Tampilkan postingan dengan label Naskah Kuno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah Kuno. Tampilkan semua postingan

Naskah Sunda Kuno di Garut Terancam Musnah

Puluhan naskah kuno di situs Kabuyutan Ciburuy di Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terancam musnah. Kondisi ini diakibatkan oleh tidak adanya biaya perawatan. “Kondisi naskah cukup mengkhawatirkan,” ujar Kepala Seksi Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata Kabupaten Garut, Warjita, di ruang kerjanya siang tadi.
Menurut Warjita, selama ini pemerintah daerah tidak pernah mengalokasikan biaya pemeliharaan naskah. Padahal pihaknya telah berulang kali mengajukan biaya perawatan naskah dalam setiap penyusunan anggaran pendapatan dan belanja daerah setiap tahunnya.

Warjita menyatakan, dalam anggaran tahun 2011, pihaknya telah mengajukan biaya pemeliharaan sebesar Rp150 juta, namun sampai saat ini belum ada kepastian apakah dana tersebut akan disetuji atau tidak. “Anggaran yang diajukan selalu dicoret, itu karena perhatian terhadap sejarah ini sangat kurang,” katanya.

Hingga kini pemeliharaan naskah masih dilakukan dengan cara tradisional. Naskah ini diperkirakan dibuat pada abad ke-16 periode Hindu atau masa Kerajaan Padjadjaran. Teks naskah kuno ditulis pada daun lontar dengan menggunakan bahasa Sunda dan Jawa Kuno dengan cara ditoreh.

Jumlah naskah yang tersimpan di Kabuyutan Ciburuy. Saat ini sebanyak 27 kropak yang tersimpan dalam tiga peti. Setiap kropak jumlahnya bervariasi, antara 15 sampai 30 lempir (lembar). Tiap lempir naskah berukuran 28,5 x 3 sentimeter dengan ukuran ruang tulisan 25,5 x 2,5 sentimeter. Tiap halaman memuat empat baris tulisan.

Dari jumlah tersebut, hanya tinggal 10 kropak yang masih dapat dikatakan utuh. Sedangkan sisanya, tidak lengkap karena sudah terlepas dari masing-masing ikatannya. Ditambah lagi banyak lempiran yang patah dan hancur.

Warjita menambahkan, naskah lontar yang berada di wilayahnya itu perlu dilakukan pengkajian ahli filolog. Soalnya hingga saat ini isi naskah lontar tersebut belum sepenuhnya terungkap. Padahal tidak menutup kemungkinan isi naskah tersebut mengandung unsur kearifan lokal.

Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Garut, Helmi Budiman, membantah bila pihaknya telah mencoret anggaran pemeliharaan naskah lontar. Menurutnya, pemeliharan terhadap benda sejarah dan budaya harus dilakukan dengan baik. “Kami tidak pernah mencoret anggaran tapi hanya mengembalikannya untuk mengefesiensikannya lagi,’ ujarnya.

Meski begitu, dia meminta pemerintah daerah untuk secepatnya membuat aturan tentang benda sejarah dan cagar budaya. Hal itu untuk melindungi keberadaan benda tersebut. “Kalau tidak ada aturan, tidak menutup kemungkinan benda sejarah dan budaya di kita ini bisa hilang,” ujarnya.

Maluruh Naskah Sunda Kuno Astana Gede Kawali

MALURUH NASKAH SUNDA KUNO ASTANA GEDE KAWALI 

Kawali tidak akan menjadi tempat penting dalam sejarah sunda jika di tempat ini tidak terdapat peninggalan sejarah yang sudah diakui keabsahannya. Baik sumber primer seperti prasasti dari abad 14 M yang terdapat di Astana Gede, maupun sumber sekunder lainnya berupa catatan atau naskah yang ditulis dengan cara ditoreh atau digores dalam daun lontar atau nipah dengan menggunakan peso pengot. Kegiatan menulis dengan menggunakan daun lontar dan pisau pengot rupanya sudah menjadi budaya pada waktu untuk melahirkan karya-karya sastra sunda buhun. Umumnya naskah yang ditulis di dalam lontar, bahasa maupun aksaranya, lebih muda usianya dari inskripsi (Kata-kata yang diukir pada batu, monument dsb.Red) yang tercatat pada batu tulis yang menggunakan hurup Pallawa dengan bahasa Sansekerta dan Sunda kuno.

Menurut para peneliti naskah Sunda seperti Prof.Dr. Edi S. Ekadjati, Drs. Undang A.Darsa dan Mamat Ruhimat S.S. sebetulnya keberadaan naskah sunda diperkirakan jumlahnya cukup banyak, lebih dari 2000 naskah yang tersebar menjadi koleksi lembaga penyimpanan naskah di dalam maupun di luar negeri. Sebagian lagi terdapat di perorangan. Sebagian besar naskah-naskah tersebut usianya lebih muda dan terbuat dari bahan seperti janur, daun enau, pandan, daluang maupun dari kertas Belanda. Dengan jenis aksara Arab, Carakan, Pegon, dan Latin. Sedangkan bahasanya menggunakan Bahasa Arab, Jawa Tengahan, Sunda Baru, Melayu dan Belanda.

Sedangkan jumlah naskah kuno yang ditulis diatas daun lontar kurang lebih berjumlah 100 naskah dan hampir 80 % belum tersentuh oleh peneliti (Filolog). Dan naskah-naskah sunda kuna yang ditulis dalam lontar tersebut merupakan naskah yang memiliki tingkat kesulitan paling tinggi karena factor bahasa dan aksaranya yang menggunakan bahasa Sunda kuno dan Jawa Kuno karena lebih dari 250 tahun kedua bahasa dan aksara tersebut tidak dipergunakan lagi oleh masyarakat sunda.

Disamping itu pemilik perorangan naskah sunda kuno umumnya masih ketakutan untuk menyetorkan naskah tersebut ke pemerintah dikarenakan sebagai peninggalan leluhurnya harus dipusti-pusti sebaik-baiknya tanpa pernah membuka atau mempelajari isi teksnya. Padahal naskah-naskah tersebut sangat penting untuk diteliti dan disebarkan kepada masyarakat, sebagai bukti adanya tingkat peradaban sunda di masa silam yang tertuang dalam isinya, baik itu berupa hasil pemikiran maupun referensi sejarah yang tercatat.

Naskah-Naskan Kuno yang berhasil ditemukan di Kawali dan kini disimpan di Bagian Naskah Perpustakaan Nasional dengan menggunakan no kode kropak. Dan yang sudah di terjemahkan serta diberi judul diantaranya ialah Carita Parahyangan (kropak406), Sang Sewaka Darma (kropak 408), Sunan Gunung Jati (kropak 420), Naskah yang berisi teks campuran atau Gemenged (kropak 421), Naskah Jatiraga (kropak422) dan Darmajati (kropak 23). Sedangkan yang belum teridentifikasi adalah naskah kropak 407, Kropak 409, kropak 411, Kropak 412, Kropak 413, Kropak 414, dan Kropak 415.

Semua naskah kuno tersebut ditulis antara tahun 1099 M sampai tahun 1579 M yaitu maswa sebelum pra Islam. Dalam naskah Carita Parahyangan tertulis candrasangkala ekadasi suklapaksa wesakamasa 1591 ikang sakakala atau sekitar 6 Mei 1979 M yang merupakan masa setelah Pajajaran Sirna Ing Bumi. Sedangkan naskah Sewaka Darma tertulis candrasangkala nanu namas haba jaja atau sekitar tahun 1099 M. Khusus mengenai Naskah Sunan Gunung Jati ternyata isinya bukanlah menceritakan tentang pendiri kerajaan Islam di Cirebon yang bernama Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Kandungan teksnya sama sekali tidak mengemukakan tentang ajaran Islam sedikitpun melainkan membahas tentang pengaruh ajaran Hindu-Budha . Nama Gunung Jati ternyata merujuk pada nama lokasi tempat kedudukan Bungawari di alam kahyangan.

KABUYUTAN ASTANA GEDE PUSAT KEAGAMAAN DAN INTELEKTUAL

Naskah-naskah sunda kuno selama ini keberadaannya kurang terpublikasikan sehingga masyarakatpun banyak yang tidak tahu tentang gambaran lengkap kebudayaan sunda di masa lalu. Padahal kandungan naskah-naskah tersebut selain catatan nama-nama penguasa dan kejadian pada jamannya juga berisi ajaran dan petuah yang isinya masih kontekstual dengan jaman kiwari. Salah satu naskah tersebut adalah Naskah Sanghiang Siksa Kandang Karesian yang berisi ajaran bimbingan hidup agar mencapai kebahagiaan. Naskah ini mempunyai candrasangkala nora catur sagara wulan atau tahun 1518 M. Selain berisi ajaran kehidupan, naskah ini juga dapat disebut semacam ensiklopedia tentang pemerintahan, kebudayaan, kepercayaan, kesusastraan, pertanian, etika, militer, dan lain-lainnya.

Menurut Saleh Danasasmita Siksa Kandang Karesian ditulis pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja Pajajaran atau dikenal Prabu Siliwangi (1482-1521 M) dan berfungsi juga sebagai pedoman dalam tatacara kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sri Baduga adalah cucu dari Prabu Niskala Wastu Kancana yang berkuasa di Galuh dan Sunda . Saat masih kecil Sri Baduga tinggal yaitu di Keraton Surawisesa yang terletak di Kawali. Sedangkan Kawali pada abad 14 dan 15 merupakan ibukota kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Wastu Kancana merupakan salah satu raja yang terkenal dengan ajaran karahayuannya sehingga berhasil meneruskan kebesaran nama ayahnya Prabu Linggabuana (Prabu Wangi) yang gugur di Bubat.

Ajaran atau filsafat kakeknya yang sarat dengan kebijakan dan kebajikan itu turut mempengaruhi jalan pikirannya dalam memimpin kerajaan Pajajaran dikemudian hari. Hal itu terbukti, Sri Baduga atau Sang Pamanah Rasa atau Jayadewata menjadi salah satu raja besar sunda yang sukses mengelola negaranya. Siksa Kandang Karesian boleh jadi berisi pemikiran-pemikiran Sri Baduga yang dirangkum oleh seseorang dalam sebuah buku. Sri Baduga kemudian lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi.

