari Abah sendiri 8.095 pocong padi, sedangkan dari warga 842.011 pocong padi. Itu belum semuanya terdata. Jadi bisa lebih," ujarnya.

Yoyoyogasmana menambahkan bahwa panen tahun ini lain dari biasanya. Abah Ugi Sugriana Rakasiwi yang biasanya hanya membuat tiga hingga empat lumbung padi baru tiap tahun, kali ini membuat 11 lumbung baru untuk menampung panen padi. Upacara puncak Seren Tahun pun selesai setelah pocong padi masuk ke dalam Leuit Si Jimat.

Pengelolaan lahan dan hasil panen padi masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar menjadi bukti kearifan lokal untuk kemandirian dan ketahanan pangan.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2014/08/27/130600527/Seren.Taun.Ritual.Ratusan.Tahun.Silam

Peta Lokasi Kasepuhan Di Sukabumi

Peta Lokasi Kasepuhan Di Sukabumi
Peta Lokasi Kasepuhan Di Sukabumi

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar

Kampung Kasepuhan Ciptagelar.
Source gambar: disparbud.jabarprov.go.id
1. Lokasi dan Lingkungan

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar adalah sebuah kampung adat yang mempunyai ciri khas dalam lokasi dan bentuk rumah serta tradisi yang masih dipegang kuat oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat yang tinggal di Kampung Ciptagelar disebut masyarakat kasepuhan. Istilah kasepuhan berasal dari kata sepuh dengan awalan /ka/ dan akhiran /an/. Dalam bahasa Sunda, kata sepuh berarti \\\'kolot\\\' atau \\\'tua\\\' dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan pengertian ini, muncullah istilah kasepuhan, yaitu tempat tinggal para sesepuh. Sebutan kasepuhan ini pun menunjukkan model \\\'sistem kepemimpinan\\\' dari suatu komunitas atau masyarakat yang berasaskan adat kebiasaan para orang tua (sepuh atau kolot). Kasepuhan berarti \\\'adat kebiasaan tua\\\' atau \\\'adat kebiasaan nenek moyang\\\'. Menurut Anis Djatisunda (1984), nama kasepuhan hanya merupakan istilah atau sebutan orang luar terhadap kelompok sosial ini yang pada masa lalu kelompok ini menamakan dirinya dengan istilah keturunan Pancer Pangawinan.

Pada era 1960-an, Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar mempunyai nama khusus yang dapat dianggap sebagai nama asli masyarakat tersebut, yaitu Perbu. Nama Perbu kemudian hilang dan berganti menjadi kasepuhan atau kasatuan. Selain its I, mereka pun disebut dengan istilah masyarakat tradisi.

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar (selanjutnya ditulis Kampung Ciptagelar) merupakan nama baru untuk Kampung Ciptarasa. Artinya sejak tahun 2001, sekitar bulan Juli, Kampung Ciptarasa yang berasal dari Desa Sirnarasa melakukan "hijrah wangsit" ke Desa Sirnaresmi yang berjarak belasan kilometer. Di desa inilah, tepatnya di Kampung Sukamulya, Abah Anom atau Bapa Encup Sucipta sebagai puncak pimpinan kampung adat memberi nama Ciptagelar sebagai tempat pindahnya yang baru. Ciptagelar artinya terbuka atau pasrah. Kepindahan Kampung Ciptarasa ke kampung Ciptagelar lebih disebabkan karena "perintah leluhur" yang disebut wangsit. Wangsit ini diperoleh atau diterima oleh Abah Anom setelah melalui proses ritual beliau yang hasilnya tidak boleh tidak, mesti dilakukan. Oleh karena itulah perpindahan kampung adat bagi warga Ciptagelar merupakan bentuk kesetiaan dan kepatuhan kepada leluhurnya. Masyarakat atau warga Kampung Ciptagelar sebenarnya tidak terbatas di kampung tesebut saja tetapi bermukim secara tersebar di sekitar daerah Banten, Bogor, dan Sukabumi Selatan. Namun demikian sebagai tempat rujukannya, "pusat pemerintahannya" adalah Kampung Gede, yang dihuni oleh Sesepuh Girang (pemimpin adat), Baris Kolot (para pembantu Sesepuh Girang) dan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar yang ingin tinggal sekampung dengan pemimpin adatnya. Kampung Gede adalah sebuah kampung adat karena eksistensinya masih dilingkupi oleh tradisi atau aturan adat warisan leluhur.

Secara administratif, Kampung Ciptagelar berada di wilayah Kampung Sukamulya Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Jarak Kampung Ciptagelar dari Desa Sirnaresmi 14 Km, dari kota kecamatan 27 Km, dari pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi 103 Km dan dari Bandung 203 Km ke arah Barat.

Kampung Ciptagelar dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat (mobil) dan roda dua (motor). Jenis kendaraan roda empat harus mempunyai persyaratan khusus, yakni mempunyai ketinggian badan cukup tinggi di atas tanah serta dalam kondisi prima. Apabila tidak mempunyai persyaratan yang dimaksud kecil kemungkinan kendaraan tersebut sampai ke lokasi. Dan umumnya mobil-mobil demikian hanya sampai di kantor Desa Sirnaresmi yang sekaligus merupakan tempat parkirnya. Selebihnya menggunakan kendaraan ojeg atau mobil umum (jenis jeep) yang hanya ada sewaktu-waktu atau jalan kaki.

Guna mencapai lokasi tujuan, ada beberapa pilihan jalur jalan. Pilihan pertama adalah : Sukabumi - Pelabuhanratu. Pelabuhanratu - Cisolok berhenti di Desa Cileungsing. Dari Desa Cileungsing menuju Desa Sirnarasa dan berhenti di Kampung Pangguyangan. Di Kampung Pangguyangan semua kendaraan roda empat di parkir dan selanjutnya dari kampung ini menuju Kampung Ciptagelar ditempuh dengan jalan kaki atau naik ojeg. Sebagai catatan, melalui jalur ini kendaraan pribadi hanya sampai di Kampung Pangguyangan mengingat kondisi jalan yang berat.

Pilihan jalur kedua adalah melalui Desa Sirnaresmi. Melalui jalur ini seseorang dapat langsung sampai ke lokasi Kampung Ciptagelar. Hal ini disebabkan kondisi jalan relatif balk dibandingkan dengan jalur melalui Kampung Pangguyangan. Tentu saja kendaraan yang prima dan keterampilan pengendara kendaraan yang lihai merupakan prioritas utama, mengingat kondisi jalan yang berbatu, tikungan yang tajam serta jurang yang curam. Jalur pilihan lainnya adalah dari Pelabuhanratu menuju Cisolok, berhenti di Kampung Cimaja. Dari Desa Cimaja menuju Desa Cicadas dengan mengambil kendaraan umum jurusan Cikotok dan berhenti di kantor Desa Sirnaresmi. Dari kantor Desa Sirnaresmi menuju Kampung Ciptagelar.

Dalam hal ini kantor Desa Sirnaresmi menjadi patokan atau titik awal perjalanan menuju Kampung Ciptagelar. Dan di sini pula semua jenis kendaraan yang tidak memenuh persyaratan dititipkan atau diparkirkan. Selanjutnya perjalanan dilakukan dengan naik ojeg atau berjalan kaki. Perlu diketahui jalan ber-aspal hanya sampai di kantor Desa Simaresmi. Sementara itu jalan menuju ke Kampung Ciptagelar lebarnya hanya cukup untuk sebuah mobil dengan kondisi jalan berbatu-batu, naik turun dan relatif terjal. Di kiri kanan kadang-kadang dijumpai jurang yang cukup dalam.

