Tampilkan postingan dengan label Kasepuhan Sinarresmi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasepuhan Sinarresmi. Tampilkan semua postingan

Tentang Pertanian Di Kasepuhan Sinar Resmi

Tentang Pertanian Di Kasepuhan Sinar Resmi   

Kegiatan Paska Panen 

kasepuhan Sinar Resmi terletak di desa Sirna Resmi Kecamatan cisolok Kabupaten Sukabumi ( sekitar 27 km dari kota Palabuhanratu ). Mata pencaharian pokok masyarakat Adat Sirna Resmi adalah bertani tradisional. Hal yang istimewa dan berlaku pada masyarakat adat Kasepuhan Sirna Resmi adalah, “Padi, merupakan satu-satunya hasil pertanian yang tidak boleh diperjual belikan (Pamali), atau dengan kata lain padi dan beras dilingkungan kasepuhan Sinar Resmi tidak menjadi “Komoditi” yang bebas diperjual belikan.Yang lebih menarik adalah kearifan lokal dan tradisional yang berdampak positif terhadap keberlangsungan pemeliharaan benih-benih padi lokal ( pare asal ). Dalam hal bercocok tanam padi, pemangku adat berada pada posisi pemegang otoritas pemeliharaan benih. Setiap incu putu hanya boleh menanam benih yang diberikan dan telah dapat restu dari Pupuhu Adat Kasepuhan Sinar resmi, Pupuhu adat Kasepuhan sinar Resmi adalah Abah Asep Nugraha. Dengan demikian, keberlangsungan pemeliharaan benih lokal tetap terjaga. Dengan demikian juga, kasepuhan Sinar Resmi hingga saat ini masih memiliki dan memelihara kelestarian benih padi sekitar 68 jenis varietas padi lokal terdiri dari padi huma dan padi sawah yang masih ada dan di tanam di Wilayah Kasepuhan Sinar Resmi.

Sesuai dengan tekad Pemerintah untuk bisa memproduksi beras nasional sebanyak 2 juta ton, Kasepuhan Sinar Resmi merespon program ini dan sangat realistis mengingat potensi lahan pertanian baik pertanian sawah maupun pertanian lading / huma. Peran Institusi Pemerintah dan Non Pemerintah seperti masyarakat Adat Kasepuhan Sinar Resmi yang di pimpin oleh Pupuhu adat Kasepuhan Sinar Resmi yaitu Abah Asep Nugraha, dalam hal ini cukup kental. Pasalnya kasepuhan Adat sinar Resmi yang terletak di kampung Sirna Resmi Desa Sirna Resmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat yang di pimpin oleh Pupuhu Adat Abah Asep Nugraha  amat terkait dalam mendukung program ketahanan pangan dan menginginkan untuk mempertahankan serta melestarikan jenis padi varitas lokal yang jumlah nya ada 68 jenis varitas padi lokal yang masih ada dan tersebar di sekitar lingkungan Kasepuhan Adat Sinar Resmi. Selain sebagai fasilitator Kasepuhan Sinar Resmi antara masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi dengan Pemerintah juga sebagai pemersatu tali silaturahmi antar individu masyarakat adat, terutama yang ada dilingkungan Kasepuhan Sinar Resmi, dalam hal ini perlu adanya terobosan baru dan dorongan dari pihak pemerintah agar Program Pelestarian Pemberdayaan dan peningkatan kualitas dan kwantitas 68 jenis padi varitas lokal ini yang ada di lingkungan Kasepuhan Sinar Resmi ini bisa tercapai.

Kesenian Dog Dog Lojor Kasepuhan Sinar Resmi

Kesenian Sunda, Kasepuhan
Sumber gambar: dedisuhendra.com

Pengertian

Dogdog Lojor merupakan untaian dua kata, yaitu dogdog dan lojor. Dogdog merupakan alat musik tabuh yang terbuat dari batang kayu yang berongga dengan bulatan berdiameter 15 cm dan ujungnya mengecil berdiameter antara 12-13 cm, sedangkan panjangnya lebih kurang 90 cm hingga 100 cm. Pada ujung bulatan yang berdiameter 15 m itu ditutup dengan kulit kambing yang telah dikeringkan, kemudian diikat dengan tali bambu dan dipaseuk / baji untuk mengencangkan kulit tersebut, sehingga kalau dipukul Akan mengeluarkan suara dog.. dog.. dog. Akhirnya disebutlah alat musik itu dogdog. Sedangkan lojor (bahasa Sunda dialek Banten) berarti `panjang'. Biasanya dogdog yang ;mum panjangnya berukuran antara 30 — 40 cm. Dogdog lojor mempunyai panjang 90 — 100 cm. Jadi, dogdog lojor adalah dogdog yang panjang.

Fungsi
Upacara Seren Taun, Upacara Sedekah, Upacara Ruwatan, syukuran 40 hari bayi lahir, dan Upacara Ngabaladah `pembukaan' ladang baru dan upacara perkawinan, adalah upacara yang selalu diiringi demean seni dogdog lojor ini.

Masyarakat Banten khususnya masyarakat Baduy mempunyai upacara-upacara yang dianggap sakral dan magis, seperti upacara di atas. Di sini dogdog lojor sangat berperan karena seni ini dianggap seni yang buhun dan mengandung nilai-nilai magis.

Seni dogdog lojor dapat dijadikan sarana ungkapan rasa syukur, ungkapan penolak bala, dan ungkapan persembahan, atau bahkan ungkapan rasa kegembiraan. Semua dapat dilihat dalam upacara yang laksanakannya. Namun dalam perkembangan dewasa ini seni dogdog lojor memudar, dari seni yang dianggap sakral dan magis menjadi seni hiburan yang kapan dan di mana saja dapat dipertunjukkan.

Pemain dan Waditra
Pemain yang diperlukan dalam seni ini berjumlah minimal 12 orang yang terdiri atas 4 orang pemain dogdog dan 8 orang pemain angklung; yang dibagi menjadi dua kelompok demean jumlah orang yang sama. Para pemain tidak dimonopoli oleh kaum pria saja, kini demean perkembangan jaman maka perempuan pun bisa memainkan seni ini. Waditra yang dipergunakan dalam permainan ini adalah dogdog dan angklung.

Jalannya Permainan
Diawali pukulan dogdog sebagai aba-aba bagi pemain angklung, maka permainan ± 1 mulai pada pukulan dogdog pakpak pong, pak……………. Pak……. pong, serempak pemain angklung membunyikan angklungnya dengan membawakan lagu "Kacang Buncis" atau "Tongeret".


Kacang Buncis

Cis kacang buncis nyengcle
Ti anggolati kuda
Nu geulis tembong pingping
Keun bae jang kaula
Cis kacang buncis nyengcle
Kembang cengek nu mencenges
Nu geulis keur ngalewe
Dasar awewe jerenges

Tongeret

Tongeret tong
Tongeret tong kerrmiiiii
Tamiang dibeulahan dibeulahan
Awewe wantererrrrrrrrrrrr Awewe wantereriiiiiiirrrr Ngajak kawin kaduaan kaduaan

Biasanya instrumen "Tongeret" adalah irama dasar yang terus-menerus mengiringi permainan seni dogdog lojor ini.

Permainan dogdog lojor ini terdiri atas :

Ucing-ucingan

Oray-orayan
Ngadu bedug / dogdog
Ngadu domba
Ngadu jalan

Berbagai permainan waditra di atas, menimbulkan berbagai macam gerak para mainnya sehingga terlihat sangat dinamis demean teriakan hoyah para pemainnya. :gitu pula demean lincah mereka memainkan angklung dan dogdog dalam berbagai rakan tadi.