Ditemukannnya naskah-naskah sunda kuno dari Astana Gede karena tempat tersebut dulunya merupakan kabuyutan atau mandala sebagai pusat kegiatan keagamaan dan intelektual. Salah satu kegiatan intelektual tersebut adalah menyusun dan menulis sesuatu yang menghasilkan naskah lontar. Selain itu kabuyutan berfungsi juga menyimpan naskah-naskah yang berasal dari kabuyutan lain. Seperti dari Kabuyutan Panjalu, Kabuyutan Pakuan Pajajaran, Kabuyutan Ciburuy Bayongbong Garut, maupun Kabuyutan Cikuray dan kabuyutan Karangkamulyan.

Indikasi tersebut salah satunya dapat dilihat dari penulis naskahnya. Kai Raga adalah penulis naskah Carita Ratu Pakuan (Kropak 410) Darmajati (Kropak 423), Carita Purnawijaya (kropak 416), Kropak 411 dan kropak 419. tokoh ini menyusun naskah-naskah tersebut di pertapaan Suta Nangtung di Gunung Larang Srimanganti yang merupakan salah satu Puncak Gunung Cikuray. Namun ternyata salah satu naskahnya ( Darmajati) ditemukan di Kabuyutan Astana Gede Kawali.

Adanya naskah-naskah di Kabuyutan Kawali pertama kali diketahui umum setelah muncul buku berjudul Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie karangan seorang Pejabat Pemerintah Hindia Belanda yang bekerja di Al-gemene Secretrie (Sekretris Negara) bernama J.Olivier. Dalam bukunya, ia bersama rombongannya menyaksikan keberadaan naskah-naskah berbahasa kawi ketika mengunjungi Kawali dan wilayah priangan lainnya (Desember 1821 – 1827). Naskah beserta benda budaya lainnya dikatakan berasal dari peninggalan-raja-raja Pajajaran dan saat itu pemeliharaannya berada dibawah perlindungan Raden Tumenggung Adipati Adikusumah sebagai bupati Galuh yang memerintah pada tahun 1819 – 1839. Seluruh Anggota rombongan tidak ada yang mampu membaca naskah-naskah tersebut. tetapi ada salah seorang anggota rombongan yang bernama J.H. Domis menyalin 12 judul Naskah tersebut.

R.A.A. KUSUMADININGRAT PENYELAMAT NASKAH SUNDA KUNO

Salah satu penyebab banyaknya naskah-naskah sunda kuno yang tersimpan di kabuyutan Astana Gede Kawali dikarenakan pada saat Pakuan Pajajaran yang menjadi ibu kota kerajaan sunda mulai dihancurkan oleh pasukan Islam dari Cirebon dan Demak banyak pembesar kerajaan dan rakyatnya yang mengungsi ke Kawali dan keturunannya menjadi bagian dari penduduk Kawali. Hal ini berdasarkan keterangan Pejabat Pemerintah Hindia Belanda yang bernama J.Olivier dalam bukunya yang berjudul berjudul Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie (Kejadian-kejadian dan Hal-hal Menarik dari Hindia Timur). Ia sendiri masih menyaksikan keberadaan sejumlah prabotan dan barang lainya yang dibawa oleh pengungsi, termasuk diantaranya adalah naskah-naskah kuno.

Agaknya pejabat Belanda inilah yang memberitakan keberadaan naskah kuno tersebut kepada C.M. Pleyte. Akhirnya Pleyte berhasil mengkoleksi 13 naskah kuno dari Kabuyutan Astana Gede. Naskah-naskah tersebut diserahkan oleh Raden Aria Adipati Kusumadiningrat yang saat itu memerintah sebagai Bupati Galuh tahun 1839-1886. R.A.A. Kusumahdiningrat adalah seorang bupati yang memiliki haluan maju serta memiliki perhatian besar terhadap pembangunan termasuk bidang kebudayaan. Penyerahan naskah tersebut diperkirakan terjadi sesudah tanggal 10 Mei 1851 saat Kusumadiningrat berpangkat Adipati Aria. Sebelumnya tokoh ini berpangkat Raden Tumenggung bernama Kusumadinata IV. Ayahnya adalah Raden Tumenggung Adipati Adikusumah yang memerintah Galuh pada tahun 1819–1839 dan sempat bertemu dengan J.Olivier

Tahun 1800-an di Batavia telah berdiri Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Masyarakat Batavia Pencinta Kesenian dan Ilmu Pengetahuan) atau yang biasa disingkat BGKW. Koleksi Pleyte kemudian di serahkan kepada lembaga ini untuk diteliti. Ternyata selain R.A.A. Kusumadiningrat tokoh lainnya yang mengkoleksi dan kemudian menyerahkan naskah-naskah sunda kuno dari wilayah Priangan terutama dari Kawali ke BGKW adalah pelukis terkenal Raden Saleh. Hal tersebut diumumkan oleh K.F. Holle dalam artikelnya yang berjudul Vlugtig Berigt omtrent Eenige Lontar-Handschriften Afkomstig uit de soenda-landen, door Radhen Saleh aan het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ten geschenke gegeven met toepassing of de inscriptie van Kawali. (Berita Singkat tentang beberapa Naskah Lontar yang Berasal dari Tatar Sunda, yang diberikan Raden Saleh sebagai hadiah kepada BGKW beserta salinan Prasasti Kawali).

Artikel tersebut diterbitkan oleh majalah TBG tahun 1867 di Batavia (Jakarta). Adapun 3 naskah lontar yang disebut dalam article K.F. Holle ternyata adalah Naskah Amanat Galunggung (Kropak 632), Sanghiang Siksa Kandang Karesian (Kropak 630) dan Naskah Candrakirana (Kropak 631). Prasasti Kabantenan dan naskah lontar kropak 410 juga merupakan hasil pengumpulan Raden Saleh yang diserahkan kepada BGKW. Institusi ini memang sejak tahun 1845 melakukan kegiatan rutin untuk mencari dan mengkoleksi benda-benda budaya termasuk prasasti dan naskah.

Setelah Belanda hengkang dari Indonesia, maka tanggal 26 Januari 1950 BGKW diubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Dan nama museum yang dimilikinya berubah menjadi Museum Pusat dan terakhir menjadi Musium Nasional. Sedangkan perpustakaan yang ada di bawahnya dipisahkan menjadi lembaga yang berdiri sendiri dan dinamai Perpustakaan Nasional. Di tempat itulah kini naskah-naskah sunda kuno yang berasal dari Kabuyutan Astana Gede tersimpan dengan keheningannya.

Sumber : HU. Kabar Priangan

Ringkasan Naskah Sunda Kuno Bujangga Manik

Anu nulis naskah buhun ieu téh nyaéta Prabu Jaya Pakuan, bisa ditempo dina rumpaka ka 14. Pangeran Jaya Pakuan boga landihan Bujangga Manik, anu bisa kapanggih munggaran dina rumpaka ka 456. Dina rumpaka 15-20 dicaritakeun yén anjeunna baris ninggalkeun ambuna pikeun ngumbara ka arah wétan. Anjeunna pohara taliti dina nyaritakeun lalampahanana.


Bujangga Manik mitembeyan lalampahan kahijina ngaliwatan wewengkon Puncak. Waktu Bujangga Manik leumpang nanjak ka wewengkon Puncak, anjeuna reureuh heula, diuk, ngipasan awak sarta nempokeun kaéndahan alam hususna Gunung Gedé anu dina rumpaka ka 59 nepi ka 64, disebut ku anjeunna sabagé titik pangluhurna nu aya di dayeuh Pakuan (ibukota Karajaan Sunda).

Ti Puncak, anjeunna neruskeun lalampahan nepi ka meuntas Cipamali (ayeuna mindeng disebut Kali Brebes ) pikeun asup ka wewengkon Jawa. Di wewengkon Jawa anjeunna mapay-mapay patempatan anu kawengku ku Majapait. Patempatan anu kawengku ku karajaan Demak (alas Demak) ogé kaliwatan. Sadatang di Pamalang, Bujangga Manik nineung ka ambuna (rumpaka 89) sarta buleud haté pikeun balik. Tapi dina mangsa ieu, anjeunna leuwih milih jalan laut nyaéta naék kapal anu datang ti Malaka. Kasultanan Malaka mimiti pertengahan abad ke-15 nepi ka ditalukkeunna ku Portugis ngawasa perdagangan di laut.

Miangna kapal ti darmaga digambarkeun kawas upacara pésta (rumpaka 96-120): bedil ditémbakkeun tujuh kali, pakakas musik ditabeuh, sawatara lagu ditembangkeun kalayan tarik ku awak kapal; bahan-bahan anu nyusun kapal ogé diwincik ku Bujangga Manik; aya awi gombong jeung awi nyowana. Bahan tina hoé ogé aya rupa-rupa, hoé muka, hoé omas jeung hoé walatung. Tihang kapal dijieun tina kai laka. Bujangga Manik ogé helok ningali awak kapal anu asalna ti réa sélér.

Lalampahan ti Pamalang ka Sunda Kalapa, palabuhan Karajaan Sunda, dilayaran sajero waktu satengah bulan. (rumpaka 121), anu méré gambaran yén kapal anu ditumpakan téh nyimpang ka sababaraha patempatan nu aya diantara Pamalang jeung Kalapa. Tina palayaran kasebut, Bujangga Manik nyieun ngaran landihan séjénna nyaéta Ameng Layaran.

Ti Sunda Kalapa, Bujangga Manik ngaliwatan Pabéyaan sarta neruskeun lalampahan ka karaton di Pakuan, di bagian kidul dayeuh Bogor kiwari (Noorduyn 1982:419). Bujangga Manik asup ka Pakancilan (rumpaka 145), terus asup ka balé réncéng (paviliun) anu diréka-réka (didekorasi) sarta tuluy diuk di dinya. Bujanga Manik nempo ambuna keur ninun (cara ninunna dijelaskeun dina rumpaka 160-164). Ambuna kagét jeung bungah nempo anakna mulang. Anjeunna geura-giru ninggalkeun pagawéan ninunna sarta asup ka imah nyingkabkeun sawatara kasang carita (hordéng) nu aya rarawisanna, sarta unggah kana ranjang. Ambuna Bujangga Manik nyiapkeun pangbagéa ka anakna, nyokot sabaki seupaheun, mérésan rambut, sarta maké kaén mahal. Anjeunna terus turun tina ranjang, kaluar ti imah, nuju ka balé réncéng sarta ngabagéakeun anakna. Bujangga Manik nampa seupaheun anu disuguhkeun ku ambuna.