Letak geografis Kampung Ciptagelar berada di atas ketinggian 1050 meter di atas permukaan taut. Udaranya sejuk cenderung dingin dengan suhu antara 20° C samDai 26° C dan suhu rata-rata setiaq tahun sekitar 25° C. Kampung Ciptagelar dikelilingi gunung-gunung, yaitu Gunung Surandil, Gunung Karancang, dan Gunung Kendeng.

2. Potensi Penduduk

Penduduk Kasepuhan atau Iebih tepat disebut warga kasepuhan dapat dikelompokkan pada dua bagian. Kelompok pertama adalah warga jiwa jero dan kelompok kedua adalah warga jiwa luar. Yang dimaksud warga jiwa jero adalah warga kasepuhan yang memiliki pertalian darah dengan Abah Anom meskipun pertaliannya sudah sangat jauh dan sangat rumit untuk ditelusuri. Warga jiwa jero ini bertempat tinggal di Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar dan kampung-kampung lainnya dengan tetap mengikuti semua tradisi kasepuhan secara penuh, terutama dalam bidang pertanian.

Kelompok kedua yaitu warga jiwa luar adalah mereka yang statusnya dalam warga kasepuhan sebagai warga simpatisan atau sebagai pengikut kasepuhan. Pada umumnya, warga jiwa luar berada di luar kasepuhan Ciptagelar dan tidak melakukan tradisi pertanian secara penuh tetapi tetap mengakui kasepuhan dan sering meminta bantuan spiritual kepada sesepuh girang.

Warga jiwa luar kasepuhan mempunyai kewajiban untuk membayar uang ngajiwa (sensus para incu putu) dan ngalaukan (iuran dana upacara seren taun). Menurut Abah Anom, jiwa luar tidak hanya tersebar di wilayah Sukabumi, tetapi menyebar sampai ke Lebak, Bogor, Bandung, Jakarta, Lampung, Palembang bahkan sampai ke Sulawesi.

Berdasarkan catatan terakhir yang ada pads pamakayan (dukun tani) disebutkan bahwa jumlah warga kasepuhan yang termasuk dalam jiwa jero sebanyak 15.795 jiwa terhimpun dalam 3.833 KK. Sementara warga kasepuhan yang berada di Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar sebanyak 338 jiwa terhimpun dalam 76 KK. Pada umumnya, warga kasepuhan yang berada di Kampung Gede memeluk agama Islam. Kehidupan keagamaan mereka masih berbaur dengan sistem kepercayaan non Islami yang merupakan adat istiadat Ieluhurnya. Bahkan dalam beberapa hal adat istiadat lebih menonjol, misalnya kepercayaan terhadap Dewi Sri yang tercermin dalam berbagai upacara adat pertanian.

Pendidikan warga kasepuhan Ciptagelar relatif rendah. Pada umumnya, mereka hanya mengikuti pendidikan formal sampai kelas tiga sekolah dasar dan hanya beberapa orang saja yang telah menamatkan pendidikan Sekolah Dasar dan SLTP, di antaranya Abah Anom Encup Sucipta. Kurangnya warga yang mendapat pendidikan formal, selain diakibatkan taraf ekonomi juga lebih dikarenakan oleh faktor tradisi dan persepsi warga terhadap pendidikan. Bagi warga kasepuhan, sekolah tidak perlu tinggi-tinggi, yang penting dapat membaca dan menulis, sebab akhirnyamereka tetap harus kembali pada tata cara kehidupan tradisional. Oleh karena itu, warga kasepuhan lebih mengarahkan anak-anak pada pekerjaan sebagai petani dan penerus tradisi leluhurnya.

Warga Kasepuhan Ciptagelar tidak menutup diri terhadap inovasi dari luar, terbukti dengan masuknya listrik dan alat-alat elektronik. Alat-alat elektronik yang dimiliki warga Kasepuhan Ciptagelar antara lain radio, radio tape dan televisi, beberapa di antaranya dilengkapi dengan parabola. Di rumah sesepuh girang (Abah Anom) terdapat alat elektronik radio tape dan televisi, bahkan khusus sesepuh girang mempunyai pesawat telepon dan kendaraan Jeep.

3. Potensi Budaya

a. Sejarah / Asal Usul

Ada dua buah cerita lisan yang mengetengahkan asal-usul Kampung Ciptagelar. Yang pertama Kampung Ciptagelar berasal dari keturunan Pakuan Pajajaran, yaitu Prabu Siliwangi. Sementara cerita lisan yang kedua berasal dari keturunan Ki Demang Haur Tangtu, yang merupakan salah satu pengawal Prabu Siliwangi. Secara singkat kedua cerita yang dimaksud dapat dikemukakan sebagai berikut.

Di daerah Jawa Barat telah berdiri beberapa kerajaan, di antaranya Kerajaan Sunda. Pada saat kerajaan Sunda diperintah oleh Prabu Siliwangi (warga Kasepuhan Ciptagelar menyebutnya Kanda Hyang atau Galuh Wening Bramasakti), kerajaan ini memiliki sebuah pasukan khusus yang disebut Bareusan Pangawinan. Bareusan Pangawinan adalah pasukan khusus kerajaan Sunda yang bersenjata tombak. Anggota pasukan ini dipilih dan dilatih secara langsung oleh para bupati, patih, atau puun. Pelatih secara langsung ini disebut guru alas. Para guru alas ini dianggap memiliki pengalaman, taat, setia, dan memiliki pengetahuan yang luas tentang perang dan kesaktian.

Pasukan khusus Bareusan Pangawinan dipimpin oleh tiga orang, yaitu Demang Haur Tangtu, Guru Alas Lumintang Ken-dungan, dan Puun Buluh Panuh; mereka ditugaskan oleh Prabu Siliwangi untuk menyelamatkan hanjuang bodas dari serangan pasukan Banten (1579). Setelah mendapat tugas tersebut, ketiganya bersama sang raja segera mundur dari Pakuan (ibukota) Padjajaran ke arah selatan, ke sebuah tempat yang disebut Tegal Buleud.

Di daerah Tegal Buleud, Sang Raja membagi-bagi pengikutnya dalam kelompok-kelompok kecil dan memberi kebebasan kepada para pengikutnya tersebut untuk memilih jalan hidup masing-masing. Sang Raja sendiri memilih jalan untuk ngahyang (menghilang dari pandangan mats). Sementara itu, ketiga pimpinan Bareusan Pangawinan bertekad untuk kembali ke dayeuh (kota) yang telah ditinggalkan.

Dalam perjalanan menuju dayeuh, ketiga pimpinan Bareusan Pangawinan sepakat untuk berpisah dan menempuh jalan hidup masing¬masing, tetapi tetap memelihara hubungan satu dengan Iainnya. Perjalanan hidup Guru Alas Lumintang Ken-dungan dan Puun Buluh Panuh selanjutnya tidak diceritakan dengan jelas. Sementara itu, Ki Demang Haur Tangtu akhirnya menetap di daerah Guradog (Jasinga) hingga akhir hayatnya. Kuburan Ki Demang Haur Tangtu sekarang ini dikenal dengan sebutan Makam Dalem Tangtu Awileat. Di Kampung Guradog ini, Ki Demang Haur Tangtu mempunyai keturunan, yaitu warga yang sekarang bertempat tinggal di daerah Citorek dan dikenal dengan sebutan kasepuhan. Dan turunan Ki Demang inilah asal muasal berkembangnya kelompok sosial Kasepuhan. Dalam cerita rakyat daerah Cisolok disebutkan bahwa Ki Demang Haur Tangtu memperistri Nini Tundarasa, seorang gadis dari Kampung Kaduluhur. Nini Tundarasa inilah yang dianggap sebagai leluhur atau nenek moyang warga Kasepuhan Ciptagelar. Setelah menjadi satu di antara beberapa istri Ki Demang Haur Tangtu, Nini Tundarasa pindah dari Kampung Kaduluhur ke Kampung Guradog. Selanjutnya, keturunan mereka berpindah¬pindah tempat tinggal dari satu tempat ke tempat lainnya.