Beberapa istilah permainan ini yang sama permainan dogdog lojor yang ada di Jawa Barat :

Angklung Buncis daerah Priangan
Angklung Gubrag daerah Bogor
Bedug Lojor daerah Banten Selatan dan Utara
Angklung Bungko daerah Cirebon
Badeng Badud daerah Priangan sebelah utara

Wilayah penyebaran dogdog lojor ini berada di Banten selatan, yaitu Bayah, carucuk, Ciherang, Cisungsang, Cisitu,Citokek, Cinangka, dan Kanekes Baduy, juga di Sukabumi khususnya di Sirnaresmi dan Ciptarasa Cisolok.

Tokoh yang berjasa dalam pengembangan seni dogdog lojor adalah :

Di Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak :
  • Bapak Oco
  • Bapak Mansyur
  • Bapak Okri



Pasir Nangka Kabupaten Lebak :
  • Panji Wulung
  • UPEC pimpinan bapak Uhen Cikotok.



Sumber : Masduki Aam dkk. 2005 Kesenian Tradisional Provinsi Banten Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung
Sumber gambar: dedisuhendra.com

Seni Debus Dari Kasepuhan Sinar Resmi

Sumber gambar dedisuhendra.com

Seni Debus Dari Kasepuhan Sinar Resmi - Debus merupakan kesenian bela diri dari Banten yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa. Misalnya kebal senjata tajam, kebal air keras dan lain- lain.
Kesenian ini berawal pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570). Pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa (1651—1692) Debus menjadi sebuah alat untuk memompa semangat juang rakyat banten melawan penjajah Belanda pada masa itu. Kesenian Debus saat ini merupakan kombinasi antara seni tari dan suara.
Kesenian Debus yang sering dipertontonkan di antaranya:

  • Menusuk perut dengan tombak atau senjata tajam lainnya tanpa terluka.
  • Mengiris bagian anggota tubuh dengan pisau atau golok.
  • Memakan api.
  • Menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya hingga tebus tanpa mengeluarkan darah.
  • Menyiram tubuh dengan air keras hingga pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulit tetap utuh.
  • Menggoreng telur di atas kepala.
  • Membakar tubuh dengan api.
  • Menaiki atau menduduki susunan golok tajam.
  • Bergulingan di atas serpihan kaca atau beling.

Debus dalam bahasa Arab berarti tongkat besi dengan ujung runcing berhulu bundar. Bagi sebagian masyarakat awam kesenian Debus memang terbilang sangat ekstrim. Pada masa sekarang Debus sebagai seni beladiri yang banyak dipertontonkan untuk acara kebudayaan ataupun upacara adat.

Sejarah
Debus lebih dikenal sebagai kesenian asli masyarakat Banten, yang mungkin berkembang sejak abad ke-18. Menurut sebagian banyak sumber sejarah, kesenian debus Banten bermula pada abad 16 masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570) Debus mulai dikenal pada masyarakat Banten sebagai salah satu cara penyebaran agama Islam. Namun ada juga yang menyebutkan Debus berasal dari daerah Timur Tengah bernama Al-Madad yang diperkenalkan ke daerah Banten ini sebagai salah satu cara penyebaran Islam pada waktu itu. Yang lainnya menyebutkan bahwa debus berasal dari tarekat Rifa’iyah Nuruddin al-Raniri yang masuk ke Banten oleh para pengawal Cut Nyak Dien (1848—1908).

Sumber: id.wikipedia

Seni Laes Atau Lais Dari Kasepuhan Sinar Resmi

Sumber gambar dedisuhendra.com
Seni Laes Atau Lais Dari Kasepuhan Sinar Resmi - Kesenian Lais Diambil Dari Nama Seseorang Yang Sangat Terampil Dalam Memanjat Pohon Kelapa Yang Bernama ‘Laisan” yang sehari – hari dipanggil Pak Lais. Atraksi yng ditontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman, sambil diiringi tetabuhan seperti dog-dog, gendang, kempul dan terompet. Kesenian ini sudah ada sejak Jaman Penjajahan Belanda.

Kesenian ini merupakan sebuah kesenian pertunjukan akrobatik dalam seutas tali sepanjang 6 meter yang dibentangkan dan dikaitkan diantara dua buah bamboo dengan ketinggian 12 sampai 13 meter.


Kesenian Lais di ambil dari nama seseorang yang sangat terampil memanjat pohon kelapa yang bernama ”Laisan” yang sehari-hari di panggil Pak Lais. Lais ini sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda, tempatnya di Kampung Nangka Pait, Kec. Sukawening. Atraksi yang di tontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman dengan diiringi musik reog, kendang penca, dog-dog dan terompet.


Lais/Laes

Lais merupakan suatu jenis pertunjukan rakyat di Jawa Barat yang mirip akrobat  Tetapi, karena kegiatan apa pun dalam masyarakat Sunda tradisional ini selalu tidak lepas dari kepercayaan penduduknya, maka keterampilan akrobatik yang dilakukan oleh pemain-pemain lais itu pun dipercaya mendapat bantuan gaib. Selain itu, tentu saja lais juga diberi nafas seni dengan dimasukkannya tetabuhan dan dilantunkannya lagu-lagu selama pertunjukan.
Pertunjukan lais terutama mempertontonkan keterampilan satu atau dua orang pemain lais yang berjalan atau duduk di atas tali tambang yang direntangkan di antara dua ujung bambu. Tali tambang tersebut selalu bergoyang dan bambunya pun bergerak-gerak selagi menyangga beban dan gerakan pemain lais tersebut.

Lais terdapat di Kabupaten Sukabumi, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cirebon dan Bandung. Lais dapat disaksikan pada acara-acara kenegaraan, hajatan, pernikahan ataupun khitanan.

Cara penyajian pertunjukan lais dilakukan dengan terlebih dahulu memancangkan dua leunjeur (batang) awi gombong (bambu berbumbung besar) di tanah serta merentangkan tali tambang pada kedua ujung bambu tersebut. Tali tambang  kemudian diikatkan pada kedua ujung bambu yang dipancangkan tersebut lalu tetabuhan pun dibunyikan sebagai pembukaan juga sebagai pemberitahuan bahwa permainan akan segera dimulai. Hal ini dilakukan untuk mengundang penonton dan sebagai pemanasan suasana.

Ketika permainan dimulai, sang dukun (pawang) lais pun siap dengan perlengkapan upacaranya, yaitu sesajen (sesajian) dan pedupaan (kukusan). Bersamaan dengan bunyi tetabuhan, dibakarlah kemenyan dalampedupaan tadi serta mantera-mantera pun dibacakan. Upacara ini dimaksudkan agar si pemain lais  diberi kekuatan, kelincahan, keterampilan serta keselamatan di dalam permainannya.

Busana yang dikenakan oleh pemain lais yaitu busana yang biasa dipakai oleh wanita seperti kain dan kebaya, terutama pemain lais di Priangan. Dengan langkah gemulai, pemain lais yang menurut kepercayaan mulai kemasukan roh gaib  itu menari-nari mendekati salah satu tiang bambu. Ia menyelipkan sebuah payung di pinggangnya. Pada  saat itu terjadilah percakapan antara pemain lais dan pawang. Percakapannya yaitu sebagai berikut:

Pawang: “Rek ka mana, Nu Geulis?”(Mau ke mana, Cantik?)
Si Lais  : “Apan rek ulin.” (Kan mau main.)
Pawang: “Nyandak naon?” (Membawa apa?)
Si Lais : “Ieu payung bisi panas jeung duwegan bisi halabhab.” (Ini payung kalau-kalau kepanasan dan kelapa muda kalau-kalau kehausan.)
Pawang: “Pek atuh geura amengan.” (Silakan kalau mau main.)

Sambil menari lagi, Si Lais terus mendekati tiang bambu lalu dengan cekatan  memanjat tiang bambu tersebut seperti seekor kera. Cara memanjatnya yaitu dengan tidak merapatkan tubuh ke ke batang bambu, melainkan dengan menggunakan tangan dan kakinya.