Dina bagian saterusna, dicaritakeun ngeunaan putri Ajung Larang Sakéan Kilat Bancana. Emban Jompong Larang ninggalkeun kadaton, meuntasan Cipakancilan sarta datang ka karaton Bujangga Manik. Di karaton kasebut Jompong Larang paamprok jeung Bujangga Manik. Jompong Larang kataji pisan ku Bujangga Manik (rumpaka 267-273).

Samulangna ka kadaton, Jompong Larang manggihan putri Ajung Larang anu pareng keur riweuh ninun. Sang putri ngabogaan ebun Cina beunang ngimpor ti mancanagara (rumpaka 284-290), nempo Jompong Larang anu geura-giru, naék ka manggung sarta saterusna diuk di gigireun sang putri. Putri nanyakeun talatah naon anu dibawana; Jompong Larang ngomong yén manéhna nempo lalaki anu pohara kasép, sabanding pikeun putri Ajung Larang. Manéhna nyaritakeun yén Ameng Layaran leuwih kasép batan Banyak Catra atawa Silih Wangi, atawa ponakan sang putri (rumpaka 321), atawa saha waé. Leuwih ti éta, lalaki éta singer nyieun karya sastra dina daun nipah sarta bisa basa Jawa (rumpaka 327). Putri Ajung Larang langsung ngarasa kapentang asmara. Anjeunna saterusna ngeureunkeun pagawéan ninunna sarta asup ka imah nyiapkeun hadiah pikeun Bujangga Manik ti mimiti seupaheun jeung perhiasan sarta barang nu éndah lianna kalayan ati-ati. Putri ogé ngahadiahkeun rupa-rupa parfum ti mancanagara anu pohara mahalna, baju katut keris anu éndah.

Ambuna Bujangga Manik ngadesek anakna pikeun nampa hadiah ti putri Ajung Larang, saterusna ngagambarkeun kageulisan putri sarta pujian séjénna. Ambuna Bujangga Manik ogé nyarita yén putri bakal sumerah diri ka Bujangga Manik. Saterusna anjeunna ngedalkeun kecap-kecap anu henteu kungsi ditepikeun ku putri Ajung Larang “Kuring baris sumerah diri. Kuring baris nyamber kawas heulang, ngerekeb kawas maung, ménta ditarima jadi kikindeuwan” (rumpaka 530-534). Ameng Layaran reuwas ngadéngé uucapan ambuna sarta nyebutkeun yén éta téh ucapan larangan (carek larangan) sarta buleud haté pikeun nampik hadiah kasebut (rumpaka 548-650). Manéhna ménta ambuna marengan Jompong Larang pikeun mulangkeun hadiah kasebut sarta ngupahan ka putri Ajung Larang. Manéhna leuwih resep hirup nyorangan sarta ngajaga ajaran anu katarima salila lalampahanana ka Jawa, di hiji pasantrén di lamping Gunung Merbabu (anu ku manéhna disebut Gunung Damalung sarta Pamrihan). Pikeun éta pisan Bujangga Manik kapaksa kudu ninggalkeun deui ambuna. (jajar 649-650).

Bujangga Manik nyokot kantong anu eusina buku gedé (apus ageung) sarta siksaguru, ogé iteuk hoé sarta pecut. Manéhna saterusna ngomong yén baris indit deui ka wétan, ka tungtung wétan pulo Jawa pikeun néangan patempatan pikeun jaga manéhna dikuburkan, pikeun néangan “laut pikeun palid, hiji tempat pikeun pupusna, hiji tempat pikeun ngagolérkeun awakna” (663-666). Kalayan kecap-kecap anu dramatis ieu anjeunna ninggalkeun karaton sarta mitembeyan pangumbaraan panjangna, sarta henteu kungsi balik deui. Bujangga Manik neruskeun lalampahanana ka wétan, nuliskeun réa pisan ngaran patempatan anu sawaréh masih dipaké nepi ka kiwari.

Naskah Sunda Kuno Berbahasa Jawa Kuno di Tulis di Tasikmalaya

Serat Dewabuda (Kropak 638), Naskah Sunda Kuno Berbahasa Jawa Kuno Tahun 1435 M

Naskah Serat Dewabuda terdaftar sebagai khazanah Perpustakaan Nasional dengan nomor register Kropak 638 atau Br. 638 karena merupakan koleksi Brandes. Naskah ini disebut juga Sewakadarma Jawa Kuno. Dalam khazanah naskah Sunda, ada tiga buah naskah yang bernama Sewakadarma sebagai koleksi Perpusnas, yakni: Sewaka Darma (Kropak atau Br. 408), Serat Sewakadarma (Kropak atau Br. 637), dan Serat Dewabuda (Kropak atau Br. 638) semua koleksi Brandes.

Serat Dewabuda yang berbahasa Jawa Kuno ini ditulis di atas daun nipah. Naskah ini terdiri atas 129 lempir, halamannya berjumlah 255 karena lempir pertama hanya ditulis satu muka, sedangkan lempir terakhir kosong dan lempir sebelumnya ditulisi satu muka saja. Meski berbahasa Jawa namun naskah ini ditulis di Jawa barat, maka dari itu termasuk dalam khazanah naskah Sunda Kuno.

Dari kolofon pada lempir 129-130 diperoleh gambaran bahwa proses penulisan naskah ini berlangsung selama dua bulan, dimulai dari hari Selasa Kliwon bulan ketujuh, selesai pada hari pasaran Pon bulan kesembilan tarikh 1357 Saka. Meski tak menyebutkan hari selesainya naskah ini, klausa pada lembaran yang berbunyi “menjelang purnama terbenam” dapat ditafsikan bahwa naskah selesai pada tanggal 15 bulan kesembilan. Jadi, menurut perhitungan tarikh Masehi, masa itu jatuh pada bulan Januari-Februari (Kapitu) dan Maret-April (Kasanga) tahun 1435 M. Ada pun lokasi penulisannya adalah sebuah lembah bernama Argasela di Sungai Mulutu, di antara Gunung Cupu dengan Gunung Rantay dan sebuah bukit bernama Talagacandana. Gunung Cupu adalah sebuah gunung di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dengan begitu, naskah ini disusun pada masa Prabu Niskala Wastukancana memerintah di Kawali (1371-1475).

Naskah Serat Dewabuda merupakan naskah agama, di mana banyak terdapat pandangan, sikap, kaidah-kaidah yang berlaku, dan ajaran agama yang dianut oleh masyarakat pendukung yang menghasilkan naskah ini. Di samping banyak nama-nama dewa Hindu, naskah ini menyebutkan hal-hal yang khas ajaran Buddha.

Seperti naskah-naskah Sunda Kuno yang lain (Jatiniskala, Sewa ka Darma Kropak 408, Kawih Paningkes, Sanghyang Siksakanda ng Karesian), naskah ini berbicara mengenai Kaleupasan atau Moksa. Berikut kutipannya:
Dlaha ilkaning mati ata yan kapangguhenta ikeng kamoksan, anpanglinari sunyataya. Misra butaset nyawayawa. Irikang aparamarta, ya ta sinangguh aparamarta ngarana. Ya moksa lepas lingna. Ikan sunyayata kinawruhan pwaya apan katon pweking aparamarta. apa ta menak nikan sengguhenta moksa lawan kamoskan? apan katon pwa ikan alilang ahning nirawarana anggeng nira sraya kasparsa ikang aparamarta, iken bayu langgeng ndya ta matangyan moksa ika?.
(Langgeng hingga ajal jika dapat kau temukan kelepasan itu, Katakanlah sebagai sunyataya, bergabung yang hidup di luar, ke dalam aparamarta (ketidakbenaran).
Itulah bertemu dengan ketidakbenaran namanya, mencapai moksa lepas katanya, menuju sunyataya. Hal ini diketahui karena terlihat sebagai ketidakbenaran. Apakah merasa senang jika kau temukan moksa dan kelepasan itu? Apakah terlihat tiba-tiba, hening dan suci, kekallah kebebasan itu, Terasalah ketidakbenaran itu, udara yang kekal. Manakah yang kemudian disebut moksa?)



Referensi : Ayatrohaedi. 2001. “Nganjang ka Kalanggengan, Agama Orang Sunda Pra-Islam Menurut Naskah”, dalam Rosidi, Ajip. 2003. Tulak Bala, Sistim Pertahanan Tradisional Masyarakat Sunda dan Kajian Lainnya Mengenai Budaya Sunda. Bandung: Pusat Studi Sunda.

Carita Parahyangan - Titilar Karuhun

Tarjamahan tina basa Sunda kiwari:

1.
kieu Carita Parahiyangan teh.
Sang Resi Guru boga anak Rajaputra. Rajaputra boga anak Sang Kandiawan jeung Sang Kandiawati, duaan adi lanceuk. Sang Kandiawan teh nyebut dirina Rahiyangta Dewaradja. Basa ngajalankeun kahirupan sacara rajaresi, ngalandi dirina Rahiangta di Medangjati, oge katelah Sang Lajuwatang, nya mantenna nu nyieun Sanghiang Watangageung.

Sanggeusna rarabi, nya lahir anak-anakna limaan, mangrupa titisan Sang Kusika, Sang Garga, Sang Mestri, Sang Purusa, Sang Puntandjala, nya eta: Sang Mangukuhan, Sang Karungkalah, sang Katungmaralah, Sang Sandanggreba jeung Sang Wretikandayun.

2.
Aya manuk ngaranna si Uwur-uwur, oge katelah Si Naragati, nyayang di pangjarahan Bagawat Resi Makandria. Anakna dihakan ku jaluna. Dicarekan ku bikangna. Carek bikangna: "Kacida hinana, lamun urang teu boga anak teh. Bireungeuh tuh Bagawat Resi Makandria!Tatapa soteh bane bae sangsara da henteu boga anak." Carek Bagawat Resi Makandria: "Kumaha rek boga anak. Da kawin oge henteu." Ti dinya, carek Bagawat Resi Makandria: "Aing dek indit ka Sang Resi Guru, ka Kendan." Manehna datang ka Kendan. Carek Sang resi Guru: "Na nahaon bejana, hidep Bagawat Resi Makandria, nu matak datang ka dieu?" "Pangampura bae, saleresna aya piwartoseun. Dek nyuhunkeun pirabieun. Lantaran kawartosan ku manuk si Uwur-uwur, nu nelah oge si Nagaragati. Sanggemna kacida hinana, lamun urang teu gaduh anak." Carek Sang resi Guru: "Jig hidep ti heula ka patapan deui. Anaking Pwah Rababu geuwat susul Bagawat Resi Makndria. Lantaran nya manehna pijodoeun hidep teh, anaking."