Dalam perjalanan sejarahnya, warga kasepuhan telah berpindah beberapa kali tetapi tetap berada di sekitar daerah Banten, Bogor, dan Sukabumi Selatan. Awal perpindahan dimulai dari Ieluhur mereka, yaitu Nini Tundarasa yang pindah dari Kampung Kaduluhur ke Kampung Guradog.

Satu di antara keturunan Nini Tundarasa bemama Ki Buyut Mar yang lahir di Guradog pindah ke Kampung Lebak Binong (Banten). Anak Ki Buyut Mar yang bernama Aki Buyut Mas kemudian pindah ke Kampung Cipatat (Bogor) yang kini dikenal dengan nama Kasepuhan Urug. Selanjutnya keturunan Aki Buyut Mas yang bernama Aki Wami alias Buyut Gondok memindahkan Kampung Gede ke kampung Lebak Larang (Banten).

Aki Buyut Warni mempunyai dua orang anak laki-laki, yaitu Aki Buyut Kayon dan Aki Buyut San. Aki Buyut Kayon menggantikan ayahnya menjadi sesepuh girang dan memindahkan Kampung Gede ke Kampung Lebak Binong. Pengganti Aki Buyut Kayon, bernama Aki Buyut Arikin memindahkan lagi Kampung Gede ke Kampung Tegallumbu (Banten).

Aki Buyut Arikin mempunyai enam orang anak, yaitu Aki Buyut Sal, Aki Buyut Mak, Aki Buyut In, Nini Buyut As, Aki Buyut Jasiun, dan Aki Buyut Si. Aki Buyut Jasiun atau Ki Ciung ditetapkan sebagai sesepuh girang menggantikan ayahnya Aki Buyut Arikin. Sejak masa kepemimpinan Aki Buyut Jasiun atau Ama Jasiun, kasepuhan mulai berkembang ke daerah Sukabumi Selatan. Aki Buyut Jasiun sendiri memindahkan Kampung Gede dari Tegallumbu ke Bojong Cisono (Sukabumi). Aki Jasiun mempunyai dua orang anak, yaitu Aku Buyut Las atau Aki Buyut Rusdi dan Nini Buyut Ari. Pengganti Aki Buyut Jasiun adalah Aki Buyut Rusdi.

Aki Buyut Rusdi memindahkan kedudukan Kampung Gede ke daerah Cicemet (Sukabumi). Perpindahan ini terjadi pada masa pendudukan Jepang. Di Cicemet, Kampung Gede menetap cukup lama sampai masa kemerdekaan hingga terjadinya pemberontakan DUTII. Akibat gangguan dari pemberontak DUTII, pada tahun 1957 Aki Buyut Rusdi memindahkan pusat kasepuhan (Kampung Gede) ke Cikaret. Selanjutnya, terjadi perubahan nama kampung Cikaret menjadi Kampung Sirnaresmi. Aki Buyut Rusdi mempunyai empat orang anak, yaitu Nini Buyut Lasm atau Ma Anom, Ama Sup, Abah Ardjo, dan yang keempat tidak disebutkan namanya. Abah Ardjo atau Ki Ardjo kemudian menggantikan ayahnya, Aki Buyut Rusdi menjadi sesepuh girang kasepuhan.

Pada saat menjadi sesepuh girang, Abah Ardjo beberapa kali memindahkan lokasi pusat kasepuhan yang disebut Kampung Gede. Pertama, Abah Ardjo memindahkan Kampung Gede dari Kampung Cidamar ke sebuah kampung di sekitar Kecamatan Cisolok. Kedua, Ki Ardjo lalu memindahkan lagi ke Kampung Ciganas. Kampung Ciganas mengalami perubahan nama menjadi Sirnarasa. Ketiga, setelah bermukim selama 8 tahun di Kampung Ciganas, Ki Ardjo memindahkan Kampung Gede ke Kampung Linggarjati. Keempat, Ki Ardjo memindahkan Kampung Gede ke Kampung Ciptarasa.

Ki Ardjo pernah menikah sebanyak tujuh kali dan mempunyai anak tiga belas orang. Dari isteri keenam yang bernama Ma Tarsih mempunyai tiga orang anak, yaitu Encup Sucipta, [is, dan Lia. Dari isteri ketujuh yang bernama Ma Isah mempunyai enam anak.

Setelah Ki Arjo meninggal, anak pertama dari Ma Tarsih yaitu Encup Sucipta, menggantikan kedudukannya sebagai sesepuh girang. Kini, keluarga Abah Ardjo tinggal di rumah yang berada di sekitar rumah sesepuh girang. Sesepuh girang pada saat dilakukan pendataan ini (2002) adalah Abah Encup Sucipta. Dia Iebih dikenal dengan nama Abah Anom (Bapak Muda) karena saat dia menerima jabatan sesepuh girang masih berusia muda yaitu 17 tahun. Jabatan sesepuh girang bersifat turun temurun dan selalu diwariskan kepada anak laki-Iaki (tidak harus yang sulung). 

Selain Kasepuhan Ciptagelar, di daerah Banten dan sekitamya terdapat beberapa masyarakat yang menamakan dirinya sebagai kasepuhan, antara lain Kasepuhan Urug (Bogor Selatan), Kasepuhan Citorek, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Ciherang, Kasepuhan Cicarucub, dan Kasepuhan Cisitu (semua berada di Banten Selatan) serta Kasepuhan Sirnaresmi (Sukabumi). Semua kasepuhan tersebut diikat oleh sebuah lembaga persatuan yang disebut Kesatuan Adat Banten Kidul (Adimihardja, 1989). Pusat kepemimpinan Kesatuan Adat Banten Kidul berada di Kasepuhan Ciptagelar dengan ketuanya Abah Anom Encup Sucipta.

b. Religi 

Sistem Pengetahuan, dan Tabu Warga Kasepuhan Ciptagelar memeluk agama Islam. Namun dalam kehidupan sehari-hari pelaksanaan kegiatan keagamaannya masih didominasi kepercayaan terhadap adat dan tradisi nenek moyangnya (tatali paranti karuhun). Konsep atau pandangan hidupnya lebih menitikberatkan pada adat dan tradisinya ketimbang merujuk pada sumber utama agamanya (Al-Quran). Dalam hal ini, perenungan atas alam semesta telah membawa mereka pada kesimpulan alam semesta merupakan sistem yang teratur dan seimbang.

Keteraturan dan keseimbangan alam semesta merupakan sesuatu yang mutlak. Adanya malapateka atau bencana menurut pandangan warga kasepuhan adalah sebagai akibat keseimbangan dan keteraturan alam semesta terganggu. Oleh karena itulah tugas utama manusia adalah memelihara dan menjaga keseimbangan hubungan berbagai unsur yang ada di alam semesta ini.

Warga Kasepuhan Ciptagelar mempunyai keyakinan bahwa seseorang yang ingin sukses hidupnya atau bahagia, is harus dapat mencapai satu kesatuan hidup atau rasa manunggal, yakni menyatukan alam makro kosmos dengan mikro kosmos. Sebuah ungkapan yang sering dijadikan pedoman untuk mencapai rasa yang dimaksud adalah tilu sapamilu, dua sakarupa, hiji eta keneh (tiga sejenis, dua serupa, satu itu-itu juga). Ungkapan tersebut merupakan suatu pernyataan yang menggambarkan bahwa manusia di dunia ini mempunyai bermacam-macam keinginan, sikap, dan sifat yang pada hakekatnya sama yaitu mahiuk yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa.