Ketika Si Lais memanjat batang bambu, tabuhan pengiring dibunyikan semakin keras sampai Si Lais tersebut mencapai puncak batang bambu. Setelah sampai pada tali tambang yang direntangkan, kemudian Si Lais pun duduk di ujung bambu dengan santai dan berleha-leha, lalu ia menyanyi namun hanya suara gumamnya saja tanpa kata-kata. Pawang yang berada di bawah bertanya lagi sambil menengadahkan kepalanya.

Pawang : “Hey, Geulis, keur naon?” (Hey, Cantik,  sedang apa?)
Si Lais   : “Apan ieu keur senang-senang!” (Kan ini lagi bersenang-senang.)
Pawang : “Cing, Geulis, ngojay kawas bangkong.” (Cobalah, Cantik, kamu berenang seperi katak.)
Si Lais   : “Mangga,” sambil tersenyum
Kemudian Si Lais pun menelungkup pada ujung bambu dan menekankan perutnya serta membuat gerakan seperti sedang berenang.
Si Lais : “Aduh capejeung hanaang.” (Aduh ,saya capek dan haus).

Si Lais kemudian duduk lagi pada ujung bambu, lalu membelah kelapa muda yang dibawanya dengan golok. Selain gerak-gerik Si Lais yang terampil itu, kelakuannya pun membuat hati penonton berdebar terutama para penonton wanita. Ketika Si Lais membelah kelapa muda, yang digunakan sebagai tahanan adalah lututnya dan air kelapa itu pun diminum sambil lalagedayan(berleha-leha atau berbaring dengan santai sambil bergoyang kaki). Setelah meminum habis air kelapa muda itu, Si Lais pun turun dengan cara menyusuri bambu dengan meluncur.

Setelah sampai di bawah, Si Lais menari-nari dan golok yang dibawanya diletakkan di dekat para penabuh, kemudian ia naik kembali sampai ke puncak tiang bambu dan berdiri di sana. Ia mengambil payung yang diselipkan di pinggangnya. Dengan menggunakan payung itu, ia meniti (berjalan) di atas tali tambang yang direntangkan tadi.

Di tengah-tengah tambang tersebut ia menari, menyanyi dan mengayun-ayunkan badannya. Atraksi tersebut merupakan puncak dari permainan lais. Banyak diantara penonton yang menahan nafas dan ada pula yang berteriak karena merasa khawatir Si Lais jatuh terutama para penonton wanita. Si Lais berpura-pura memperlihatkan gerakan kalau ia terpelesest, sehingga membuat penonton menjadi histeris. Dalam kepura-puraannya itu ia  berceloteh. “Aduuh …… Wah …… Awas,” dan … “La la la,” ia bernyanyi tak henti-hentinya.  Setelah puas mempermainkan penonton, ia pun berjalan menuju ujung yang lain, kemudian sambil berdiri di ujung tersebut ia pun menari mengikuti irama tetabuhan dari bawah.

Setelah selesai, Si Lais pun turun dengan cara meluncur. Tetabuhan dari bawah terus dibunyikan dan peniup terompet pun meniup tarompetnya dengan lagu-lagu yang riang. Hal ini dilakukan untuk memberikan waktu kepada pemain lais untuk beristirahat.

Setelah selesai beristirahat, Si Lais pun kembali memanjat bambu tersebut. Ia memperlihatkan permainannya yaitu dengan berayun-ayun di tengah tambang dengan kaki tergantung. Sambil berjalan di atas tambang, ia membuka pakaian wanita yang dipakainya dengan ngorondang (merangkak).

Setelah menyelesaikan pertunjukannya, ia pun turun kembali menyusuri tambang dan ini merupakan akhir dari pertunjukan lais Si Lais kemudian dibawa ke dalam rumah oleh pawang. Ketika keluar, Si Lais tersebut bersikap seperti biasa dan pakaiannya sudah diganti dengan pakaian biasa.

Pertunjukan lais memakan waktu setengah hari atau bahkan sehari penuh, tergantung kepada yang mengundangnya. Waditra yang digunakan untuk mengiringi pertunjukkan lais sama dengan waditra yang digunakan dalamkendang penca, tetapi ditambah dengan dogdog dan angklung. Para pemain lais terdiri dari laki-laki yang sudah dewasa sebanyak 6 orang, yaitu satu orang pemain lais, satu orang pawang yang kadang-kadang merangkap menjadi pimpinan lais dan yang lainnya adalah para penabuh.

Permainan lais biasanya diadakan di arena terbuka seperti di lapangan atau alun-alun yang tempatnya dianggap luas untuk menancapkan tiang bambu dengan jarak 10-15 meter antara tiang bambu yang satu dengan tiang bambu yang lainnya. Pertunjukan lais bukan merupakan bagian dari suatu upacara. Oleh karena itu, dapat dipanggil setiap saat. Permainan lais ini diturunkan oleh keluarga ke setiap generasi penerusnya.

Refferensi: http://amochiqal89.wordpress.com/2008/04/16/kesenian-lais




Pembuatan Film "Rumah Diatas Awan" Kasepuhan Sinar Resmi

Rumah Diatas Awan

Kunjungan Kasepuhan Sinar Resmi ke Purwakarta

Kunjungan Kasepuhan Sinar Resmi ke Purwakarta

Kunjungan Kasepuhan Sinar Resmi ke Purwakarta

Kunjungan Kasepuhan Sinar Resmi ke Purwakarta

Kunjungan Kasepuhan Sinar Resmi ke Purwakarta

Seren Taun, Ritual Ratusan Tahun Silam




Seren Taun, Ritual Ratusan Tahun Silam - Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memanggul padi saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.




WARGA Kasepuhan Ciptagelar Kesatuan Adat Banten Kidul tengah bersolek menyambut hajatan besar ucapan syukur hasil panen padi. Aura hajatan mulai terasa begitu masuk ke pelataran alun-alun. Alun-alun kasepuhan mulai ramai oleh warga dan tamu dari berbagai daerah sehari sebelum puncak acara Seren Taun, ritual yang sudah dilakukan sejak 646 tahun silam.


Di pelataran alun-alun Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, panggung pertunjukan wayang golek berada tepat di depan Imah Gede, rumah silaturahmi warga. Pameran hasil kerajinan warga disuguhkan di sisi timur alun-alun berdampingan dengan panggung hiburan.

Kemeriahan perayaan Seren Taun semakin lengkap saat lantunan lagu dangdut penyanyi pongdut (jaipong dangdut) hampir tak putus semalam suntuk menemani warga yang berkerumun berjoget mengusir dingin.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mempersiapkan upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Hari masih cukup pagi saat sekitar 11 orang warga memotong dua ekor kerbau yang akan digunakan sebagai lauk pauk selama upacara. Sementara itu, ibu-ibu sibuk mempersiapkan hidangan untuk disajikan di Imah Gede. Maklum saja, sepanjang upacara adat Seren Taun semua tamu yang datang di Kasepuhan Ciptagelar tidak akan dibiarkan kelaparan. Mereka dijamu dan bebas untuk menikmati hidangan di Imah Gede.

Hebatnya, seluruh keperluan upacara disiapkan secara swadaya dari hasil mengumpulkan iuran kolektif dari warga. Bunyi rentetan petasan terdengar bersahutan dari alun-alun tanda dimulainya perayaan Seren Taun, Minggu (24/8/2014).