Pwah Rababu terus nyusul, dating ka patapan Sang Resi Makandria, teu diaku rabi. Kabireungeuheun aya widadari geulis, ngarupakeun Pwah Mandjangandara, nya geuwat Rasi Makandria ngajadikeun dirina Kebowulan. Terus sanggama. Carek Sang Resi Guru: "Enten, anaking Pwah Sanghiang Sri! Jig hidep indit ngajadi ka lanceuk hidep, ka Pwah Aksari Jabung." Ti dinya Pwah Sanghiang Sri indit sarta terus nitis, nya lahir Pwah Bungatak Mangalengale.

3.
Carek sang Mangukuhan: "Nam adi-adi sadaya urang moro ka tegalan." Sadatang ka tegalan, kasampak Pwah Manjangandara reujeung Rakean Kebowulan. Diudag ku limaan, sarta beunangna pada jangji, yen saha anu pangheulana keuna numbakna, nya manehna piratueun. Keuna ditumbak ku Sang Wretikandayun, Kebowulan jeung Pwah Manjangandara teh. Kebowulan lumpat ka patapan, sadatangna hos bae paeh. Ku Sang Wretikandayun dituturkeun, kasampak pwah Bungatak Mangalengale keur nyusu ka Pwah Manjangandara. Pwah Bungatak Mangalengale teh ku Sang Wretikandayun di bawa mulang ka Galuh, ka Rahiangta di Medangjati.

4.
Rahiyangan di Medangjati lawasna ngadeg ratu limawelas taun. Diganti ku Sang Wretikandayun di Galuh, bari migarwa Pwah ngatak Mangalengale. Ari Sang Mangukuhan jadi tukang ngahuma, Sang Karungkalah jadi tukang moro, Sang Katungmaralah jadi tukang nyadap sarta Sang Sandanggreba jadi padagang. Nya ku Sang Wreti Kandayun Sang Mangukuhan dijungjung jadi Rahiangtung Kulikuli, Sang Karungkalah jadi Rahiangtang Surawulan, Sang Katungmaralah jadi Rahiyangtang Pelesawi, Sang Sandanggreba jadi Rahiangtang Rawunglangit. Sabada Sang Wretikendayun ngadeg ratu di Galuh, nya terus ngajalankeun kahirupan sacara rajaresi sarta ngalandi dirina jadi Rahiangta di Menir. Dina waktu bumenbumen, harita teh nya nyusun Purbatisti. Lawasna jadi ratu salapanpuluh taun. Diganti ku Rahiang Kulikuli, lawasna jadi ratu dalapanpuluh taun. Diganti ku Rahiangtang Surawulan, lawasna jadi ratu genep taun, katujuhna diturunkeun, lantaran goring lampah. Diganti ku Rahiangtang Pelesawi, lawasna jadi ratu saratusdualikur taun, lantaran hade lampah. Diganti ku Rahiangtang Rawunglangit, lawasna geneppuluh taun.

5.
Diganti ku Rahiangtang Mandiminyak. Anak Rahiangta di Menir teh aya tiluan, nu cikal nya Rahiang Sempakwaja, ngadeg Batara Dangiang Guru di Galunggung; Rahiangtang Kidul, ngadeg Batara Hiang Buyut di Denuk; Rahiangtang Mandiminyak ngadeg ratu di Galuh. Carek Sang Resi Guru: "Karunya aing ku Rahiang Sempakwaja henteu boga pamajikan. Anaking Pwah Rababu! Hidep leumpang ungsi Rahiang Sempakwaja, lantaran aya manehna pibatureun hidep tatapa."

Sang Resi Guru ngagesek totopong jadi jaralang bodas, nya indit nyampeurkeun Rahiang Sempakwaja, nu harita kabeneran keur ngawelit. Carek Sanghiang Sempakwaja: "Na naha nya aya jaralang bodas etah?" Cop nyokot sumpit, terus diudag rek disumpit. Pwah Rababu kapanggih eukeur mandi di talaga Candana. Carek Rahiang Sempakwaja: "Ti ma etah nu mandi?" Sampingna dileled ku sumpit, beunang. Aya baturna para Pwah Aksari, tuluy lalumpatan ka tegalan. Pwah Rababu dibawa ku Rahiang Sempakwaja, dipirabi. Kacida dipikaasihna. Nya lahir anakna lalaki duaan, nya eta Rahiang Purbasora jeung Rahiang Demunawan.

6.
Barang ngadenge tatabeuhan ngaguruh teu puguh rungukeuneunana, tatabeuhan di Galuh, Pwah Rababu terus mulang ka Galuh di dinya teh taya kendatna nu ngigel. Sadatangna kaburuan ageung, cek Rahiangtang Mandiminyak: "Patih, na naon eta ateh?" "Bejana nu ngigel di buruan ageung!" "Eta bawa pakean awewe sapangadeg, sina marek ka dieu. Keun tanggungan aing. Geuwat bawa sacara paksa!" Patih indit ka buruan ageung. Pwah Rababu dibawa ka kadaton. Dipirabi ku Rahiangtang Mandiminyak. Kacida bogohna ka Pwah Rababu. Tina sapatemonna, nya lahir anak lalaki dingaranan Sang Sena.

7.
Carek Rahiang Sempakwaja: "Rababu jig indit. Ku sia bikeun eta budak ka Rahiangtang Mandiminyak, hasil jinah sia, Sang Salahlampah." Rababu tuluy leumpang ka Galuh. "Aing dititah ku Rahiang Sempakwaja mikeun budak ieu, beunang sia ngagadabah aing tea." Carek Rahiangtang Mandiminyak: "Anak aing maneh teh, Sang Salah?" Carek Rahiangtang Mandiminyak deui: "Patih ku sia budak teh teundeun kana jambangan. Geus kitu bawa kategalan!" Dibawa ku patih ka tegalan, Samungkurna patih, ti eta tegalan kaluar kila-kila nepi ka awang-awang. Kabireungeuh ku Rahiangtang Mandiminyak. "Patih teang deui teundeun sia nu aya budakna tea!" Ku patih diteang ka tegalan, kasampak hirup keneh. Terus dibawa ka hareupeun Rahiangtang Mandiminyak. Dingaranan Sang Sena.

8.
Lawasna jadi ratu tujuh taun, geus kitu Rahiangtang Mandiminyak diganti ku Sang Sena. Lawasna jadi ratu tujuh taun, diganti lantaran dilindih ku Rahiang Purbasora. Kajaba ti eta Sang Sena dibuang Gunung Merapi, boga anak Rakean Jambri. Sanggeusna manehna sawawa indit ka Rahiangtang Kidul, ka Denuh, menta dibunikeun. Carek Rahiangtang Kidul: "Putu, aing sangeuk kacicingan ku sia, bisi sia kanyahoan ku ti Galuh. Jig ungsi Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan, sarta anak saha sia teh?" Carek Rakian Jambri: "Aing anak Sang Sena. Direbut kakawasaanana, dibuang ku Rahiang Purbasora." "Lamun kitu aing wajib nulungan. Ngan ulah henteu digugu jangji aing. Muga-muga ulah meunang, lamun sia ngalawan perang ka aing. Jeung deui leuwih hade sia indit ka tebeh Kulon, jugjug Tohaan di Sunda." Sadatangna ka Tohaan di Sunda, tuluy dipulung minantu ku Tohaan di Sunda. Ti dinya ditilar deui da ngajugjug ka Rabuyut Sawal. Carek Rabuyut sawal: "Sia teh saha?" "Aing anak Sang Sena. Aing nanyakeun pustaka bogana Rabuyut Sawal. Eusina teh, 'retuning bala sarewu', anu ngandung hikmah pikeun jadi ratu sakti, pangwaris Sang Resi Guru." Eta pustaka teh terus dibikeun ku Rabuyut sawal. Sanggeus kitu Rakean jambri miang ka Galuh. Rahiang Purbasora diperangan nepi ka tiwasna. Rahiang Purbasora jadina ratu ngan tujuh taun. Diganti ku Rakean Jambri, jujuluk Rahiang Sanjaya.

9.
Carek Rahiang Sanjaya: "Patih, indit sia, tanyakeun ka Batara Dangiang Guru, saha kituh anu pantes pikeun nyekel pamarentahan di urang ayeuna." Sadatangna patih ka Galunggung, carek Batara Dangiang Guru: "Na aya pibejaeun naon, patih?" "Pangampura, kami teh diutus ku Rahiang Sanjaya, menta nu bakal marentah, adi Rahiang purbasora." Hanteu dibikeun ku Batara dangiang Guru. Carek Batara Dangiang Guru: "Rahiang Sanjaya, indit beunangkeun ku sorangan. Elehkeun Guruhaji Pagerwesi, elehkeun Wulan, Sang Tumanggal, elehkeun Guruhaji Tepus jeung elehkeun Guruhaji Balitar. Jig indit Rahiyang Sanjaya, elehkeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan. Maranehna meunang kasaktian, nu ngalantarankeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan henteu kabawah ku dangiang Guru. Lamun kaelehkeun bener maneh sakti." Rahiang Sanjaya tuluy perang ka Kuningan. Eleh Rahiang Sanjaya diubeuber, nepi ka walungan Kuningan. Rahiang Sanjaya undur. "Teu meunang hanteu aing kudu ngungsi ka dieu, lantaran diudag-udag, kami kasoran." Ti dinya Rahiang Sanjaya mulang deui ka Galuh, Sang Wulan, Sang Tumanggal mulang deui ka Arileu. Rahiang Sanjaya tuluy marek ka Batara Dangiang Guru, Carek Batara Dangiang Guru: "Rahiang Sanjaya, naon pibejaeun sia, mana sia datang ka dieu?" "Nya eta aya pibejaeun, apan kami dipiwarang, tapi kami eleh. Ti mana kami unggulna, anggur kami diuber-uber ku Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan." Sanggeus kitu Rahiang Sanjaya tuluy mulang ka Galuh.