Selanjutnya dalam upaya mencapai ketertiban dan keselarasan hidup manusia, warga Kasepuhan Ciptagelar harus menyelaraskan ucapan, tingkah laku dan tekad (ucap lampah ka/awan tekad). Bagi warga Kasepuhan Ciptagelar, pedoman hidup berupa tatali paranti karuhun - harus dilaksanakan karena setiap pelanggaran terhadapnya akan mengakibatkan bencana (kabendon), balk bagi dirinya maupun masyarakat. Dengan cara itu, maka warga kasepuhan berharap dapat terhindar dari berbagai malapetaka.

Kepercayaan terhadap tatali paranti karuhun terekspresikan dalam berbagai simbol berupa tabu (pantangan) dan lambang-lambang tertentu yang mengandung makna simbolik. Sebagai contoh adalah tabu untuk menjual beras, tabu mengeluarkan padi pada hari lahir (wedal), tabu untuk bersiul di sekitar kampung, dan tabu untuk mengolah sawah pada hari Jum\\\'at dan Minggu. Adapun lambang-lambang yang mempunyai makna simbolik antara lain : sawen, rawun, pungpuhunan, dan tukuh lembur. Bagi warga Kasepuhan Ciptagelar, tabu dan simbol-simbol tersebut merupakan alat yang menjaga lingkungan keluarga dan komunitas mereka selamat dari gangguan orang maupun roh-roh jahat.

Kepercayaan warga Kasepuhan Ciptagelar yang tidak boleh diabaikan begitu saja adalah penghormatan kepada Dewi Sri yang dipercayai sebagai "Dewi Padi". Misalnya pandangan terhadap Dewi Sri yang mereka sebut Nyi Pohaci Sang-hyang Sri Ratna Inten Purnama Alam Sajati; Dewi Sri hanya bersemayan pada padi sekali dalam setahun, sehingga menyebabkan penanaman padi harus dilakukan sekali dalam setahun.

Menurut mereka, berbagai pelanggaran terhadap padi dan tats cara dalam pemeliharaannya, akan menimbulkan ketidakberhasilan panen (tidak sesuai dengan yang diharapkan). Oleh karena itu mudah dimengerti apabila setiap siklus pertanian tidak lepas dari berbagai upacara, misalnya: upacara sasarap, ngabersihan, ngaseuk, tebar, mipit, ngadiukeun, nganyaran, ponggokan, dan seven taun. Demikian pula dalam segi teknologi pertanian pun lebih banyak menggunakan alat-alat tradisional seperti : etem (ani-ani), lesung, dan rengkong (alat pemikul yang berfungsi untuk membawa pocongan padi dari lantayan ke leuit).

Leuit bagi warga Kasepuhan Ciptagelar tidak hanya berarti gudang tempat penyimpanan padi melainkan berkaitan dengan kepercayaan mereka yakni simbol dari penghormatan mereka pada Dewi Sri (dewi penguasa dan pemelihara padi). Kepercayaan tersebut telah terinternalisasi dalam kehidupan mereka, sehingga berdasarkan kepercayaan mereka apabila padi tidak disimpan di leuit maka mereka bisa kabendon (celaka).

Manifestasi dari kepercayaan tersebut di atas adalah adanya kebiasa¬an, aturan atau pantangan/tabu yang berkaitan dengan leuit, misalnya : tabu menjual beras dan menggiling padi dengan heuleur (mesin perontok padi). Masyarakat diperbolehkan menjual padi dengan syarat padi yang dijual adalah padi hasil panen tahun lalu yang telah dirasulkeun secara adat oleh sesepuh girang. Dalam hal ini warga kasepuhan hanya menjual kelebihan padi hasil panen tahun lalu.

c. Sistem Kemasyarakatan

Kesatuan terkecil dalam sebuah masyarakat adalah keluarga. Sebuah keluarga di Kasepuhan Ciptagelar terdiri atas bapak, ibu dan anak. Namun demikan ada juga yang tinggal beberapa anggota keluarga lain (saudara). Mereka semua hidup dan makan dalam satu atap atau dikenal dengan istilah sadapur, dan segenap anggota keluarga yang hidup dalam satu rumah (satu atap) serta makan dari satu dapur itu disebut sabondoroyot. Meskipun wewenang dalam menentukan kebijakan rumah tangga ada pada suami-isteri sebagai kepala rumah tangga, \\\'intervensi\\\' orang yang paling tua atau orang yang dituakan yang tinggal dalam rumah tangga itu, relatif menentukan.

Dalam hal perkawinan, terdapat kecenderungan melakukan perkawinan dengan sesama warga Kasepuhan Ciptagelar (endogami kelompok sosial). Sebelum melaksanakan upacara perkawinan, orang tua dari kedua mempelai akan meminta restu terlebih dahulu kepada sesepuh girang. Setelah upacara perkawinan, mereka biasanya tinggal pada kerabat isteri (uxorilokal/matrilocal) atau tinggal di rumah baru (neolokaO.

Sistem kekerabatan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar adalah bilateral/parental, dengan pengertian bahwa hubungan sanak-saudara ditentukan melalui garis keturunan pihak ayah dan pihak ibu. Pola untuk menentukan garis keturunan yang tidak membedakan garis ayah maupun garis ibu ini sama dengan yang dianut masyarakat Sunda pada umumnya di Jawa Barat. Hal tersebut dapat dipahami mengingat warga Kasepuhan Ciptagelar termasuk suku Sunda.

Selanjutnya, dalam kehidupan sehari-hari, komunitas Kasepuhan Ciptagelar diorganisasikan oleh suatu elite kepemimpinan lokal yang berpusat pada kekuasaan seorang pemimpin adat yang disebut sesepuh girang. Sesepuh girang adalah seseorang yang diangkat secara adat untuk memimpin komunitas Kasepuhan dan biasanya merupakan anak dari sesepuh girang sebelumnya yang menurut kepercayaan mereka, penunjukkan sesepuh girang ini merupakan perintah dari karuhun. Jabatan sesepuh girang ini merupakan jabatan yang bersifat turun-temurun dan s9lalu diwariskan kepada anak laki-laki (tidak harus yang pertama/sulung).

Sesepuh girang dibantu oleh beberapa orang yang dalam struktur organisasi Kasepuhan Ciptagelar disebut dengan basis kolot. Basis Kolot adalah beberapa orang yang dijadikan pembimbing, penasihat serta yang memberikan pertimbangan kepada sesepuh girang berkaitan dengan kepentingan kelompok sosial Kasepuhan Ciptagelar. Masing-masing bans kolot ini mempunyai tanggung jawab sesuai bidangnya masing-masing, yaitu Girang Serat, Sesepuh Kampung, Pamakayan (Dukun Tani), Bengkong, Juru Pantun, Indung Beurang, Dalang, Tukang Tinggar, Penghulu, Tukang Bas (kayu/bangunan), Panganteur, Tukang Bebersih, dan Kemit. Dalam melancarkan urusan di bumi ageung terdapat beberapa orang yang membantu, yaitu sebagai : Candoli, Palawari, Pangejeg, dan Tukang Potong.

d. Upacara-upacara Adat

1) Upacara Iingkaran hidup

Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar masih melakukan berbagai upacara yang berkaitan dengan lingkaran hidup. Upacara-upacara yang dimaksud adalah upacara yang berkaitan dengan kelahiran seperti: upacara selamatan pemberian nama dan upacara mengubur bali (ari-ari atau tembuni); upacara masa kanak-kanak bagi anak laki-laki biasa dilakukan upacara khitanan dan upacara helaran; upacara yang berkaitan dengan perkawinan seperti lamaran, akad nikah, dan lain-lain; dan upacara yang berkaitan dengan kematian.