Di tengah alun-alun sepuluh orang wanita berkebaya hitam terlihat memukul-mukul lesung dengan alu menciptakan bunyi-bunyian berirama. Ribuan warga dan tamu memadati pinggir alun-alun, seolah tak sabar ingin menyaksikan kemeriahan upacara Seren Taun.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat memasukkan padi ke dalam lumbung (leuit) komunal saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Sementara itu rombongan debus, baris kolot, dayang-dayang, dan perkusi dogdog lonjor mengiringi barisan rengkong yang memikul padi berjalan menyusuri pesawahan menuju lumbung padi negara (Leuit Si Jimat) di alun-alun.

Bagi tamu yang datang dari jauh, rasa lelah setelah melewati jalan berbatu terjal serta tanjakan dan turunan curam sejauh 20 kilometer dari Kampung Cikadu sirna, larut dalam kemeriahan Seren Taun. "Nggak nyesel datang jauh-jauh dari Jakarta ke sini, biar harus repot lewat jalan batu dan naik turun gunung sampai mobil selip di tanjakan," ujar Mutiara yang sengaja datang bersama anak dan suaminya.

Seren sendiri berarti seserahan atau menyerahkan, taun berarti tahun. Seren Taun dimaknai warga sebagai upacara penyerahan sedekah (tatali)hasil panen padi selama setahun serta memohon berkah pada Tuhan agar hasil panen tahun mendatang lebih meningkat. Sebagai masyarakat agraris, kehidupan masyarakat adat kasepuhan bergantung dari budidaya padi. Secara turun-temurun mereka menanam padi menggunakan sistem lahan kering atau huma maupun lahan basah atau persawahan.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mempersiapkan upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Dalam setahun warga hanya sekali menanam padi, setelah panen lahan akan diistirahatkan. Mereka percaya alam perlu keseimbangan, dengan diistirahatkan maka akan memulihkan lahan agar kembali subur. Sebagai peghormatan terhadap padi yang menjadi sumber utama kehidupan mereka, masyarakat adat kasepuhan melakukan berbagai ritual dari padi ditanam hingga padi dipanen.

Mereka juga memercayai bahwa padi merupakan wujud seorang dewi yaitu Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Jika mereka merawat padi dengan baik dari ditabur hingga dipanen, maka Nyi Pohaci Sanghyang akan memberi kesuburan atas hasil panen yang melimpah. Begitu pentingnya padi dalam konsep hidup masyarakat adat Kasepuhan, mereka pantangan membuang dan memperjualbelikan padi.

"Semua hasil panen padi dimanfaatkan untuk kebutuhan warga kasepuhan, tidak ada yang dijual. Meskipun hanya menanam padi sekali dalam setahun, alhamdulillah warga tidak pernah kekurangan beras. Di sini warga juga pantang membuang nasi. Akan sakit fisik jika membuang nasi," ujar Upar Suparman, warga Kasepuhan Ciptagelar.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memanggul padi saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Sebagai ritual terakhir dari prosesi Seren Taun adalah upacara Ngadiukeun, atau memasukkan pocong padi ke Leuit Si Jimat oleh Pimpinan Adat Kasepuhan Ciptagelar yaitu Abah Ugi Sugriana Rakasiwi. Kidung puji-pujian kepada Nyi Pohaci Sanghyang Asri dan iringan suara kecapi menambah sakral suasana di pelataran Leuit Si Jimat.

Usai pocong padi pertama dimasukkan ke Leuit Si Jimat, warga mengikuti memasukkan padi ke leuit karuhun atau lumbung komunal milik Kasepuhan. "Mulanya Leuit Si Jimat digunakan untuk cadangan warga jika seandainya terjadi musim paceklik. Tapi saat ini warga tidak pernah mengambil dari Leuit Si Jimat, karena di setiap kampung di Kasepuhan terdapat lumbung komunal yang jumlahnya ratusan dan bisa dimanfaatkan warga," ujar Humas Kasepuhan, Yoyoyogasmana.

Dari hasil sensus dalam tiga hari yang biasa disebut Ponggokan saat ini terdapat 8.305 lumbung padi di seluruh Kasepuhan. Rata-rata tiap lumbung mampu menampung 500 hingga 1.000 pocong (ikat) padi.



Warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat melewati lantayan (jemuran padi) saat upacara seren taun, Minggu (24/8/2014). Seren taun adalah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen padi selama satu tahun.

Menurut Yoyoyogasmana, tahun ini hasil panen padi sedikitnya mencapai 850.106 pocong padi di seluruh Kasepuhan. "Dari data terakhir yang masuk, hasil panen dari Abah sendiri 8.095 pocong padi, sedangkan dari warga 842.011 pocong padi. Itu belum semuanya terdata. Jadi bisa lebih," ujarnya.

Yoyoyogasmana menambahkan bahwa panen tahun ini lain dari biasanya. Abah Ugi Sugriana Rakasiwi yang biasanya hanya membuat tiga hingga empat lumbung padi baru tiap tahun, kali ini membuat 11 lumbung baru untuk menampung panen padi. Upacara puncak Seren Tahun pun selesai setelah pocong padi masuk ke dalam Leuit Si Jimat.

Pengelolaan lahan dan hasil panen padi masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar menjadi bukti kearifan lokal untuk kemandirian dan ketahanan pangan.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2014/08/27/130600527/Seren.Taun.Ritual.Ratusan.Tahun.Silam

Peta Lokasi Kasepuhan Di Sukabumi

Peta Lokasi Kasepuhan Di Sukabumi
Peta Lokasi Kasepuhan Di Sukabumi

Budaya Atau Masyarakat Adat Kasepuhan Adat Banten

Source Image: www.halimunsalak.org

Budaya Atau Masyarakat Adat Kasepuhan Adat Banten - Wilayah kerja TNGHS terletak dalam 28 kecamatan, dimana 9 kecamatan di Kabupaten Bogor, 8 kecamatan di Kabupaten Sukabumi dan 11 kecamatan di Kabupaten Lebak. Secara keseluruhan terdapat 123 desa yang sebagian/seluruh wilayahnya berada di dalam dan/atau berbatasan langsung dengan kawasan TNGHS.

Komposisi jumlah penduduk dari ke-123 desa tersebut terdiri dari: 155.345 jiwa di Kabupaten Sukabumi (Tahun 2006), 296.138 jiwa di Kabupaten Bogor (Tahun 2005) dan 154.892 jiwa di Kabupaten Lebak (Tahun 2005). Berdasarkan survey kampung yang dilakukan oleh GHSNP MP-JICA pada tahun 2005 dan 2007, tercatat ada 348 kampung yang berada di dalam kawasan TNGHS.

Masyarakat lokal yang ada umumnya adalah suku Sunda, yang terbagi ke dalam kelompok masyarakat kasepuhan dan bukan kasepuhan. Untuk masyarakat kasepuhan, secara historis penyebarannya terpusat di Kampung Urug, Citorek, Bayah, Ciptamulya, Cicarucub, Cisungsang, Sirnaresmi, Ciptagelar dan Cisitu. Masyarakat kasepuhan masih memiliki susunan organisasi secara adat yang terpisah dari struktur organisasi pemerintahan formal (desa).

Berdasarkan wilayah hidupnya, masyarakat Kasepuhan Banten Kidul tersebar di Banten, Sukabumi dan Bogor. Di daerah Banten Selatan (Banten Kidul) warga Kasepuhan (incu putu) bermukim di sekitar Kecamatan Bayah yang antara lain terkonsentrasi di kampung Tegal Lumbu, Cicarucub, Cisungsang, Cicemet, Sirnagalih dan banyak lagi perkampungan tersebar di sekitar Desa Mekarsari, Sirnagalih, Sukamulya, Neglasari, Hergamanah, Warung Banten, Cihambali, Cikuda dan Citorek. Di Kecamatan Jasinga antara lain tersebar di sekitar kampung Gajrug, Sajira, Guradog dan berbagai kampung lain di sekitar wilayah tersebut. Di daerah Bogor Selatan, mereka bermukim di sekitar Kecamatan Cigudeg tepatnya di kampung Urug, Pabuaran dan Cipatat Kolot di wilayah Desa Kiara Pandak. Di daerah Sukabumi Selatan mereka tersebar di sekitar wilayah pedalaman Kecamatan Cisolok dan sepanjang sungai Cibareno Girang (Adimihardja, 1992). Selebihnya adalah daerah-daerah yang ditempati oleh urang sunda asli bukan Kasepuhan dan Baduy (masyarakat lokal).