10.
Carek Sang Wulan, Sang Tumanggal, sang Pandawa di Kuningan: "Mawa pisajieun, urang miang ka Galunggung, pakean lalaki sapangadeg, pangcalikan, munding sarakit, beas sacukupna pikeun dahar." Sadatang ka Galunggung, eureun di Pakembangan. Kasampak ku (Sang) Pakembangan. tuluy popojan ka Batara Dangiang Guru. Carek Batara Dangiang Guru: "Aya beja naon?" "Pun Batara Dangiang Guru! Aya Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan." "Kacida bagjana sia datang ka dieu. Jung miang ka Galuh. Ondang Rahiang Sanjaya, caritakeun, kudu mawa pisajieun, pakean lalaki sapangadeg, pangdiukan wulung, munding sarakit?, kawali beusi jeung beas sacukupna pikeun dahar." Sadatang sia ka Galuh, carek Rahiyang Sanjaya: "Aya pibejaeun naon, sia Pakembangan?" "Kami teh dititah ku Dangiang Guru. Rahiang Sanjaya supaya mawa pisajieun salengkepna. Aya Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan." Rahiang Sanjaya indit. Barang nepi ka hareupeun Dangiang Guru, carek Dangiang Guru: "Rahiang Sanjaya! Lamun kaereh ku sia Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan, aing bakal nurut kana sagala ucapan sia. Da beunang ku aing kabawah. Turut kana ucapan aing. Da aing wenang ngelehkeun, hanteu kasoran. Da aing anak dewata." Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan kabawah ku Batara Dangiang Guru. Sang Wulan dijenengkeun Guruhaji di Kajaron. Sang Tumanggal dijieun Guruhaji Kalanggara di Balamoha. Sang Pandawa di Kuningan jadi Guruhaji Lajuwatang. Sang Puki jadi Guruhaji di Pagerwesi. Sang Manisri dijadikeun Buyuthaden Rahesa di Puntang. Buyuthaden Tujungputih di Kahuripan. Buyuthaden Sumajajah di Pagajahan. Buyuthaden Pasugihan di Batur. Buyuthaden Darongdong di Balaraja. Buyuthaden Pagergunung di Muntur. Buyuthaden Muladarma di Parahyangan. Buyuthaden Batuhiang di Kuningan.

11.
Rahiyang Sanjaya tumetep di Medang Ratu di Galuh, Sang Seuwakarma. Ari adina Ratu Galuh, miara sabaraha hiji anak munding, nyieun padumukan pikeun muja. Pindah-pindah tempat, sewabakti ka Batara Upati. (Nelah) Rahiang Wereh, nu matak disebut kitu, waktu ditilar, adi lanceuk masih laleutik keneh. Teu tulus jadi ratu, lantaran (huntuna) rohang, mangkana katelah Rahiang Sempakwaja. Rahiyang Kidul oge hanteu bisa jadi ratu sabab burut, nya jadi Wikuraja. Sang Seuweukarma jadi Tohaan di Kuningan, lahirna di patapan, enya eta anak Rahiang Sempakwaja. Cek Rahiang Sanjaya: "Atuh masih pernah dulur aing, aki! Lamun kitu mah karah. Ulah weleh mere bantuan ka aing, aki patih!" Cek patih: "Muga-muga bae bisa deui urang ngamalkeun Sanghiang Darmasiksa. Ulah teu digugu!" mongan para patih ka Rahiang Sanjaya: "Lamun haying unggul perang, geura mangkat ti Galuh!" Prang ka Mananggul, eleh sang ratu Mananggul, Pu Anala pamanggul juritna. Tuluy ka Kahuripan, diperangan, eleh Kahuripan, Rahiangtang Wulukapeu taluk. Tuluy ka Kadul, diperangan eleh Rahiang Supena, taluk. Tuluy ka Balitar, diperangan, eleh sang ratu Bima. ti dinya Rahiang Sanjaya nyabrang ka wilayah Malayu. Kemir diperangan, eleh Rahiangtang Gana. Perang deui ka Keling, eleh Sang Sriwijaya. Perang ka Barus, eleh ratu Jayadana. Perang ka Cina, eleh patih Sarikala darma. Mulang Rahiang Sanjaya ka Galuh ti sabrang. Tunda.

12.
Rahiangtang Kuku, Sang Seuweukarma di Arile, ngayakeun gempungan jeung para patih; raja dicaritakeun hal pangajaran kaparamartaan. "Nam urang rek marek, mawa kiriman ka Rahiang Sanjaya. Cokot emas sakati, lima boehna, bawaeun urang ka Rahiang Sanjaya." Dina danget eta, oge di Galuh ngayakeun kumpulan jeung para patih sakabeh. "Nam urang nyieun labur di jalan gede pakeun ngabageakeun Sang Seuweukarma, lantaran enya eta Rahiang Kuku." "Barang datang ka sisimpangan ka Galuh jeung ka Galunggung, dipapag, dihormat disayagian cai pikeun sibanyo." Carek Rahiangtang Kuku: "Sang patih, bawa kami marek ka rahiang Sanjaya. Tah emas sakati, lima boehna." Carek sang patih: "Pun Tohaan! Boh emas boh beusi henteu diajenan ku Rahiang Sanjaya. Nu diajenan teh ngan huripna jalma rea." Rahiangtang Kuku jadi kabingungan. Terus mulang deui ka Arile. Carek Rahiangtang Kuku: "Na naon pakeun urang bakti ka Rahiang Sanjaya?"

13.
Sakitu mulyana, ieu tangtu Rahiang Sempakwaja. Ayeuna urang caritakeun Rahiangtang Kuku, indit ka Arile, ngababakan di Kuningan. Kasohor Rahiangtang Kuku, enya eta Sang Seuweukarma, ngadeg di Kuningan, anakna Rahiang Sempakwaja. Indung bapana teh tempat panyaluuhan jalma rea. Dayeuh, desa, pulo jeung sakurilingna: ti Keling bakti ka Rahiangtang Kuku; Rahiangtang Luda di puntang; Rahiangtang Wulukapeu di Kahuripan; Rahiangtang Supremana di Wiru; Rahiang Isora di Jawa sang ratu Bima di Bali (tar); di Kulon di Tuntang Sunda nyabrang ka wilayah Malayu. Rahiangtang Gana ratu di Kemir; Sang Sriwijaya di Malayu, Sang Wisnujaya di Barus, Sang Bramasidi di Keling. Patihna Sang Kandarma di Berawan; Sang Mawuluasu di Camara Upatah; Sang Pancadana ratu di Cina. Kabeh kabawah ku Rahiangtang Kuku. Kabeh ngaku ratu ka nu calik di Saunggalah. Kabawah ku Sang Seuweukarma, sabab Ngukuhan ajaran Dangiang Kuning. Di Galuh Rahiang Sanjaya nanyakeun: "Kumaha sang patih, pilukeun urang? Urang hanteu dianggap kulawarga ku Rahiangtang Kuku. Sang patih! Jig indit sidikkeun ku sorangan ka Kuningan. Bisa jadi urang dipajarkeun turut campur kana karia, padahal urang henteu dibejaan, daek indit." Sang patih nepi ka Kuningan, marek ka kadaton, terus ngabakti ka Rahiangtang Kuku. Carek Rahiangtang Kuku: "Oh sang patih!Na naon bejana, mana dating ka dieu?" Carek sang patih: "Kami dititah ku Rahiang Sanjaya. Diparentah nyidikkeun ka dieu. Saha nu dijungjung, nu dijenengkeun ratu?" Carek Rahiang Kuku: "Eh sang patih! Pantesna nya aing dijungjung dijenengkeun ratu ku balarea. Ngan ti Rahiang Sanjaya mah henteu diharepkeun, lantaran kulawarga, jeung moal ka kami mah, sabab dianggapna resep maehan kulakadang baraya. Malah aing ditempatkeun ka Kuningan oge ku Rahiang Sempakwaja. Aing beunang Rahiang Sempakwaja nempatkeun ka Kuningan ieu teh. Mana aing teyu diganggu ku Rahiang Sanjaya." sang patih mulang ka Galuh. Ditanya ku Rahiang Sanjaya: "Aki, kumaha carek Rahiangtang Kukuka urang?" "Pun, Rahiang Sanjaya! Rahiangtang Kuku teh tapana kataekan. Ngagem Sanghiang Darma kalawan Sanghiang Siksa. Tumut kana wisik Sang Rumuhun, jadi lulugu dina Hirup kumbuh. Kukituna ku urang turut tanpa rasa gigis. Tembongkeun ku urang, da urang jeung Tohaan teh saturunan, kabeh ge pada-pada turunan dewata." Geuwat dicokot pustaka ku Rahiang Sanjaya. Barang nepi terus diungkab eta pustaka teh. Unina kieu: "Ong awignam astu, kretajugi balam raja kretayem rawanem sang tata dosamem, sewa ca kali cab pratesora sang aparanya retuning dewata, sang adata adining ratu dewata sang sapta ratu na caturyuga. Sang Resi Guru tipekur di nu suni ngayuga Sang Kandiawan jeung Sang Kandiawati. Nya puputra Rahiangtang Kulikuli, Surawulan, Rahiangtang Pelesawi, Rahiangtang Rawunglangit, bungsuna Sang wretikandayun. Sang Wretikandayun boga anak Rahiang Sempakwaja, Rahiang Kidul, Rahiangtang Mandiminyak. Rahiangtang Mandiminyak boga anak Sang Sena, sang Sena boga anak Rahiang Sanjaya." Awewe geulis, Dobana mawa parahu, panjangna tujuh deupa, dibagian hareupna dimomotan rupa-rupa pakarang. "Urang ka nusa Demba!" Nya terus maranehanana balayar. Kareungeu ku Sang Siwiragati. Dek ngamuatkeun Pwah Sangkari Pucanghaji Tunjunghaji, ditumpakkeun dina gajah putih. Kakara ge leumpang sapanjang buruan. Teu disangka-sangka Rahiangtang Kuku, Sang Seuweukarma cunduk ka nusa Demba, tuluy ka kadaton, diuk tukangeun Sang Siwiragati. Rahiangtang Kuku diudag ku gajah putih, lumpat ka buruan mawa Pwah Sangkari. Henteu aya balik deui ka kadaton gajah putih teh, ngawula ka Rahiangtang Kuku. Kuku mulang deui ka Arile, dibawa dina gajah putih jeung Pwah Sangkari. Pwah sangkari teh ngomong: "Naha henteu aya emas saguri, sapotong sapaha jeung salengkepna papakean?" Tuluy bae ka Galuh, ka Rahiang Sanjaya, henteu nyimpang ka Arile. Dibawa na gajah putih ditutup ku lungsir putih tujuh kayu diwatangan mas mirah komara inten. Barang dating ti nusa Demba, tuluy ka kadaton, sanggeus cunduk, Rahiangtang Kuku nyarita ka Rahiang Sanjaya, naha mireungeuh gajah putih. Tanyana: "Mana?" Tuluy gajah putih teh ditumpakan, Pwah Sangkari disanghareupkeun ka Rahiyang Sanjaya. Sanggeus nepi ka padaleman, henteu balik deui. Carek Rahiang Sanjaya: "Na naon nu jadi karempan teh? Ayeuna aing hayang runtut raut. Aing jeung bapa, Rahiang Kuku, Sang Seuweukarma. Ayeuna aing moal ngalawan. Ayeuna urang tetepkeun: tanah bagaian Dangiang Guru di tengah, bagian Rangiang Isora ti Wetan; jauhna nepi ka kalereun Paraga jeung Cilotiran, ti Kulon Tarum, ka Kulon bagian Tohaan di Sunda." Sanggeus Rahiangtang Kuku mulang ka Arile, sadatangna ka Arile, putus hancana di dunya, hilang dina umur nu kacida kolotna. Rahiang Sanjaya sasauran, ngawulang anakna, Rakean Panaraban, enya eta Rahiang Tamperan: "Ulah arek nurutan agama aing, lantaran eta aing dipikasieun ku jalma rea." Lilana jadi ratu salapan taun, diganti ku Rahiang Tamperan.