2) Upacara pertanian

Masyarakat Kampung Ciptagelar adalah masyarakat yang memegang teguh adat istiadat. Setiap kegiatan sosial dalam masyarakat selalu dimulai dengan suatu upacara yang oleh mereka disebut do\\\'a amit. Doa amit dimaksudkan untuk memohon perlindungan para karuhun, para dewa, dan Yang Maha Kuasa agar terhindar dari berbagai bencana.
Pada saat akan memulai menanam padi balk di sawah maupun di ladang, sesepuh girang bersama para pembantunya berziarah ke makam nenek moyangnya yang berada di daerah Bogor Selatan dan Banten Selatan. Di hadapan pusara, sesepuh girang memanjatkan doa amit.

Pada malam harinya, dilakukan upacara selamatan di rumah sesepuh girang yang dihadiri oleh para tokoh adat dan segenap sesepuh kampung.

Upacara-upacara yang berkaitan dengan kegiatan bercocok tanam adalah : upacara membuka ladang, upacara ngaseuk, upacara mipit/nyalin (upacara pendahuluan sebelum dilakukan panen pertama), upacara seren taun (upacara adat pasca panen), upacara nganyaran (makan nasi yang pertama kali dari hasil panen), dan upacara ngahudangkeun (membangunkan padi yang telah didiukeun di dalam leuit sebelum dipergunakan oleh pemilik leuit).

e. Kesenian
Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar mengenal berbagai macam kesenian dan beberapa di antaranya berhubungan erat dengan uparaca adat karena sering dipentaskan pada upacara-upacara adat yang biasa dilaksanakan, seperti pada upacara ngaseuk, mipit, nganyaran, dan upacara sepanjang lingkaran hidup (khitanan dan pernikahan). Jenis jenis kesenian tersebut antara lain genjring, pencak silat, pantun, calung, wayang golek, dog¬dog lojor, topeng, jipeng, dan angklung.

Istilah genjring diambil dari nama alatnya (waditra), yaitu semacam alat dengan membran terbuat dari kulit, sedangkan memainkannya dengan cara dipukul menggunakan telapak tangan (ditepak). Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar mengenal kesenian ini sebagai kesenian tradisional yang bernafaskan ke-Islaman. Genjring ini biasanya dimainkan oleh dua belas prang pemain.

Pantun adalah cerita dalam bentuk puisi Sunda lama yang diceritakan atau dinyanyikan dalam bentuk prolog atau dialog. Seni pantun dimainkan seorang diri oleh Ki Juru Pantun. Dia membawakan atau menembangkan lakon sambil memetik kecapi. Lakon yang dibawakan adalah Munding Jalingan dan Perenggong Jaya.

Pada jenis kesenian dog-dog lojor, pemainnya berjumlah 6 orang; 2 orang sebagai penabuh dog-dog dan 4 orang penabuh angklung. Jika dimainkan oleh 12 orang; 4 orang penabuh dog-dog dan 8 orang penabuh angklung. Para pemain dog-dog lojor ini akan berkeliling kampung sambil melantunkan musiknya.

f. Pola Perkampungan
Permukiman masyarakat Kasepuhan Ciptagelar merupakan prototipe dari pola kampung masyarakat Sunda pada umumnya. Bangunan-bangunan seperti bumi ageung, leuit (lumbung padi), saung lisung, buruan (halaman), dan rumah panggung menunjukkan pola perkampungan khas masyarakat tradisional Sunda. Rumah dan kelengkapan permukiman lainnya, dibangun mengikuti lahan berkontur.

Mengamati pola penempatan bangunan, dapat dikatakan pola Kampung Cede Kasepuhan Ciptagelar adalah tinier. Jalur tinier ini memanjang dan utara ke selatan mulai Bumi Ageung yang terletak paling utara. Sedangkan rumah-rumah yang berada di pinggir jalan pada umumnya berorientasi ke arah jalan. Sementara rumah-rumah yang berada pada lapis kedua, sangat bergantung pada kondiSi tanah. Pola tatanan rumah lapis kedua ini berderet secara linier mengikuti kontur tanah dan jalan tanah/gang.  Bumi Ageung yang menyatu dengan Bumi Warga atau Bumi Rakyat, yaitu rumah yang ditempati Abah Anom menempati hirarki tertinggi pada .pemukiman. Bangunan yang menyatu dengan Bumi Ageung adalah Bumi Warga atau Bumi Rakyat. Bangunan ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan publik sehingga setiap orang dapat masuk ke dalamnya. 

Di sekitar bumi ageung terdapat rumah para penjaga (kemit), yaitu para warga yang bertugas untuk menjaga keamanan bumi ageung dan menjaga api yang berada dalam bangunan tersebut tetap menyala. Bumi ageung selalu diupayakan terjaga keamanannya karena di dalamnya tersimpan beberapa pusaka warisan para pendiri/leluhur.

Di sebelah timur bumi ageung terdapat lumbung padi yang dikenal dengan sebutan leuit, dimiliki secara umum (milik semua warga). Lumbung  umum ini disebut leuit kasatuan atau leuit paceklik. Disebut leuit paceklik karena merupakan cadangan pangan masyarakat pada masa paceklik. Lumbung umum di Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar disebut leuit si Jimat yang berkapasitas 7.500 pocong padi.

Setiap rumah tangga memiliki leuit. Leuit yang berbentuk seperti rumah berukuran kecil dengan dinding bilik dan atap dari ijuk ini umumnya berada di pinggir pemukiman. Oleh karena kecil dan ringan, leuit dapat diangkat oleh kurang Iebih 6 orang jika sewaktu-waktu perlu dipindahkan. Berdekatan dengan \\\'kelompok leuit terdapat bangunan milik bersama tempat menumbuk padi yang dinamakan saung lisung. Di saung lisung terdapat satu atau lebih lisung yang digunakan oleh para wanita untuk menumbuk oadi.

Bentuk dasar yang menjadi pola mayoritas pada rumah masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, terbagi atas tiga ruangan, yaitu tepas atau ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang. Tepas adalah ruang tempat Satu bagian yang dapat dikatakan sebagai ciri khas Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar adalah terdapatnya Bale Pertemuan yang terletak di lingkungan rumah tinggal Sesepuh Girang. Bale Pertemuan ini merupakan bangunan berupa panggung-panggung dengan material kayu dan bambu, digunakan sebagai tempat pertemuan para warga Kasepuhan Ciptagelar maupun untuk pertemuan dengan pejabat pemerintahan.

g. Rumah

Komponen permukiman yang penting dan berfungsi sebagai tempat tinggal warga adalah rumah. Rumah-rumah warga Kasepuhan Ciptagelar menunjukkan adanya kesamaan dengan pola arsitektur Sunda pada umumnya. Adapun bahan-bahan yang digunakan cenderung menggunakan material yang terdapat di sekitar pemukiman, seperti dinding bilik (anyaman bambu), rangka kayu dan atap dari ijuk, rumbia atau tepus.

Jenis rumah mereka adalah rumah panggung dengan kolong setinggi kurang lebih 60 sentimeter. Kolong tersebut umumnya ditutup dengan papan. Adapun bentuk rumahnya rata-rata persegi panjang dengan suhunan panjang (ditambah teritis di bagian depan dan belakang) serta suhunan jure yaitu bentuk atap perisai yang memanjang.