Berdasarkan fungsi yang harus dijalankan dari tatali piranti karuhun, sebaran Masyarakat Kasepuhan tersebut, Kasepuhan Sinaresmi, Ciptagelar, Cisungsang, Cisitu, Cicarucup, Citorek dan Bayah merupakan kelompok Kasepuhan utama. Salah satu indikasi yang menunjukan tentang ”keutamaan” kelompok Kasepuhan tersebut adalah banyaknya perwalian. Sebagai contoh Kasepuhan Ciptagelar – dulu dikenal sebagai Kasepuhan Ciptarasa – membawahi 560 perwalian Kasepuhan dari tiap-tiap desa di tiga kabupaten (Lebak, Sukabumi dan Bogor). Selain dari Bogor, Sukabumi dan Lebak, pengikut kasepuhan juga berasal dari beberapa daerah lain. Banyak tidaknya pengikut dalam suatu kelompok Kasepuhan sangat mungkin juga dipengaruhi oleh kebiasaan berpindahnya kampung gede Kasepuhan (sebagai pusat orientasi sosio-kultural dan politik Masyarakat Kasepuhan) tersebut.

Bahasa yang umum digunakan oleh masyarakat lokal adalah bahasa Sunda dan mayoritas penduduknya beragama Islam walau masih terdapat yang menganut kepercayaan lama (sunda wiwitan). Masyarakat kasepuhan di TNGHS merupakan bagian dari warisan budaya nasional. Mereka masih memegang teguh adat kebudayaan nenek moyangnya terlihat dalam keseragaman kehidupan sehari-hari, arsitektur rumah, sistem pertanian dan interaksi dengan hutan.

Masyarakat setempat memanfaatkan hutan dan lahan sekitarnya dalam berbagai cara, yaitu seperti huma/ladang (swidden cultivation), sawah (rice growing), kebun (garden), kebuntalun (mixed garden) dan talon (mixed forest).  Masyarakat memiliki kearifan tradisional yang sifatnya tutun temurun dalam pemanfaatan dan konservasi hutan, melalui pembagian wilayah berhutan berdasarkan intensitas pemanfaatan dan tingkat perlindungannya yaitu adanya ‘leuweung titipan’ (protected forest), ‘leuweung tutupan’ (conservation forest), atau ‘leuweung sampalan’ (opened forest). Mereka masih memiliki interaksi yang kuat dengan hutan sekitarnya. Masyarakat juga memiliki pengetahuan etnobotani dan menggunakan tanaman atau tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka berdasarkan pengetahuan tersebut, serta mempertahankan pola pertanian yang mampu melestarikan sumberdaya genetik padi (Oryza sativa) lokal. Pada saat ini sebagian anggota Masyarakat Kasepuhan mulai meninggalkan kearifan tradisional yang mereka miliki akibat dinamika proses sosial yang terjadi.

Source: www.halimunsalak.org

KASEPUHAN SINAR RESMI


KASEPUHAN SINAR RESMI

Kesepuhan Sinar Resmi terletak di Desa Sirna Resmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi yang terletak diantara perbatasan Provinsi Jawa Barat dan Banten. Dengan begitu termasuk kategori daerah Adat yang di kenal dengan sebutan “Kesatuan Adat Banten Kidul Kasepuhan Sinar Resmi“. 

Komunitas Adat ini meliputi tiga Kabupaten yaitu : 

  1. Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa barat) 
  2. Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa barat) 
  3. Kabupaten Lebak (Provinsi Banten) 

Seiring dengan perkembangan zaman dan laju pertumbuhan di segala bidang dan menyikapi hal tersebut, maka salah satu program prioritas di lingkungan Kesatuan Adat Banten Kidul mengadakan Acara Ritual Adat Seren Taun yang merupakan sikap responsif terhadap aspirasi masyarkat adat disekitar Kasepuhan Sinar Resmi, sebagai bukti peran aktif dalam rangka upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menghormati warisan leluhur yaitu dengan cara Mempertahankan dan melestarikan ciri Adat Kebudayaannya. 

Landasan dasar Adat tidak lepas dari dukungan program premarital daerah atau pusat yang patut di kembangkan di bidang :
  •  Mempererat Tali Persaudaraan ·
  •  Kesadaran Pendidikan Keagamaan · 
  •  Pendidikan Budi Pekerti · 
  •  Mempertahankan Adat dan Budayanya 
Dengan upaya maksimal Kasepuhan Sinar Resmi bersama para donatur dari berbagai kalangan masyarakat, berharap mudah-mudahan program Acara Ritual Adat Seren Taun ini dapat terselengara sesuai dengan sebagaimana mestinya. 


LATAR BELAKANG KASEPUHAN SINAR RESMI 

Negara Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam suku yang tersebar di seluruh Idonesia. Masing-masing suku memiliki kebudayaan yang berbeda dari sabang sampai merauke. oleh karena itu, negara ini memiliki keragaman budaya yang tinggi. Melalui keragaman budaya inilah yang menjadikan suatu i9dentitas bangsa yang harus dipertahanakan dan di lestarikan. Dari waktu, dan terjangan pada era globalisasi semakin meningkat, ini menyebabkan banyaknya pengaruh asing yang masuk yang sulit terbendung dan pengaruh globalisasi yang begitu kuat dapay mengakibatkan lunturnya kebudayaan yang dimiliki oleh suatu daerah yang ada di Indonesia. Namun dengan adanya keyakinan untuk mempertahankan suatu kebudayaan maka kebudayaan tersebut tetap terpelihara dan terlestarikan. keyakinan inilah yang dimiliki leh suatu komunitas yang berupaya mempertahankan dan melestarikan serta memelihara kebudayaan yang disebut dengan komunitas adat. 

Komunitas adat adalah komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul leluhur di atas wilayah adat yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakat. Salah satu komunitas adat yang ada di Indonesia dan sampai saat ini masih tetap memegang teguh aturan-aturan adat yang menyertainya yaitu komunitas adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok,Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi adalah suatu komunitas dengan segala kearifan lokalnya yang dalam kesehariannya, menjalankan sosial budaya tradisional yang mengacu pada karakteristik budaya Sunda pada abad ke-18. Kasepuhan Sinar Resmi merupakan satu dari sebelas kasepuhan yang berada di wilayah Banten Selatan. Komunitas ini hidup secara turun temurun dari generasi ke generasi, jati diri inilah yang masih dipelihara dan diperkuat sebagai perwujudan rasa syukur dan penghormatan kepada para leluhur yang lahir dari sebuah proses sejarah yang tidak terputus dalam perjalanan masa untuk terus menegakan martabat beserta hak asal-usul sebagai identitas budaya dan warisan budaya nasional. Dengan sistem yang diwariskan para leluhur, masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi menata seluruh kehidupannya baik sebagai individu maupun sebagai kelompok sosial dan religius yang khas, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sistem-sistem inilah yang dipertahankan dan diperjuangkan sebagai sumber semangat hidup yang tekandung dalam sistem adat yang masih dibudayakan dan dilestarikan.