14.
Mimiti Sang Resi Guru ngawangun kuta pulo Jawa, kutana teh nyaeta Galunggung, ti wetana Jawa. Di wates Sunda, aya pandita sakti, dipateni tanpa dosa, ngaranna Bagawal Sajalajala. Atma pandita teh nitis, nya jadi Sang Manarah. Anakna Rahiang Tamperan duaan jeung dulurna Rahiang Banga. Sang manarah males pati. Rahiang Tamperan ditangkep ku anakna, ku Sang Manarah. Dipanjara beusi Rahiang Tamperan teh. Rahiang Banga datang bari ceurik, sarta mawa sangu kana panjara beusi tea. Kanyahoan ku Sang Manarah, tuluy gelut jeung Rahiang Banga. Keuna beungeutna Rahiang Banga ku Sang Manarah. Ti dinya Sang Manarah ngadeg ratu di Jawa, mangrupa persembahan. Nurutkeun carita Jawa, Rahiang Tamperan lilana ngadeg raja tujuh taun, lantaran polahna resep ngarusak nu tapa, mana teu lana nyekel kakawasaanana oge. Sang Manarah, lilana jadi ratu dalapanpuluh taun, lantaran tabeatna hade. Sang Manisri lilana jadi ratu geneppuluh taun, lantaran pengkuh ngagem Sanghiang Siksa. Sang Tariwulan lawasna jadi ratu tujuh taun. Sang Welengan lawasna jadi ratu tujuh taun.

15.
Enya kieu, mimiti Sang Resi Guru boga anak Sang Haliwungan, nya eta Sang Susuktunggal nu ngomean pakwan reujeung Sanghiang Haluwesi, nu nyaeuran Sanghiang Rancamaya. Tina Sanghiang Rancamaya aya nu kaluar. "Ngaran kula Sang Udubasu, Sang Pulunggana, Sang Surugana, ratu hiang banaspati." Sang Susuktunggal, enya eta nu nyieun pangcalikan Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja, ratu pakwan Pajajaran. Nu kagungan kadaton Sri bima-untarayana madura-suradipati, nya eta pakwan Sanghiang Sri Ratudewata. Titinggal Sang Susuktunggal, anu diwariskeunana tanah suci, tanah hade, minangka bukti raja utama. Lilana ngadeg ratu saratus taun.

16.
Rahiang Banga lawasna ngadeg ratu tujuh taun, lantaran polahna hanteu didasarkeun kana adat kabiasaan anu bener. Rakean di Medang lilana ngadeg ratu tujuh taun. Rakeanta Diwus lilana jadi ratu opatlikur taun. Rakeanta Wuwus lilana jadi ratu tujuhpuluh dua taun. Nu hilang di Hujung Cariang lilana jadi ratu taun, kaopatna teu cucud, lantaran salah lampah, daek ngala awewe ku awewe. Rakean Gendang lilana jadi ratu tilulikur taun. Dewa Sanghiang lilana jadi ratu tujuh taun. Prebu Sanghiang lilana jadi ratu sawelas taun. Prebu Datia Maharaja lilana jadi ratu tujuh taun. Nu hilang di winduraja lilana jadi ratu tilulikur taun. Nu hilang di Kreta lawasna jadi ratu salapanpuluhdua taun, lantaran ngukuhan kana lampah anu hade, ngadatangkeun gemah ripah. Diganti deui ku nu hilang di Winduraja, henteu lila ngadegna ratu ngan dalapanwelas taun. Diganti ku Sang Rakean Darmasiksa, titisan Sanghiang Wisnu, nya eta nu ngawangun sanghiang binajapanti. Nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahiangan. "Tina naon berkahna?" Ti sang wiku nu mibanda Sunda pituin, mituhu Sanghiang Darma, ngamalkeun Sanghiang Siksa. Boga anak nu hilang di Taman, lawasna jadi ratu genep taun. Boga anak deui nu hilang di Tanjung, lilana jadi ratu dalapan taun. Boga anak nu hilang di Kikis, lilana jadi ratu dualikur taun. Nu hilang di Kiding, lilana jadi ratu tujuh taun. Boga anak Aki Kolot, lilana jadi ratu sapuluh taun.

17.
Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina. Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit. Aya deui putra Prebu, kasohor ngaranna, nya eta Prebu Niskalawastu kancana, nu tilem di Nusalarang gunung Wanakusuma. Lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah. Sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, Hiang Bunisora, nu hilang di Gegeromas. Batara Guru di Jampang. Sakitu nu diturut ku nu ngereh lemah cai. Batara guru di Jampang teh, nya eta nyieun makuta Sanghiang Pake, waktu nu boga hak diangkat jadi ratu. Beunang kuru cileuh kentel peujit ngabakti ka dewata. Nu dituladna oge makuta anggoan Sahiang Indra. Sakitu, sugan aya nu dek nurutan. Enya eta lampah nu hilang ka Nusalarang, daek eleh ku satmata. Mana dina jaman eta mah daek eleh ku nu ngasuh. Mana sesepuh kampung ngeunah dahar, sang resi tengtrem dina ngajalankeun palaturan karesianana ngamalkeun purbatisti purbajati 35). Dukun-dukun kalawan tengtrem ngayakeun perjangjian-perjangjian make aturan anu patali jeung kahirupan, ngabagi-bagi leuweung jeung sakurilingna, ku nu leutik boh kunu ngede moal aya karewelanana, para bajo ngarasa aman lalayaran nurutkeun palaturan ratu. Cai, cahaya, angin, langit, taneuh ngarasa senang aya dina genggaman pangayom jagat. Ngukuhan angger-angger raja 36), ngadeg di sanghiang linggawesi, puasa, muja taya wates wangenna. Sang Wiku kalawan ajen ngajalankeun angger-angger dewa, ngamalkeun sanghiang Watangageung. Ku lantaran kayakinan ngecagkeun kalungguhanana teh. Diganti ku Tohaan Galuh, enya eta nu hilang di Gunung tiga. Lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran salah tindak bogoh ka awewe larangan ti kaluaran.

18.
Diganti ku Prebu, putra raja pituin, nya eta Sang Ratu Rajadewata, nu hilang di Rancamaya, lilana jadi ratu tilupuluhsalapan taun. Ku lantaran ngajalankeun pamarentahanana ngukuhan purbatisti purbajati, mana henteu kadatangan boh ku musuh badag, boh ku musuh lemes. Tengtrem ayem Beulah Kaler, Kidul, Kulon jeung Wetan, lantaran rasa aman. Teu ngarasa aman soteh mun lakirabi dikalangan jalma rea, di lantarankeun ku ngalanggar Sanghiang Siksa.

19.
Diganti enya eta ku Prebu Surawisesa, anu hilang di Padaren, Ratu gagah perkosa, teguh jeung gede wawanen. Perang limawelas kali henteu eleh. Dina ngajalankeun peperangan teh kakuatan baladna aya sarewu jiwa. Perang ka Kalapa jeung Aria Burah. Perang ka Tanjung. Perang ka Ancol kiyi. Perang ka Wahanten Girang. Perang ka Simpang. Perang ka Gunungbatu. Perang ka Saungagung. Perang ka Rumbut. Perang ka Gunungbanjar. Perang ka Padang. Perang ka Pagoakan. Perang ka Muntur. Perang ka Hanum. Perang ka Pagerwesi. Perang ka Madangkahiangan. Ti dinya mulang ka pakwan deui. Hanteu naunan deui. Ratu tilar dunya. Lawasna jadi ratu opatwelas taun.

20.
Prabu Ratudeawata, enya eta nu hilang kasawah-tampian-dalem. Ngajalankeun kahirupan saperti rajaresi. Tanpa Pwah Susu. Disunatan, maksudna supaya bersih, suci tina kokotor ari dikumbah, disunat ku tukangna, pituin Sunda eta teh. Datang huru-hara, musuh loba teu kanyahoan ti mana asalna. Perang di buruan ageung. Tohaan Sarendet jeung Tohaan Ratu Sanghiang kasambut. Aya pandita sakti dianiaya, pandita di sumedang. Sang pandita di Ciranjang dipaehan tanpa dosa, katiban ku tapak kikir. Sang pandita di Jayagiri digubruskeun ka sagara. Aya pandita sakti taya dosana. Munding Rahiang ngaranna, digubruskeun ka sagara, henteu paeh, hirup keneh, ngilang tanpa ninggalkeun ragana di dunya. Katelah ngaranna Hiang Kalinganja. Ku lantaran eta masing iatna anu masih tinggal di belakang kali, ulah arek hirup api-api pupuasaan. Tah kitu kaayaan jaman susah teh. Prebu ratudewata, lilana jadi dalapan taun, kasalapanna tilar dunya.