Material atap yang banyak dipakai adalah daun tepus, rumbia, atau ijuk. Menggunakan atap genting merupakan hal yang tabu bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar karena bahan pembuat genting adalah tanah. Seorang informan menuturkan, "Kalau belum mati mengapa harus beratapkan tanah." Pada saat dilakukan pendataan, terdapat juga warga yang mengganti material atapnya dengan seng karena alasan faktor ekonomis; harga seng lebih murah dibandingkan harga daun tepus. Lagi pula, seng lebih tahan lama dibandingkan dengan rumbia yang harus diganti setiap 4 tahun.

Bentuk dasar yang menjadi pola mayoritas pada rumah masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, terbagi atas tiga ruangan, yaitu tepas atau ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang. Tepas adalah ruang tempat menerima tamu dan dianggap sebagai daerah laki-laki walaupun kadang¬kadang wanita juga diperbolehkan masuk.

Ruang tengah terdiri atas tengah imah dan pangkeng. Tengah imah merupakan daerah netral sehingga terbuka untuk semua jenis kelamin anggota keluarga dan biasanya digunakan untuk berkumpul semua anggota keluarga. Pangkeng (ruang tidur) merupakan kategorisasi dari daerah wanita. Meskipun suami dapat masuk ke dalam ruang ini, ruang tidut lebih menggambarkan ciri kewanitaan. Ruang tidur biasanya terletak di sebelah kanan bagian rumah (merupakan hasil pembagian dengan ruang tengah).

Ruang belakang yang terdiri atas padaangan/goah dan dapur, dikategorikan sebagai daerah wanita. Goah adalah ruang khusus untuk wanita karena beras identik dengan sifat kewanitaan (dewi padi). Laki-laki dilarang masuk sama sekali ke daerah ini. Daerah dapur juga merupakan daerah wanita. Laki-laki boleh masuk ke dapur, tetapi mereka tidak biasa bercakap-cakap (berusaha untuk tidak mengobrol) di dapur, kecuali sesama anggota keluarga atau kerabat dekat.

Pintu masuk rumah terbagi dua, yaitu pintu depan dan pintu belakang yang terletak di samping rumah. Mengenai letak pintu ini terdapat kepercayaan bahwa apabila rumah mempergunakan dua pintu atau lebih, maka pantang untuk membuat pintu belakang sejajar dengan pintu depan karena rejeki yang masuk dari pintu yang satu akan langsung keluar lagi melalui pintu yang lain (bablas). Oleh karena itu, pintu belakang diletakkan di samping rumah menjadi pintu samping.

Menurut pandangan kosmologis, rumah dipandang sebagai dunia dan alam semesta. Dalam kepercayaan masyarakat Sunda umumnya, terdapat pandangan bahwa dunia ini terbagi menjadi dunia bawah (buana rangrang), dunia tengah (buana panca tengah), dan dunia atas (buana alit). Dunia tengah merupakan pusat alam semesta dan manusia menempatkan dirinya pada pusat alam semesta tersebut. Oleh karena itu, rumah sebagai tempat tinggal manusia harus terletak di tengah antara dunia atas (langit) dan dunia bawah (bumi) dan tidak terletak di dunia atas atau bawah.

Bagian-bagian rumah dapat dibagi menjadi bagian kepala yang menyimbolkan dunia atas, bagian badan mewakili dunia tengah dan bagian kaki yang menyimbolkan dunia bawah. Oleh karena rumah tidak boleh terletak di dunia bawah atau dunia atas, maka tiang rumahpun tidak boleh diletakkan di atas tanah. Rumah harus diberi alas yang berfungsi memisahkan lantai rumah dengan tanah, dengan demikian terdapat kolong di bawah lantai rumah. Di Kasepuhan Ciptagelar, kolong tersebut pada umumnya ditutupi dengan papan. Kolong memisahkan bagian tengah tempat manusia beraktivitas sehari-hari dengan dunia bawah (tanah) sedangkan atap menyimbolkan dunia atas. Oleh karena itu, memakai genteng yang terbuat dad tanah merupakan hal yang tabu karena tanah merupakan wujud dari dunia bawah (tempat untuk orang mati).

Secara administratif, Kampung Ciptagelar berada di wilayah Kampung Sukamulya Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Jarak Kampung Ciptagelar dari Desa Sirnaresmi 14 Km, dari kota kecamatan 27 Km, dari pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi 103 Km dan dari Bandung 203 Km ke arah Barat. Kampung Ciptagelar dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat (mobil) dan roda dua (motor). Jenis kendaraan roda empat harus mempunyai persyaratan khusus, yakni mempunyai ketinggian badan cukup tinggi di atas tanah serta dalam kondisi prima. Apabila tidak mempunyai persyaratan yang dimaksud kecil kemungkinan kendaraan tersebut sampai ke lokasi. Dan umumnya mobil-mobil demikian hanya sampai di kantor Desa Sirnaresmi yang sekaligus merupakan tempat parkirnya. Selebihnya menggunakan kendaraan ojeg atau mobil umum (jenis jeep) yang hanya ada sewaktu-waktu atau jalan kaki.

Source: disparbud.jabarprov.go.id

Komunitas Kasepuhan Cipta Mulya

Leuit, lumbung padi tradisional khas Kasepuhan disirna rasa, Kabupaten Sukabumi

Komunitas Kasepuhan Cipta Mulya

Oleh Jhon Toni Tarihoran

KASEPUHAN Cipta Mulya berada di Cibongbong, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kasepuhan Cipta Mulya adalah komunitas adat suku Sunda yang masih memelihara kebiasaan-kebiasaan atau tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Kebiasaan-kebiasaan tersebut masih sangat kental dalam kehidupan masyarakat Kasepuhan tersebut. Mereka masih tetap mempertahankan sistem nilai, dan norma yang diwariskan para leluhurnya.

Dalam kehidupan sehari-hari komunitas Cipta Mulya sangat berpegang kepada prinsip-prinsip yang juga diwariskan para leluhur mereka. Baik dalam hal pertanian untuk memenuhi kebutuha hidup mereka ataupun dalam hubungan atau interaksi sosial antara yang satu dengan yang lainnya, atau antara keluarga yang satu dengan keluarga lainnya. Demikian juga mereka mempunyai prinsip atau filosofi tentang hubungan mereka dengan alam ataupun tanah. Komunitas Kasepuhan Cipta Mulya memiliki kebiasaan mengadakan upacara-upacara ritual yang secara rutin serta turun temurun dilakukan.

Interaksi Sosial

Komunitas Kasepuhan Cipta Mulya adalah masyarakat yang tergolong lembut dan santun. Dalam kehidupannya bermasyarakat masih tetap mempertahankan sikap saling tolong menolong. Hal ini ditunjukkan dalam hal membantu orang-orang yang kurang mampu khususnya dalam mendirikan rumah. Masyarakat biasanya berkumpul untuk membantu mendirikan rumah panggung bagi masyarakat yang kurang mampu tanpa harus diberikan upah. Mereka juga bersedia memberikan makanan bagi orang yang sangat membutuhkan yaitu berupa beras. Bagi masyarakat pendatang, komunitas Kasepuhan Cipta Mulya memperlakukannya sama dengan masyarakat setempat. Mereka menganggap masyarakat pendatang yang tinggal di daerahnya sebagai bagian daripada masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya sepanjang masyarakat pendatang tersebut mengikuti kebiasaan-kebiasaan mereka.