DASAR PEMIKIRAN

Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi tidak pernah terlepas dari filosofi-filosofi hidup yang sudah menjadi satu jiwa pada diri masyarakat adat kasepuhan sendiri.Filosofi inilah yang menjadi pedoman hidup masyarakat. dalam kehidupan bermasyarakat, basis dari hukum adat kasepuhan adalah filosofi hidup, “tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh”, yang secara harfiah artinya ‘tiga se wajah, dua se rupa, satu yang itu juga”.Tata nilai ini mengandung pengertian bahwa hidup hanya dapat berlangsung dengan baik dan tenteram bila dipenuhi tiga syarat, yaitu :

  1. (tekad, ucap dan lampah, (niat atau pemikiran, ucapan dan tindakan) harus selaras dan dapat dipertanggung jawabkan kepada incu-putu (keturunan warga kasepuhan) dan sesepuh (para orang tua dan nenek moyang)
  2. jiwa, raga dan perilaku, harus selaras dan berahlak
  3. kepercayaan adat sara, nagara, dan mokaha harus selaras, harmonis dan tidak bertentangan satu dengan lainnya. Selain pedoman dalam bersosialisasi antar masyarakat, masyarakat kasepuhan memiliki interaksi dengan alam. Melalui filosofi “Ibu bumi, bapak langit, tanah ratu” yang intinya dalam kehidupannya, masyarakat harus menjaga keutuhan bumi beserta segala isinya sehingga keseimbangan alam pun tetap terjaga. Berdasarkan filosofii-filosofi inilah masyarakat kasepuhan memiliki keyakinan untuk terus menjaga apa yang sudah diwariskan oleh para leluhurnya, baik menjaga hubungan dengan manusia lain dan menjaga hubungan dengan alam. Salah satu warisan leluhur yang masih diterapkan dalam kehidupan masyarakat kasepuhan adalah sistem pertanian ladang/huma (rurukan) dan sawah yang dilakukan satu kali dalam satu tahun. Sistem pertanian ini tidak sekedar sebuah kegiatan pertanian yang secara umum menuju pada produktivitas, namun sistem pertanian di masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi lebih berorientasi pada suatu interaksi yang kuat antar masyarakat dengan Tuhan, masyarakat dengan masyarakat serta masyarakat dengan alam. Dalam pengelolaan sistem pertanian, mulai dari mempersiapkan lahan sampai pada mengistirahatkan lahan kembali selalu diikuti dengan rangkaian upacara atau ritual adat yang menyertainya yang sudah diwariskan oleh para leluhur. 

 TUJUAN 
  1. Mempertahankan dan memelihara adat istiadat warisan dari para leluhur. 
  2. Mempererat persatuan dan kesatuan antar masyarakat adat, masyarakat non adat, dan pemerintah. 
  3. Melestarikan salah satu budaya dari keberagaman budaya Indonesia 

HARAPAN 

Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi sebagai suatu komunitas yang tidak lepas dari tradisi adat yang menyertainya dalam hal ini secara tidak langsung memiliki peran yang cukup berpengaruh dalam menjaga keutuhan budaya Indonesia yakni melalui sistem pertanian tradisional dan kegiatan-kegiatan adat lainnya. Oleh karena itu, diperlukan perhatian penuh dari pemerintah sebagai salah satu aktor yang ikut berpartisipasi dalam mendukung keberlanjutan dan pemeliharaan adat yang sudah ada sejak dulu sampai sekarang.

DESKRIPSI KEGIATAN 

Ritual-ritual adat yang dilakukan di Kasepuhan Sinar Resmi dilakukan secara rutin dan berulang, dalam jangka bulanan dan tahunan. Ritual bulanan yang dilakukan adalah opatbelasna, yang dilakukan setiap bulan. Ritual tahunan terkait dengan sistem pertanian, prosesi pertanian sawah dan ladang, Sedekah Ruwah dan Mulud, Prah-prahan, Nyimur, Beberes Bengkong, serta upacara Seren Taun yang dilakukan setahun sekali.

Selayang Pandang Kasepuhan Sinar resmi


Selayang Pandang Kasepuhan Sinarresmi

Kesepuhan Sinar Resmi terletak di Desa Sirna Resmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi yang terletak diantara perbatasan Provinsi Jawa Barat dan Banten.
Dengan begitu termasuk kategori daerah adat yang di kenal dengan sebutan “Kesatuan Adat Banten kidul Kasepuhan Sinar Resmi“.

Komunitas Adat ini meliputi tiga Kabupaten yaitu :

  1. Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa barat)
  2. Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa barat)
  3. Kabupaten Lebak (Provinsi Banten)

Seiring perkembangan zaman dan laju pertumbuhan di segala bidang menyikapi hal tersebut, maka salah satu program prioritas di lingkungan Kesatuan Adat Banten Kidul mengadakan Acara Ritual Adat Seren Taun yang merupakan sikap responsif terhadap aspirasi masyarkat disekitar Kasepuhan Sinar Resmi, sebagai bukti peran aktif dalam rangka upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menghormati warisan leluhur yaitu dengan cara Mempertahankan ciri adat kebudayaannya.

Landasan  dasar Adat tidak lepas dari dukungan program premarital daerah atau pusat yang patut di kembangkan di bidang :

  • Pendidikan Budi Pekerti
  • Kesadaran Pendidikan Keagamaan
  • Mempererat Tali Persaudaraan
  • Mempertahankan Adat dan Budayanya
Negara Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam suku yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Masing-masing suku memiliki kebudayaan yang berbeda dari Sabang sampai Merauke. Oleh karena itu, negara ini memiliki keragaman budaya yang tinggi. Melalui keragaman budaya inilah, yang menjadikan suatu identitas bangsa yang harus dipertahankan dan dipelihara. Dari waktu ke waktu, terjangan pada era globalisasi semakin meningkat, ini menyebabkan banyaknya pengaruh asing yang masuk yang sulit terbendung. Pengaruh globalisasi yang begitu kuat dapat mengakibatkan lunturnya kebudayaan yang dimiliki oleh suatu daerah di Indonesia. Namun, dengan adanya keyakinan untuk mempertahankan suatu kebudayaan maka kebudayaan tersebut akan tetap terpelihara. Keyakinan inilah yang dimiliki oleh suatu komunitas yang berupaya untuk mempertahankan dan memelihara kebudayaannya yang disebut dengan komunitas adat.

Komunitas adat adalah komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul leluhur di atas wilayah adat yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakat. Salah satu komunitas adat yang ada di Indonesia dan sampai saat ini masih tetap memegang teguh aturan-aturan adat yang menyertainya yaitu komunitas adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi adalah suatu komunitas dengan segala kearifan lokalnya  yang dalam kesehariannya, menjalankan sosio budaya tradisional yang mengacu pada karakteristik budaya Sunda pada abad ke-18. Kasepuhan Sinar Resmi merupakan satu dari sebelas kasepuhan yang berada di wilayah Banten Selatan. Komunitas ini hidup secara turun temurun dari generasi ke generasi, jati diri inilah yang masih dipelihara dan diperkuat sebagai perwujudan rasa syukur dan penghormatan kepada para leluhur yang lahir dari sebuah proses sejarah yang tidak terputus dalam perjalanan masa untuk terus menegakan martabat beserta hak asal-usul sebagai identitas budaya dan warisan budaya nasional. Dengan sistem yang diwariskan para leluhur, masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi menata seluruh kehidupannya baik sebagai individu maupun sebagai kelompok sosial  dan religius yang khas, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sistem-sistem inilah yang dipertahankan dan diperjuangkan sebagai sumber semangat hidup yang tekandung dalam sistem adat yang masih dibudayakan dan dilestarikan.