21.
Dan taun, lantaran ratu lampahna cilaka ku awewe. Larangan ti kaluaran jeung ku indungtere. Mindeng maehan jalmaiganti ku Sang Ratusakti Sang Mangabatan di Tasik. Enya eta anu hilang ka Pengpelengan. Lilana jadi ratu dalap tanpa dosa, ngarampas tanpa rasrasan, hanteu hormat ka kolot, ngahina pandita. Ulah diturut ku nu pandeuri, lampah ratu kitu mah. Tah kitu riwayat sang ratu teh.

22.
Tohaan di Majaya eleh perang, lantaran kitu hanteu cicing di kadaton. Manehna nu nyipta sanghiang Panji, ngendahan kadaton, dibalaj diatur mirupa taman mihapitkeun panto larangan. Nu ngawangun bale bobot tujuhwelas jajar, diukir diparada diwujudkeun rupa-rupa carita.

23.
Dina jaman jalma sajagat hanteu ngalaman kajahatan disebutna jaman kreta. Henteu aya nu ngajadikeun ancurna jagat. Dina jaman dopara, jaman parunggu, saterusna diganti ka jaman kali, jaman beusi, Sang Nilakendra, dilantarankeun lila teuing dina kasenangan, ngumbar hawa napsu. Bogana anak, kana hatena geus kaancikan ku rekadaya, nya nurunkeun pertapa, incu pateterean. Inuman keras dianggapna saperti cai wujudna godaan napsu. Jelema nu ngahuma rewog baranghakan, teu gumbira lamun teu pepelakan. Lila ratu ngalajur napsu dina barang dahar, teu nurutkeun adat kabiasaan, enggoning ngumbar kasenangan borakborak da nganggap saluyu jeung kabeungharanana. Lilana jadi ratu genepwelas taun.


24.
Diganti ku Nusia Mulya. Lilana jadi ratu duawelas taun. Mimiti datangna perobahan. Buana lemes nyusup ka nu kasar, timbul karusakan ti Islam. Perang ka Rajagaluh, eleh Rajagaluh. Perang ka Kalapa eleh Kalapa. Perang ka Pakuan, perang ka Galuh, perang ka Datar. Perang ka Mandiri, perang ka Patege, perang ka Jawakapala, eleh Jawakapala. Perang ka Gegelang. Meuntas perang ka Salajo, kabeh eleh ku urang Islam. Kitu nu matak kabawah ku Demak jeung ti Cirebon.

Dicutat tina: Atja (1968) Carita Parahiyangan: Naskah Titilar Karuhun Urang Sunda. Bandung: Jajasan Kebudajaan Nusalarang.

Naskah Sunda Kuno Ogin Amarsakti

Ringkasan eusi:

Baginda Maruf, Raja karajaan Madusari nyaéta putra Baginda Hamzah, incu Nabi Yusuf. Miboga dua urang istri, isteri kahiji ngaranna Nurhayat sedengkeun pamajikan nu kadua ngaranna Lasmaya. Baginda Maruf ti Nurhayat miboga dua anak téré ngaranna Pangeran Sabang sarta Raden Saka. Lasmaya sorangan nyaéta turunan Wiku Bagawan Madali.

Baginda Maruf indit moro ka Leuweung. Lasmaya anu keur hamil kolot ditinggalkeun babarengan Nurhayat. Sabot Lasmaya ngababarkeun, Nurhayat ngajurung dukun anak ambéh panon Lasmaya ditutup. Anak lalaki anu lahir ti Lasmaya dipiceun ka sagara sarta minangka gantina anak ucing, anak monyet  sarta  manuk ciung.  
Sanggeus Baginda Maruf datang tina moro ngagedur ambek sarta nuduh Lasmaya migawé serong sarta ngajurungna dipatenan. nurutkeun nasehat Patih Budiman, akhirna Lasmaya henteu jadi dipatenan malahan dipiceun ka leuweung ganggong simaganggong. Lasmaya diasupkeun kana karangkeng beusi sarta katilu putrana. Ucing saterusna dibéré ngaran Panji Malang, Monyet dibéré ngaran Panca Tantran sarta Manuk dibéré ngaran Panji Layang. Katilu putrana éta pola tingkahna ceples kawas manusa ilharna sarta bisa nyaritakeun ka Lasmaya yén putrana anu sabenerna mah dipiceun ka sagara luhur paréntah Nurhayat.

Panca Tantran sarta Panji Malang bisa ngarebut pedang pusaka anu disimpeun di Karaton Madusari. Kalayan gampang pisan karangkeng teh bisa di ancurkeun. Maranéhanana saterusna nyumput di taneuh lading di suku Gunung. Antaboga, Raja Nagari Malebah dina lalampahanana disisi sagara manggihan saurang orok lalaki anu keur ngapung dina sagara. Orok éta dicokot,dilorok sarta dibéré ngaran Amarsakti. Sanggeus Amarsakti dewasa dibéré nyaho ku Antaboga ngeunaan saha sabenerna Amarsakti éta.

Amarsakti dibéré kasempetan pikeun ngalalana ngalingkung Nagari Malebah. Dina kasempetan éta manéhna paamprok jeung ibuna sarta kalayan adik-adikna. Lasmaya sarta katilu putrana dibawa ku Amarsakti sarta ditarima someah ku Antaboga. Antaboga nitah Amarsakti  ka Madusari  pikeun nepungan bapana. Tapi dina lalampahanana di tengah leuweung, Amarsakti paamprok jeung rombongan Raja anu keur pakewuh alatan  aya manukna nu ngamuk. Sabot Baginda Maruf baris ditanduk ku sakadang banténg, Amarsakti nyamur jadi saurang anak kampung sarta bisa maéhan banténg éta.

Amarsakti anu ngaku ngaranna Sarah dibawa ku Baginda Maruf ka Madusari sarta dibéré pancén marengan  Raden Saka. Di Madusari Sarah boga kasempetan guguru ka Patih Budiman babarengan Pangeran Sabang sarta Raden Saka. Nurhayat henteu gumbira  ayana Sarah di Keraton. Dina kasempetan Sarah dibawa indit ku Pangeran Sabang sarta Raden Saka pikeun néangan pedang anu leungit sarta Sarah dipaehan. Ka Raja dilaporkeun yén pedang henteu bisa kapanggih sarta Sarah paeh ditarajang sato galak. Raja tetep muyung haténa sono ka pedangna anu leungit.

Alatan Antaboga éta sabenerna jin Islam, manéhna nyaho Amarsakti ngaganti ngaran Sarah sarta paeh ditengah leuweung. Antaboga geura-giru datang sarta ngahirupkeun deui Sarah sarta nyieun pedang tiruan anu sarupa pisan jeung pedang kagungan  Baginda Maruf anu leungit. Sarah dititah indit nganteurkeun pedang ka  ka Raja. Sarah ngalaporkeun yén dirina bener ditarajang badak sarta dina beuteung badak aya saurang awéwé anu dijaga ku monyet, ucing sarta manuk ciung. Disebutkeun ku Sarah yén pedang teh dibikeun ti tilu sato nu disebut. Sanggeus mikeun pedang, Sarah indit pamit pikeun balik ka lemburna

Dina lalampahan balik Sarah anjog di salah sahiji nagara anu ngaranna 'nagari Mulki'. Rajana anu ngaranna Mulkiyah miboga putri geulis rancunit anu ngaranna putri Bidayasari. Di Nagara Mulki Sarah ngaganti ngaran jadi Ogin sarta dijadikeun anak angkat ku tukang kebon. Bidayasari pohara gumbirana ningali kaendahan sarta kekembangan. Bidayasari dilamar ku Raja Madusari pikeun dinikahkan sareung putrana. Pangeran sabang sarta Raden saka dipiwarang bubumen di Karaton Mulki. Tapi Bidayasari henteu ngaladénan kalah ka indit ka kampung sarta malah mitresna Ogin, saterusna Ogin dibawa ka Karaton.

Raja Gomati ti karajaan Geulang Keraton mitresna Bidayasari. Dirga Bahu sarta Jaya kelana, patih karajaan nyulik Bidayasari. Sakumna nagari gehger sarta pasukan dikaluarkeun pikeun néangan nyimas putri. Ogin mimitina henteu milu néangan. Tapi Raja ngomong, " yén sing saha anu bisa nyalametkeun putrina baris dijadikeun minantu". Ogin ogé indit néangan putri.

Sanggeus diluar Karaton Ogin ngajanggélék jadi Amarsakti jeung kuda sakti pamere Antaboga anu ngaranna Gelap Sakti nu siap mantuan. Pamustunganana nu nyulik  putri bisa di éléhkeun sarta putri bisa disalametkeun. Amarsakti nampik nganteurkeun putri ka Karaton, sok sanajan putri nyatakeun katresnana ka manéhna. Amarsakti nyaritakeun, yén manéhna nyaho putri diculik éta ti si Ogin.

Amarsakti ménta ka putri pikeun ngayakeun sayembara anu eusina sing saha anu bisa mawa monyet, ucing sarta manuk anu bisa nyanyi sarta nyarita, éta pisan anu barisj adi salaki putri. Sanggeus ngomong kitu Amar sakti ngiles sarta mecenghul balik si Ogin. Putri ngambek ka si Ogin alatan henteu betus manehna miboga dunungan nu sakitu  kasepna.

Raja Mulki ngayakeun sayembara. Ka nu ngalamar kahiji nyaéta Pangeran Sabang. Raja ngomong, yén sayembara ieu dijieun pikeun negakeun kaadilan alatanana aya saratus anu ngalamar. Si Ogin indit balik kampung sarta ka Antaboga ngomong,  yén manéhna mitresna nyimas putri. Antaboga ngajurung Panji Malang, Panji Layang sarta Panca Tantran pikeun mantuan ogin pang ngalamarkeun sang putri. Alatan katilu sato éta lampahna kawas manusa sarta pohara nyenangkeun, raja narima lamaranana.