Mata Pencaharian

Mata pencaharian masayarakat Kasepuhan Cipta Mulya adalah rata-rata bekerja sebagai petani di sawah dan ladang. Dari pertanian mereka yang paling utama adalah  padi, yang mereka sebut sebagai Dewi Sri. Selain menanam padi, mereka juga menanam tanaman sayuran, cabai, tomat, pisang, dan tanaman lainnya. Mereka memandang padi sebagai suatu hal yang sangat berharga sehingga disebut Dewi Sri. Oleh karena padi merupakan tanaman yang sangat diagungkan maka dalam proses penanaman sampai tiba saatnya untuk panen, mereka melaksanakan suatu acara khusus atau ritual untuk menghargainya. Ada beberapa ritual yang dilakukan sebagai bentuk penghargaan kepada padi yang telah memberikan hidup bagi warganya. Bahkan ada aturan khusus yang tidak memperbolehkan menjual padi, beras ataupun nasi kecuali dalam keadaan terdesak ataupun terpaksa serta kalau hasil panennya sangat melimpah. Jika aturan tersebut dilanggar maka dipercaya akan mendatangkan suatu masalah bagi yang melanggar atau disebut masyarakat kualat. Untuk tempat menyimpan padi hasil panen, masyarakat mendirikan lumbung atau yang mereka namakan leuit, hal ini dilakukan sebagai antisipasi gagal panen. Sehingga ada banyak lumbung yang ditempatkan di sekitar rumah ataupun ladang. Lumbung ini juga menjadi suatu pemandangan yang menarik karena bentuknya yang unik dan dibuat rapi dan teratur, terbuat dari kayu, untuk dingding terbuat dari bambu, sedangkan atapnya terbuat dari daun kiray dan ijuk. Lumbung atau leuit merupakan lambang kesejahteraan dan kehidupan masyarakat.

Upacara/Ritual

Dalam proses menanam padi, masyarakat melaksanaan ritual di antaranya adalah ritual Seren taun. Upacara ini dilakukan untuk menyampaikan syukur kepada yang Kuasa  yang telah memberkati pekerjaan masyarakat dengan memberikan hasil khususnya dalam hal menanam padi. Secara turun temurun masyarakat kasepuhan Cipta Mulya telah menjungjung tinggi nilai-nilai adat dalam setiap awal dan akhir proses menanam padi. Oleh karenanya masyarakat selalu melakukan upacara-upacara yan bertujuan untuk mengucap syukur dan untuk mengevaluasi hal-hal yang sudah dan yang akan dilakukan ke depan. Untuk memulai menanam padi maka ada beberapa hal yang harus dilakukan mulai dari mempersiapkan lahan yang akan diolah sampai akhirnya panen. Demikian juga setiap kegiatan harus disertai dengan upacara-upacara, yaitu :

Mempersiapkan lahan tanaman

Upacara mempersiapkan lahan untuk penanaman padi yang dilakukan biasanya menebang pohon dalam lahan, membakar serta membersihkan lahan yang akan dijadikan ladang. Sama halnya dengan ladang, sebelum menanam padi di sawah, yang dilakukan adalah membersihkan dan meratakan sawah dengan mencangkul, demikian juga sampai mempersiapkan bibit yang akan ditanam.

Menanam Padi

Penanaman padi tidak boleh dilakukan sendiri-sendiri tetapi akan dilakukan setelah adanya petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh pemangku adat atau imam tani. Saat yang tepat untuk menanam pada yaitu pada saat kerti sudah muncul, dan ini hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu saja secara turun temurun. Apabila kerti sudah muncul artinya musim tanam sudah tiba. Musim tanam pertama dilakukan oleh imam tani kemudian diikuti oleh masyarakat kasepuhan Cipta Mulya secara keseluruhan. Ritual tanam padi dinamakan cari tangesek, pada kesempatan ini mereka berkumpul bersama, untuk memanjatkan doa dan makan bersama.

Seren Taun

Upacara Seren taun selalu dilakukan oleh Kasepuhan Cipta Mulya, bukan hanya sekedar acara seremonial saja. Tetapi ritual ini dilakukan dengan arti yang sangat khusus. Seren taun dilakukan sebagai wujud syukur atas hasil panen yang sudah didapat selama satu tahun. Seren taun juga disebut sebagai tutup tahun atau akhir tahun atau pesta panen.  Perayaan upacara Seren taun  juga dilakukan guna untuk mengevaluasi yang sudah dilakukan selama satu tahun serta menerawang pada masa yang akan datang tentang apa yang harus dilakukan. Pada upacara Seren taun masyarakat menyimpan padi hasil panen di leuit atau lumbung yang sudah disediakan. Upacara ini disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh masyarakat kasepuhan. Ibu-ibu mempersiapkan berbagai jenis makanan untuk acara tersebut yang dilakukan secara bersama atau beramai-ramai.

Upacara bulan Purnama

Masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya setiap tanggal 14 melaksanakan upacara atau ritual yang mereka sebut upacara bulan Purnama. Mereka berkumpul dan memanjatkan doa untuk meminta berkat dari leluhur.  Pada setiap pelaksanaan acara Bulan Purnama mereka juga mengisi acara tersebut dengan acara-acara hiburan.

Hubungan Manusia dengan Alam

Kasepuhan Cipta Mulya memiliki prinsip yang diwariskan secara turun temurun dalam memperlakukan alam ataupun tanah yaitu Lamping awian, legok balongan, lebak sawahan, datar imahan, yang berarti tebing harus ditanami bambu, lembah dijadikan kolam, tanah datar dijadikan sawah, dan di tanah yang datar didirikan rumah.

Dengan prinsip tersebut komunitas Kasepuhan Cipta Mulya sangat memperhatikan keadaan tanah untuk dijadikan tempat berdirinya rumah ataupun untuk lahan pertanian. Sehingga dapat menjaga keselarasan antara alam ataupun tanah dengan cara mereka mempertahankan hidup melalui pengelolaannya terhadap lingkungan. Dalam menjaga kelestarian lingkungan Kasepuhan Cipta Mulya juga mewarisi prinsip lewang garapan, titipan, tutupan. Dimana melalui prinsip ini masyarakat harus memperhatikan  hutan yang diperbolehkan untuk digarap sebagai lahan pertanian, dan juga hutan ataupun tempat titipan yang yang tidak boleh digarap serta diganggu melainkan harus dipelihara. Karena dipercaya apabila dilanggar akan mendatangkan bencara.

Penerapan Hukum Adat

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya mematuhi hukum adat yang sudah diwariskan secara turun temurun kepada mereka. Dan terkadang mereka lebih mementingkan peraturan adat daripada peraturan lainnya. Hukum adat atau peraturan tersebut di antaranya: adanya waktu khusus untuk menggiling padi. Jika aturan ini dilanggar maka kualat atau adanya suatu musibah bagi yang melanggarnya. Bagi masyarakat kasepuhan tidak terlalu sering melanggar hukum adat mereka. Kalaupun ada pelanggaran biasanya juga dinasehati dan apabila terulang kembali maka pelakunya kemungkinan disumpahi.

KASEPUHAN SINAR RESMI


KASEPUHAN SINAR RESMI

Kesepuhan Sinar Resmi terletak di Desa Sirna Resmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi yang terletak diantara perbatasan Provinsi Jawa Barat dan Banten. Dengan begitu termasuk kategori daerah Adat yang di kenal dengan sebutan “Kesatuan Adat Banten Kidul Kasepuhan Sinar Resmi“. 