Dasar Pemikiran
Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi tidak pernah terlepas dari filosofi-filosofi hidup yang sudah menjadi satu jiwa pada diri masyarakat kasepuhan sendiri. Filosofi inilah yang menjadi pedoman hidup masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, basis dari hukum adat kasepuhan adalah filosofi hidup, “tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh”, yang secara harfiah artinya ‘tiga se wajah, dua se rupa, satu yang itu juga”.  Tata  nilai  ini  mengandung  pengertian  bahwa  hidup  hanya  dapat  berlangsung dengan baik dan tenteram bila dipenuhi tiga syarat,  yaitu (1)  tekad, ucap dan lampah, (niat  atau  pemikiran,  ucapan  dan  tindakan)  harus  selaras  dan  dapat  dipertanggung jawabkan kepada  incu-putu (keturunan warga kasepuhan) dan  sesepuh (para orang tua dan  nenek  moyang);  (2)  jiwa,  raga  dan  perilaku,  harus  selaras  dan  berahlak;  (3) kepercayaan adat sara, nagara, dan mokaha harus selaras, harmonis dan tidak bertentangan satu dengan lainnya. Selain pedoman dalam bersosialisasi antar masyarakat, masyarakat kasepuhan memiliki interaksi dengan alam. Melalui filosofi “Ibu bumi, bapak langit, tanah ratu” yang intinya dalam kehidupannya, masyarakat harus menjaga keutuhan bumi beserta segala isinya sehingga keseimbangan alam pun tetap terjaga.

Berdasarkan filosofii-filosofi inilah masyarakat kasepuhan memiliki keyakinan untuk terus menjaga apa yang sudah diwariskan oleh para leluhurnya, baik menjaga hubungan dengan manusia lain dan menjaga hubungan dengan alam. Salah satu warisan leluhur yang masih diterapkan dalam kehidupan masyarakat kasepuhan adalah sistem pertanian ladang/huma (rurukan) dan sawah yang dilakukan satu kali dalam satu tahun. Sistem pertanian ini tidak sekedar sebuah kegiatan pertanian yang secara umum menuju pada produktivitas, namun sistem pertanian di masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi lebih berorientasi pada suatu interaksi yang kuat antar masyarakat dengan Tuhan, masyarakat dengan masyarakat serta masyarakat dengan alam.  Dalam pengelolaan sistem pertanian, mulai dari mempersiapkan lahan sampai pada mengistirahatkan lahan kembali selalu diikuti dengan rangkaian upacara atau ritual adat yang menyertainya yang sudah diwariskan oleh para leluhur.


Tujuan

  1. Mempertahankan dan memelihara adat istiadat warisan dari para leluhur.
  2. Mempererat persatuan dan kesatuan antar masyarakat adat, masyarakat non adat, dan  pemerintah.
  3. Melestarikan salah satu budaya dari keberagaman budaya Indonesia
Harapan
Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi sebagai suatu komunitas yang tidak lepas dari tradisi adat yang menyertainya dalam hal ini secara tidak langsung memiliki peran yang cukup berpengaruh dalam menjaga keutuhan budaya Indonesia yakni melalui sistem pertanian tradisional dan kegiatan-kegiatan adat lainnya. Oleh karena itu, diperlukan perhatian penuh dari pemerintah sebagai salah satu aktor yang ikut berpartisipasi dalam mendukung keberlanjutan dan pemeliharaan  adat yang sudah ada sejak dulu sampai sekarang.

Keluaran
Keluaran yang diharapkan dari terlaksananya ritual-ritual adat ini adalah kebudayaan lokal yang tetap utuh dan terjaga. Selain itu, pihak Kasepuhan Sinar Resmi dapat melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, baik masyarakat adat lainnya, masyarakat non-adat, akademisi dan pemerintah dalam melestarikan dan memelihara kebudayaan lokal.

DESKRIPSI KEGIATAN
Ritual-ritual adat yang dilakukan di Kasepuhan Sinar Resmi dilakukan secara rutin dan berulang, dalam jangka bulanan dan tahunan. Ritual bulanan yang dilakukan adalah opatbelasna, yang dilakukan setiap bulan. Ritual tahunan terkait dengan sistem pertanian, prosesi pertanian sawah dan ladang, Sedekah Ruwah dan Mulud, Prah-prahan, Nyimur, Beberes Bengkong,  serta upacara Seren Taun yang dilakukan setahun sekali.

Ritual Opatbelasna
Ritual ini dilakukan setiap tanggal 13 malam 14 dalam kalender Islam/Bulan Saka atau saat bulan purnama muncul. Ritual ini dilakukan untuk selamatan bulanan. Ritual ini dihadiri oleh Panghulu yang memimpin doa dan disaksikan oleh para kolot lembur. Dalam acara ini juga berbagai macam hidangan antara lain kue-kue seperti papais, awug, dan pasung yang dibuat oleh ibu-ibu. Pada malam harinya sebelum selamatan dimulai pada pukul 12 malam, ibu-ibu membuat rurujakan sembilan rupa diantaranya cau emas, anggur, jeruk, nanas, tomat, kelapa, pepaya, buah asam dan curing.

Prosesi untuk Pertanian Ladang (Huma) dan Sawah
Sistem pertanian di Kasepuhan Sinar Resmi terbagi dalam pertanian ladang (huma) dan sawah. Keduanya memiliki perbedaan dalam prosesi pelaksanaannya mulai dari mempersiapkan lahan untuk digarap hingga mengistirahatkan lahan yang telah digunakan.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pertanian ladang
Kegiatan
Bulan
(Sistem Kalender Islam)
Pelaksana *)
Narawas
(menandai lokasi yang akan dijadikan lahan huma)
Jumadil awal
Lk
Nyacar
(membersihkan lahan, biasanya selama 1 minggu setelah itu di keringkan selama 15 hari – 1 bulan)
Jumadil awal
Lk, Pr, P
Ngahuru
(membakar semak kering untuk dijadikan pupuk)
Jumadil akhir
Lk
Ngerukan
(mengumpulkan sisa-sisa yang belum terbakar )
Jumadil akhir
Lk, Pr, P
Ngaduruk
(membakar sisa-sisanya)
Jumadil akhir
Lk, Pr
Nyara
(meremahkan tanah)
Jumadil akhir
Lk, Pr, P
Ngaseuk
(penanaman bibit padi dengan menggunakan tongkat atau aseuk)
Rajab
Lk, Pr, P
Ngored
(menyiangi rumput)
Ruwah
Lk, Pr, P
Mipit/ Dibuat
(memotong padi/ panen)
Haji
Lk, Pr
Ngadamel lantayan
(membuat tempat menjemur padi)
Haji
Lk
Ngalantaykeun
(proses menjemur padi pada lantayan)
Haji
Lk, Pr
Mocong
(mengikat padi yang kering)
Muharam
Lk, Pr, P
Ngunjal
(diangkut ke lumbung padi)
Muharam
Lk
Ngaleuitkeun
(memasukkan ke lumbung)
Muharam
Lk, Pr
Ngeuleupkeun
(dirapikan)
Muharam
Lk
Ngadieukeun indung pare
(menyimpan padi di dalam leuit)
Muharam
Lk
Selametan
(ampih pare)
Muharam
Lk, Pr, P



Dari 17 prosesi di atas, lima kegiatan utama yang harus dilakukan antara lain :