Patih Durjaman mangaruhan Raja Mulki anu keur bingung. Patih ngusulkeun ambéh nikahna putri teh jeung Pangeran Sabang ti Madusari. Tapi dina waktu walimahan  lumangsung ujug-ujug daratang rombongan Lasmaya ti Malebah sarta ngadesek yén putrana pisan anu ngabogaan hak jadi salaki sang putri. Deur kajadian perang rongkah pisan antara Madusari jeung Malebah. Dewi lasmaya milu perang sarta henteu bisa diéléhkeun. Pamustunganana Nurhayat kanyahoan yén manéhna nu curang. Mangkana Baginda Ma’ruf balikan deui jeung permaisuri Lasmaya, sedengkeun Ogin Amarsakti nikah jeung Bidayasari.

  • Nama pemegang naskah : Hamim Sumirta.
  • Tempat naskah : Kp. Sindangrasa Désa Ngamplang Kec. Cilawu.
  • Asal naskah : Warisan turun-temurun.
  • Ukuran naskah : 16 x 21 cm.
  • Rohang tulisan : 13 x 17 cm.
  • Kandel naskah : 84 Halaman.  
  • Jumlah jajar pér halaman : 14 jajar.
  • Jumlah jajar halaman awal dan akhir : 12 sarta 11 jajar.
  • Huruf : Arab/Pegon.

Islam Dalam Naskah Sunda Kuno

Benda Sejarah
Sajarah jeung kapurbakalaan di Kabupatén Garut saenyana tacan kacatet sakabéhna. Hal ieu ngeunaan tacan ayana tanaga ahli anu mampu naliti jeung medarkeun sacara utuh, salian ti éta watesan kapanggihna bukti sajarah jadi bisa ngamumulé kanu aya. Dina aspék ngalestarikeun titinggal sajarah jeung purbakala, Garut ngabogaan poténsi. Dina aspék ieu perlu mekarkeun pamangfaatanana boh tina objék kajian ilmiah atanapi keur nunjang objék kepariwisataan. Sabab, pangbinaan ogé pamekaran kana titinggal sajarah jeung purbakala perlu ditingkatkeun.

Salian ti barang-barang sajarah anu mangrupa Candi Cangkuang, situs budaya makam-makam kuno, jeung barang-barang di lingkungan situs cagar budaya saperti situs Kabuyutan Ciburuy, anu lengkepna dipaparkeun dina kaca “Objek Wisata”, masih aya barang-barang sajarah lain anu perlu dititénan ku masarakat saperti Naskah Kuno jeung titinggal Banda Sajarah karuhun, utamina mah anu nyangkut kana patula-patalina Islam jeung urang Sunda.

Naskah Kabuyutan Ciburuy
Naskah kuno tumut kana UU no.5 tahun 1992 nyaéta hasil tina karangan atanapi seratan anu nyaritakeun perkara nu mangrupa ketikan tur anu umurna minimal 50 taun. Tina hartian ieu, pasti waé jelas pasoalan naskah kuno di Kabupatén Garut lumayan loba. Ngan anu jadi pasoalanana masih loba naskah kuno anu jadi “barang pusaka” masarakat anu diteundeun teu dibaca. Sacara umum makna tulisan naskah kuno anu di eusina ajaran agama, bahasa, hukum adat, mitologi, paririmbon, kamasarakatan, sastra, sajarah, kasenian, oge élmu séjéna.

Salah sahiji naskah kuno anu kawilang buhun di Kabupatén Garut nyaéta naskah anu aya di situs Kabuyutan Ciburuy. Ditulis dina abad ka-15, ngagunakeun barang seukeut tina daun lontar ogé nipah anu ngagunakeun basa jeung abjad sunda kuno. Naskah ieu dipaparin ngaran “Amanat Galunggung”, anu eusina peupeujeuh ngeunaan étika jeung budi pekerti Sunda buhun, anu ditepikeun Rakeyan Darmasiksa, Panguasa Galunggung, ka putrana Ragasuci (Sang Lumathing Taman). Salian naskah éta, loba ogé naskah lian anu disusun abad ka-18 ngagunakeun huruf pegon (Arab gundul), Jawa-Cirebon, jeung Jawa-Sunda. Dihandap ieu ngarupakeun daftar naskah kuno di Kabupatén Garut.

No
Judul
Lokasi
Huruf
Bahasa
Tebal (Hlm)
1
Ahmad Muhammad
Muh. Abas Ardisoma, Ds. Karangsari, Leuwigoong
Arab
Sunda
370
2
Babad Godog
Encon, Desa Cangkuang, Kec. Leles
Arab
Sunda
71
3
Babad Sejarah Sukapura R. Soelaeman Anggapraja, Jln. Ciledug 225, Garut
Latin
Sunda
23
4
Danumaya
Darta, Ds. Mekarluyu, Kec. Sukawening
Arab
Sunda
62
5
Galonggong
Aja, Ds. Cibatek, Kec. Banyuresmi
Arab
Sunda
35
6
Ganda Sudarma
Darta, Ds. Mekarluyu, Kec. Sukawening
Arab
Sunda
80
7
Maduningrat
Dita, Ds. Simpen, Kec. Limbangan
Arab
Sunda
116
8
Prabu Kian Santang Aji
Atmadimadja, Ds. Cinunuk, Kec. Wanaraja
Arab
Sunda
49
9
Purnama Alam
Ny. Ayum, Ds. Simpen, Kec. Limbangan
Arab
Sunda
121
10
Rengganis
Ny. Ayum, Ds. Simpen, Kec. Limbangan
Arab
Sunda
97
11
Said Saman
Asep Dadang Bahrudin, Ds. Neglasari, Kec. Limbangan
Arab
Sunda
270
12
Sejarah Batuwangi
R. Soelaeman Anggapraja, Jln. Ciledug 225, Garut
Arab
Sunda
32
13
Silisilah Turunan Timbanganten Toha, Ds. Cikedokan, Kec. Bayongbong
Arab
Jawa-Cirebon
32
14
Sejarah Limbangan
R. Soelaeman Anggapraja, Jln. Ciledug 225, Garut
Latin
Sunda
16
15
Walangsungsang
Imas Darwati, Ds. Cinunuk, Wanaraja
Arab
Sunda
266

Banda Arkeologis
Sababaraha hiji hasil panalitian arkeologi dina taun 1994 di Kabupaten Garut ku Tim Balai Arkeologi (Balar) Bandung diantarana :

1. Batu Pipisan dan Gandhik
Kapanggihna di buruan padumukan Bapa Engkar bin Sugandi, Kampung Sindangsari RT03/RW02, desa Cinunuk Wanaraja dina koordinat . Sabab banda arkeologis teu acan kantos dipendakan dina masa prasajarah, diperkirakeun ieu banda sajarah teh mangrupakeun paninggalan karajaan Sunda Kuno.

2. Punden Berundak Pasir Lulumpang
Ayana di areal perkebunan anu dipelakan tangkal jati jeung palawija, wilayah pasir lulumpang Kecamatan Banyuresmi dina koordinat. Dina areal punden berundak oge aya Batu Lumpang jeung Menhir. Ditafsirkeun ku tim arkeologi mah banda ieu teh ngarupakeun titinggal tradisi megalitikum.

3. Prasasti Batu Tulis Barukai
Ayana di sawidang kebon Bapa Mohamad Toha di sagigireun jalan Kampung Barukai, Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug (dina waktu kapanggihna masih di Kecamatan Bayongbong), dina koordinat. Prasasti ditulis dina batu andesitic anu ngawentuk pasagi opat ngabogaan ukuran 130cm x 170cm jeung kandelna 15 cm ti dasar taneuh. Tulisan anu ngagunakeun huruf Sunda Kuno nyaeta “bhagi bhagya kanu ngaliwat”.

Daftar naskah kuno
* Babad Godog
o Kacamatan : Lélés
o Tempat naskah : Désa Cangkuang, Kac. Lélés
* Suryakanta
o Kacamatan : Balubur Limbangan
o Tempat naskah : Desa Cigagadé
* Suryaningrat
o Kacamatan : Balubur Limbangan
o Tempat naskah : Desa Cigagadé
* Babad Limbangan
o Kacamatan : Garut Kota
o Tempat naskah : Jln Ciledug 225 Kal. Kota Kulon.
* Danumaya
o Kacamatan : Banyuresmi
o Tempat naskah : Desa Cibatek
* Sajarah Sukapura
o Kacamatan : Garut Kota
o Tempat naskah : Jln. Ciledug No. 225 Kalurahan Kota Kulon
* Umar Maya
o Kacamatan : Banyuresmi
o Tempat naskah : Desa Cibatek
* Batara Kala
o Kacamatan : Sukawening
o Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu
* Ahmad Muhamad
o Kacamatan : Karangpawitan
o Tempat naskah : Kp. Sindangpalay Desa Sindangpalay
* Kitab Étangan
o Kacamatan : Sukawening
o Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu
* Kumpulan Do'a, Jampé jeung Silsilah
o Kacamatan : Sukawening
o Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu
* Layang Buana Wisésa
o Kacamatan : Sukawening
o Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu
* Layang Muslimin Muslimat
o Kacamatan : Sukawening
o Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu Kec. Sukawening
* Rawi Nabi
o Kacamatan : Sukawening
o Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu Kec. Sukawening
* Sulanjana
o Kacamatan : Sukawening
o Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu
* Walangsungsang
o Kacamatan : Wanaraja
o Tempat naskah : Desa Tegalsari
* Ogin Amarsakti
o Kacamatan : Cilawu
o Tempat naskah : Kp. Sindangrasa Desa Ngamplang
* Sajarah Turunan Timbanganten
o Kacamatan : Bayongbong
o Tempat naskah : Desa Cikedokan
* Samaun
o Kacamatan : Cikelet
o Tempat naskah : Desa Cikelet Kulon
* Galonggong
o Kacamatan : Banyuresmi
o Lokasi di Aja, Desa Cibatek, 35 kaca, huruf Arab, jeung basa Sunda.
* Sajarah Batuwangi
o Kacamatan : Garut Kota
o Aya di R. Souleman Anggapraja, Jalan Ciledug 225 Garut, 32 kaca, huruf Arab jeung basa Sunda.

Sumber : Kabupaten Garut Dalam Dimensi Budaya