Komunitas Adat ini meliputi tiga Kabupaten yaitu : 

  1. Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa barat) 
  2. Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa barat) 
  3. Kabupaten Lebak (Provinsi Banten) 

Seiring dengan perkembangan zaman dan laju pertumbuhan di segala bidang dan menyikapi hal tersebut, maka salah satu program prioritas di lingkungan Kesatuan Adat Banten Kidul mengadakan Acara Ritual Adat Seren Taun yang merupakan sikap responsif terhadap aspirasi masyarkat adat disekitar Kasepuhan Sinar Resmi, sebagai bukti peran aktif dalam rangka upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menghormati warisan leluhur yaitu dengan cara Mempertahankan dan melestarikan ciri Adat Kebudayaannya. 

Landasan dasar Adat tidak lepas dari dukungan program premarital daerah atau pusat yang patut di kembangkan di bidang :
  •  Mempererat Tali Persaudaraan ·
  •  Kesadaran Pendidikan Keagamaan · 
  •  Pendidikan Budi Pekerti · 
  •  Mempertahankan Adat dan Budayanya 
Dengan upaya maksimal Kasepuhan Sinar Resmi bersama para donatur dari berbagai kalangan masyarakat, berharap mudah-mudahan program Acara Ritual Adat Seren Taun ini dapat terselengara sesuai dengan sebagaimana mestinya. 


LATAR BELAKANG KASEPUHAN SINAR RESMI 

Negara Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam suku yang tersebar di seluruh Idonesia. Masing-masing suku memiliki kebudayaan yang berbeda dari sabang sampai merauke. oleh karena itu, negara ini memiliki keragaman budaya yang tinggi. Melalui keragaman budaya inilah yang menjadikan suatu i9dentitas bangsa yang harus dipertahanakan dan di lestarikan. Dari waktu, dan terjangan pada era globalisasi semakin meningkat, ini menyebabkan banyaknya pengaruh asing yang masuk yang sulit terbendung dan pengaruh globalisasi yang begitu kuat dapay mengakibatkan lunturnya kebudayaan yang dimiliki oleh suatu daerah yang ada di Indonesia. Namun dengan adanya keyakinan untuk mempertahankan suatu kebudayaan maka kebudayaan tersebut tetap terpelihara dan terlestarikan. keyakinan inilah yang dimiliki leh suatu komunitas yang berupaya mempertahankan dan melestarikan serta memelihara kebudayaan yang disebut dengan komunitas adat. 

Komunitas adat adalah komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul leluhur di atas wilayah adat yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakat. Salah satu komunitas adat yang ada di Indonesia dan sampai saat ini masih tetap memegang teguh aturan-aturan adat yang menyertainya yaitu komunitas adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok,Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi adalah suatu komunitas dengan segala kearifan lokalnya yang dalam kesehariannya, menjalankan sosial budaya tradisional yang mengacu pada karakteristik budaya Sunda pada abad ke-18. Kasepuhan Sinar Resmi merupakan satu dari sebelas kasepuhan yang berada di wilayah Banten Selatan. Komunitas ini hidup secara turun temurun dari generasi ke generasi, jati diri inilah yang masih dipelihara dan diperkuat sebagai perwujudan rasa syukur dan penghormatan kepada para leluhur yang lahir dari sebuah proses sejarah yang tidak terputus dalam perjalanan masa untuk terus menegakan martabat beserta hak asal-usul sebagai identitas budaya dan warisan budaya nasional. Dengan sistem yang diwariskan para leluhur, masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi menata seluruh kehidupannya baik sebagai individu maupun sebagai kelompok sosial dan religius yang khas, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sistem-sistem inilah yang dipertahankan dan diperjuangkan sebagai sumber semangat hidup yang tekandung dalam sistem adat yang masih dibudayakan dan dilestarikan.


DASAR PEMIKIRAN

Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi tidak pernah terlepas dari filosofi-filosofi hidup yang sudah menjadi satu jiwa pada diri masyarakat adat kasepuhan sendiri.Filosofi inilah yang menjadi pedoman hidup masyarakat. dalam kehidupan bermasyarakat, basis dari hukum adat kasepuhan adalah filosofi hidup, “tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh”, yang secara harfiah artinya ‘tiga se wajah, dua se rupa, satu yang itu juga”.Tata nilai ini mengandung pengertian bahwa hidup hanya dapat berlangsung dengan baik dan tenteram bila dipenuhi tiga syarat, yaitu :

  1. (tekad, ucap dan lampah, (niat atau pemikiran, ucapan dan tindakan) harus selaras dan dapat dipertanggung jawabkan kepada incu-putu (keturunan warga kasepuhan) dan sesepuh (para orang tua dan nenek moyang)
  2. jiwa, raga dan perilaku, harus selaras dan berahlak
  3. kepercayaan adat sara, nagara, dan mokaha harus selaras, harmonis dan tidak bertentangan satu dengan lainnya. Selain pedoman dalam bersosialisasi antar masyarakat, masyarakat kasepuhan memiliki interaksi dengan alam. Melalui filosofi “Ibu bumi, bapak langit, tanah ratu” yang intinya dalam kehidupannya, masyarakat harus menjaga keutuhan bumi beserta segala isinya sehingga keseimbangan alam pun tetap terjaga. Berdasarkan filosofii-filosofi inilah masyarakat kasepuhan memiliki keyakinan untuk terus menjaga apa yang sudah diwariskan oleh para leluhurnya, baik menjaga hubungan dengan manusia lain dan menjaga hubungan dengan alam. Salah satu warisan leluhur yang masih diterapkan dalam kehidupan masyarakat kasepuhan adalah sistem pertanian ladang/huma (rurukan) dan sawah yang dilakukan satu kali dalam satu tahun. Sistem pertanian ini tidak sekedar sebuah kegiatan pertanian yang secara umum menuju pada produktivitas, namun sistem pertanian di masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi lebih berorientasi pada suatu interaksi yang kuat antar masyarakat dengan Tuhan, masyarakat dengan masyarakat serta masyarakat dengan alam. Dalam pengelolaan sistem pertanian, mulai dari mempersiapkan lahan sampai pada mengistirahatkan lahan kembali selalu diikuti dengan rangkaian upacara atau ritual adat yang menyertainya yang sudah diwariskan oleh para leluhur. 

 TUJUAN 
  1. Mempertahankan dan memelihara adat istiadat warisan dari para leluhur. 
  2. Mempererat persatuan dan kesatuan antar masyarakat adat, masyarakat non adat, dan pemerintah. 
  3. Melestarikan salah satu budaya dari keberagaman budaya Indonesia 

HARAPAN 

Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi sebagai suatu komunitas yang tidak lepas dari tradisi adat yang menyertainya dalam hal ini secara tidak langsung memiliki peran yang cukup berpengaruh dalam menjaga keutuhan budaya Indonesia yakni melalui sistem pertanian tradisional dan kegiatan-kegiatan adat lainnya. Oleh karena itu, diperlukan perhatian penuh dari pemerintah sebagai salah satu aktor yang ikut berpartisipasi dalam mendukung keberlanjutan dan pemeliharaan adat yang sudah ada sejak dulu sampai sekarang.

DESKRIPSI KEGIATAN 

Ritual-ritual adat yang dilakukan di Kasepuhan Sinar Resmi dilakukan secara rutin dan berulang, dalam jangka bulanan dan tahunan. Ritual bulanan yang dilakukan adalah opatbelasna, yang dilakukan setiap bulan. Ritual tahunan terkait dengan sistem pertanian, prosesi pertanian sawah dan ladang, Sedekah Ruwah dan Mulud, Prah-prahan, Nyimur, Beberes Bengkong, serta upacara Seren Taun yang dilakukan setahun sekali.