  • Ngaseuk : dimulainya kegiatan menanam padi dengan memasukkan benih ke dalam lubang aseuk.
  • Beberes Mager: ritual untuk menjaga padi dari serangan h`              ama. Kegiatan ini dilakukan oleh pemburu di ladang Abah (ladang milik kasepuhan) dengan membaca doa. Kegiatan ini dilaksanakan sekitar bulan Muharam.
  • Ngarawunan : ritual untuk meminta isi padi agar tumbuh dengan subur, sempurna dan tidak ada gangguan. Kegiatan ini dilakukan oleh semua incu putu untuk meminta doa kepada abah melalui bagian pamakayaan. Ngasrawunan dilakukan setelah padi berumur tiga bulan sampai empat bulan.
  • Mipit: kegiatan memanen padi yang dilakukan lebih dulu oleh Abah sebagai pertanda masuknya musim panen.
  • Nutu: kegiatan menumbuk padi pertama hasil panen.
  • Nganyaran: memasak nasi menggunakan padi hasil panen pertama, dua bulan setelah masa panen.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pertanian sawah
Kegiatan
Bulan
(Sistem Kalender Islam)
Pelaksana*)
Numpang galeng
(membuat pematang)
Muharam
Lk, P
Ngabaladah
(menyiangi lahan)
Silih mulud
Lk, P
Ngambangkeun
(mengisi lahan dengan air / merendam)
Jumadil awal
Lk, P
Ngangler
(membersihkan permukaan lahan dari gulma yang tumbuh sebagai persiapan untuk tebar)
Ruwah
Lk, Pr, P
Tebar/ ngipuk
(membuat persemaian padi dengan cara menebar untaian padi)
Jumadil akhir
Lk, Pr
Tandur
(menanam padi)
Ruwah
Lk,, Pr, P
Ngarambet
(membersihkan gulma yang ada di sawah)
Puasa
Pr
Babad galeng
(membersihkan rumput di pematang sawah)
Syawal
Lk, Pr,P
Dibuat ku etem/ neugel
(panen padi dengan alat etem / ani-ani)
Haji
Lk, Pr, P
Ngadamel lantayan
(membuat tempat jemuran padi)
Haji
Lk
Ngalantay
(menjemur padi di lantayan)
Haji
Lk
Mocong pare
(mengikat padi menjadi pocong)
Sapar
Lk, Pr, P
Diangkut ka leuit/ ngunjal
(mengangkut padi ke leuit/ lumbung)
Sapar
Lk
Ngaleuitkeun
(memasukkan ke leuit/ lumbung)
Sapar
Lk
Dieulep di leuit
(merapikan padi di dalam leuit/ lumbung)
Sapar
Lk, Pr
Ngadiukkeun indung
(memasukan padi induk ke dalam leuit)
Sapar
Lk, Pr
Disalametan nganyaran
(selamatan sebagai tanda syukur dengan memasak padi pertama kali)
Silih mulud
Pr

Keterangan *):
Lk        : laki-laki
Pr         : perempuan
P          : Pemuda/pemudi

Setelah semua kegiatan pertanian selesai, diadakan kegiatan Tutup Nyambut yang menandakan selesainya semua aktivitas pertanian di sawah ditandai dengan acara selametan. Salah satu rangkaian kegiatan pertanian penting mengenai sistem pertanian sawah yang utama setelah upacara Seren Taun adalah Turun Nyambut. Kegiatan Turun Nyambut  merupakan pertanda dimulainya masa untuk membajak sawah dan mempersiapkan lahan untuk ditanami padi kembali.

Seren Taun
Upacara ini dilakukan untuk mensyukuri hasil panen pada tahun tersebut dan sebagai hiburan untuk masyarakat yang telah bekerja selama satu tahun dalam pertanian. Rangkaian acara dimulai dengan musyawarah terlebih dahulu dengan melibatkan seluruh incu putu untuk menentukan besarnya anggaran yang dibutuhkan. Setelah  musyawarah selesai, dilakukan serah ponggokan. Para kolot lembur (kepala kampung/dusun)  dan kepala ranggeyan berkumpul untuk mendiskusikan besarnya biaya yang ditanggung per orang untuk biaya seren taun untuk diserahkan kepada Abah. Setelah serah ponggokan Abah melakukan ziarah ke karamat (astana) leluhurnya mulai dari Abah Udjat, makam Abah Ardjo, Uyut Rusdi, Uyut Jasiun, makam yang di Tegal Lumbu, makam yang di Pasir Talaga, Makam yang di Lebak Binong, Makam yang di Lebak Larang,  hingga makam leluhurnya di Cipatat, Bogor.

Rangkaian kegiatan upacara seren taun


  1. Mempersiapkan peralatan upacara yang terdiri dari: padi, orang yang membawa padi di bakul, orang yang membawa bunga tujuh macam bunga, orang yang membawa bokor (seupaheun), putri tujuh (orang yang mengiringi orang yang membawa padi), dan diiringi oleh para sesepuh kampung, dan kesenian diantaranya : rengkong, dogdog lojor, jipeng, debus, tari tani, gondang buhun dan kidung buhun.
  2. Untuk perjalanan ampih pare ka leuit, seluruh kegiatan diatur oleh Lengser.
  3. Ketika sampai di leuit, pemimpin doa mulai membaca doa, setelah doa selesai padi dimasukkan ke dalam leuit yang didahului oleh Abah dan Ambu sebagai pimpinan adat.
  4. Setelah dari leuit, seluruh tamu undangan dan para sesepuh mengadakan Nyoreang Alam ka Tukang Nyawang anu Bakal Datang (melaporkan hasil dan kegiatan-kegiatan yang sudah dikerjakan dan merencanakan kegiatan-kegiatan ke depan).
  5. Acara hiburan, mulai dari kesenian gondang gogonjakan, kesenian debus, jaipongan, dan wayang golek.
Sedekah Ruwah dan Sedekah Mulud
Sedekah Mulud merupakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kegiatan yang dilakukan adalah pembacaan doa untuk selametan dan membagikan makanan kepada warga. Sebelum memasak makanan, para ibu harus membersihkan rambut dan badan (diangir mandi) menggunakan beuleum sapu pare, serta alat-alat yang digunakan untuk memasak seperti dulang, kukusan, hihid, pangarih, dandang/ seeng, kuluwung, dan aseupan, harus dicuci bersih sebelum digunakan. Kemudian, para ibu mulai memasak nasi untuk dibawa ke rumah panghulu untuk selametan dan dibagikan kepada warga. Sedekah Mulud dilakukan pada hari Rabu.

Sedekah Ruwah merupakan peringatan hari wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kegiatan sedekah Ruwah, sama dengan kegiatan Sedekah Mulud. Namun, sedekah Ruwah dilaksanakan pada hari Jumat.

Prah-prahan
Prah-prahan merupakan kegiatan menjaga dan menghindarkan segala penyakit (tolak bala) yang dilakukan pada pada Bulan Safar dalam kalender Islam. Semua warga dan incu putu ditandai oleh ketupat dan tangtang angin baik di rumah maupun di kandang ternak.

Nyimur
Nyimur merupakan ritual dimana seluruh balita (usia 0-5 tahun) dikumpulkan untuk diteteskan (peureuh) air kembang ke dalam mata. Acara ini dilaksanakan  di rumah dukun pada Bulan Silih Mulud.

Beberes Bengkong  Kegiatan sesudah mengkhitankan semua incu putu baik laki-laki maupun perempuan.

Untuk perempuan sekitar usia 2 atau 3 tahun sedangkan untuk laki-laki sekitar usia 5 sampai 7 tahun. Setelah selesai khitan, yang mempunyai hajat memberikan beras dan uang ke bengkong sebagai parawanten. Kemudian bengkong (orang yang mengkhitankan laki-laki) dan ema’ berang (orang yang mengkhitankan perempuan) membuat nasi tumpeng yang akan diserahkan ke rumah Abah.

PELAKSANA DAN PESERTA KEGIATAN
Kegiatan ritual adat dilaksanakan oleh seluruh masyarakat adat kasepuhan. Kegiatan dibuka oleh abah sebagai pimpinan adat dan dipimpin oleh Panghulu yang membacakan doa-doa. Khusus untuk kegiatan Seren Taun, kegiatan ini dihadiri tidak hanya oleh masyarakat adat kasepuhan Sinar Resmi, melainkan oleh tamu undangan mulai dari pemerintah sampai masyarakat di luar masyarakat adat yang biasanya berasal dari Jakarta, Bandung, Bogor, Sukabumi, dan sekitarnya. Peserta kegiatan Seren Taun  bisa mencapai 3000 orang tiap tahunnya.